Rumahnya akan ditenggelamkan

Satu-satunya tempat yang menjadi koridor perpindahan gajah dari Utara ke Selatan di Tampur, Sumatera Utara itu akan hilang. Kemana gajah-gajah itu bisa bermigrasi? Padahal habitat mereka juga terancam rusak dan tergenang karena sebuah mega proyek PLTA yang sebentar lagi akan dibangun. Sudah kehilangan tempat tinggal, berpindah pun tak mungkin.

Padahal mereka bukan makhluk hidup tanpa perasaan. Mereka justru salah satu binatang yang memiliki kasih sayang dan empati yang sangat tinggi. Penelitian menemukan bahwa gajah selalu bisa merasakan jika ada gajah lain yang sedang bersedih, ketakutan, atau butuh pertolongan. Sampai jika ada gajah yang sedang bersedih atau ketakutan, mereka akan bersama-sama mendatanginya, berjalan-jalan melingkarinya, mengibaskan belalainya, dan mengeluarkan suara kasih sayang seakan mengatakan, “I’ll be there for you, cause you’re there for me too.”

Apalagi jika ada anggota kelompoknya mati. Mereka bisa duduk menangis di samping gajah yang tak bernyawa selama berminggu-minggu. Bagaimana perasaan mereka jika habitatnya dirusak dan akhirnya banyak yang mati kelaparan?

Tak hanya rasa empati dan kepedulian tinggi, mereka juga dikenal memiliki daya ingat tinggi. Sebuah penelitian menemukan kawanan yang dipimpin gajah betina tua langsung meninggalkan daerah kekeringan untuk mencari air dan banyak anggota kawanannya selamat. Dari hal tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa gajah betina tersebut ingat kejadian kekeringan yang pernah terjadi dan tahu apa yang harus dilakukan. Bagaimana paniknya mereka jika tak bisa berpindah ke tempat yang lebih baik?

Di Hari Binatang Sedunia ini kita diingatkan bahwa tidak ada kehidupan yang lebih penting dari yang lain. Kehidupan manusia penting, begitu pula kehidupan makhluk hidup lainnya seperti gajah. Pembangunan untuk kesejahteraan rakyat seperti PLTA itu penting. Namun seharusnya tidak mematikan kehidupan lainnya. Pasti ada jalan lain yang dapat mensejahterakan seluruh kehidupan di bumi ini.

The world is cruel. But you don’t have to be,” kata Temple Grandin. Dunia ini sungguh kejam, tetapi kita tidak harus turut menjadi kejam. Bantu gajah-gajah kita hidup tenang di Tampur dengan minimal menjadi penandatangan dan penyebar petisi di bawah ini.

Genevieva Misiatini Oetomo

download.jpeg

20 tahun yang lalu saat anaknya, Bimo Petrus, izin meninggalkan kuliahnya di Surabaya untuk menjadi mahasiswa dan aktivis di Jakarta, Ibu Misiati terus melarangnya. Namun suaminya, Pak Oetomo Raharjo (Tomo), justru memberi izin.

"Kalo itu pilihanmu, baik dan benar, berangkatlah kamu. Selama imanmu masih jernih, sekecil apapun kamu, pasti diselamatkan oleh Tuhan," pesan Pak Tomo saat Bimo pamit. Pak Tomo bermaksud memberikan dukungan moral, doa dan semangat untuk perjuangan Bimo. Untuk perubahan yang Bimo inginkan di negeri ini. Sebaliknya, Ibu Misiati terus menahan Bimo agar tidak pergi. Tetapi Bimo tetap pergi dan tak pernah kembali.

Perubahan besar itu terjadi, membawa kebaikkan dan kemewahan untuk negeri ini. Kita semua sedang menikmati kemewahan itu, seperti kebebasan mengkritik pemerintah atau sesederhana menulis di wall Facebook kita ini tanpa rasa takut. Sayangnya, kita harus mengorbankan Bimo dan teman-teman seperjuangan Bimo. Bahkan kita harus mengorbankan para orang tua yang kehilangan anak tersayang mereka. "Separuh usiaku untuk membesarkan anakku. Separuh jiwaku terus sepi menunggu dia kembali..." kata Ibu Misiati di sela-sela perjuangannya mendapatkan anaknya kembali.

Hari ini Ibu Misiati telah berpulang. Ia tidak perlu lagi berjuang dan menunggu anaknya kembali. Ia sedang memeluknya, melepas rindu dan bercerita betapa selama ini jiwanya terus sepi menunggunya kembali.

Selamat jalan Ibu Misiati. Terima kasih telah membesarkan anak yang mampu mengubah negri ini menjadi jauh lebih baik. Terima kasih atas perjuangannya mendapatkan keadilan selama 20 ini. Selamat beristirahat, biarkan kami yang meneruskan perjuanganmu ini.

Baca juga: "Ayah Bimo Petrus: Saya Bangga Punya Anak Seperti Bimo"

Kesenjangan Sosial Dampak dari Keterbatasan Informasi

Photo Credit: Beritagar

Kita semua sangat yakin bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya raya untuk dapat mensejahterakan setiap penduduknya, setiap individunya. Masalahnya hanya ketidakmampuan pemerintah dalam memeratakan kesejahteraan sehingga menyebabkan kesenjangan itu terjadi. Dan ketidakmampuan ini berawal dari keterbatasan rakyat menerima informasi.

Pada dasarnya, rakyat dapat sejahtera dimulai dari kemampuannya mengetahui hak-haknya. Sekali rakyat tahu mengenai hak-haknya dan percaya diri untuk memperjuangkannya, maka cepat atau lambat kesejahteraan akan mereka dapatkan. Tetapi jika rakyat tidak memiliki informasi apapun, tidak tahu bahwa mereka memiliki hak, tidak tahu apa yang sedang pemerintah rencanakan untuknya, maka rakyat tidak akan menyuarakan pendapat dan kebutuhannya. Pada akhirnya mereka tidak mendapatkan yang mereka butuhkan dan tidak akan sejahtera. Jadi, bagaimana pemerintah selama ini memberikan informasi kepada rakyatnya?

Zaman Diam dan Menunggu

Awalnya informasi hanya dikuasai oleh pemerintah atau para raja sehingga pengetahuan rakyat hanya bergantung pada para pemimpinnya. Pada zaman kerajaan kuno misalnya, rakyat tidak mengetahui proses rajanya memutuskan akan berperang melawan kerajaan lain? Rakyat hanya tahu saat perang itu telah terjadi. Tak hanya itu, jika rakyat tidak memiliki informasi bahwa akan terjadi perang, mereka tak bisa mempersiapkan diri untuk minimal melarikan diri dan berlindung sebelum perang terjadi. Tidak seperti sekarang, misalkan presiden akan memutuskan menerima ISIS di Indonesia. Sejak jauh hari rakyat pasti sudah mencium niat ini dan proses-prosesnya. Sehingga bagi mereka yang takut dengan ISIS, maka dapat mengambil keputusan untuk melarikan diri dari Indonesia.

Atau pada zaman Belanda, rakyat tidak tahu bahwa pemerintah akan menaikkan pajak. Tak hanya tidak mengetahui proses pemerintah memutuskan kenaikkan pajak dari jauh-jauh hari, rakyat juga tidak mendapat informasi mengenai alasannya. Rakyat hanya dapat menerima. Rakyat hanya menjadi penduduk bisu. Hanya bisa diam, menunggu, dan menerima. Tidak mengetahui apa yang sedang direncanakan sang pemimpin dan apa dampaknya dalam hidup mereka. Tidak seperti sekarang, kita selalu tahu apa yang akan terjadi sehingga kita bisa selalu mengambil keputusan atau menolak sebuah kebijakkan sebelum kebijakkan itu diputuskan.

Zaman Informasi Masih Terbatas dan Dikuasai

Ya, zaman telah berubah dan informasi tidak hanya dikuasai oleh pemerintah saja namun juga media. Pengetahuan rakyat menjadi tak hanya bergantung pada satu sumber saja. Kita jadi mengetahui siapa saja yang sedang ditemui presiden, siapa saja rekan kerja yang dipilih presiden, hingga informasi mengenai kondisi politik di negara lain. Di zaman itu kita mengira kita sudah hidup di zaman yang ideal. Bahwa rakyat akhirnya bisa mendapatkan informasi yang seluas-luasnya karena tidak dikuasai oleh pemerintah saja.

Ternyata tidak. Pada zaman yang jauh lebih modern, zaman Orde Baru, banyak rakyat tidak tahu bahwa pemerintahnya melakukan korupsi besar-besaran dan banyak melanggar hak-hak rakyatnya. Terbukti dari banyaknya orang yang mengira zaman Orde Baru jauh lebih sejahtera dan aman dari pada zaman sekarang. Hal ini disebabkan karena media pun masih dikuasai oleh tak hanya pemerintah, namun juga pengusaha. Rakyat telah diberi informasi yang salah atau terbatas, sehingga menjadi mudah untuk dipengaruhi. Seperti banyaknya pelanggaran HAM pada rezim itu, namun tak ada satu pun media yang berani memberitakannya sehingga rakyat tidak tahu kejahatan itu.

Minimnya informasi yang diterima rakyat ini menyebabkan rakyat tidak memahami bahwa sesungguhnya mereka memiliki banyak hak untuk hidup sejahtera, seperti hak untuk hidup, hak untuk pendidikan, hingga hak untuk bebas berekspresi menunjukkan pilihan politiknya. Keterbatasan informasi ini juga menyebabkan rakyat tidak tahu bahwa sesungguh mereka berhak dan sepatutnya percaya diri untuk meminta hak dan keadilan dari pemerintahnya.

Zaman Informasi Tak Mengenal Batas

Namun 20 tahun lalu mungkin kita tidak menduga, bahwa informasi akhirnya bisa dikuasai oleh kita semua, bahkan tiap-tiap individu! Internet telah membuka informasi tanpa batas. Beruntung pemerintah Indonesia tidak menutup akses itu sehingga informasi tidak dikuasainya dan media saja. Jika dahulu para korban pelanggaran HAM tidak mendapatkan panggung di media untuk mengeluhkan ketidakadilan yang menimpanya, zaman sekarang para korban dapat dengan mudah membuat akun di media sosial untuk menulis atau merekam kesaksiannya lalu menyebarkannya. Kita semua dapat menerima dan menyebarkan informasi dari tangan pertama.

Mengapa Masih Ada Kesenjangan?

Ya, lagi-lagi kita merasa bahwa kita sudah hidup di zaman yang ideal. Namun mengapa masih banyak rakyat tidak sejahtera? Kenapa kesenjangan itu masih tinggi? Mengapa banyak orang tua di Jakarta mampu menyekolahkan anak balitanya di sekolah berbiaya puluhan juga rupiah, sementara orang tua di Asmat tidak mampu memberikan air bersih untuk anak balitanya hingga meninggal sia-sia?

Sebab, walaupun informasi sudah tidak dikuasai oleh kalangan tertentu, tetapi akses informasi itu hanya dinikmati oleh segelintir orang-orang di Pulau Jawa dan kota-kota besar saja. Sisanya, mereka masih seperti hidup di zaman kerajaan kuno. Hanya mampu diam, menunggu, dan menerima. Seperti ibu-ibu di Asmat yang tidak mengetahui bahwa mereka memiliki hak untuk pergi mengobati anaknya dengan gratis. Mereka juga tidak tahu bahwa mereka bisa menyampaikan kebutuhannya ke pemerintah, mengenai kesulitan menerima pasokan makanan bergizi atau mengenai puskesmas di daerah mereka tutup akibat kecilnya gaji dokter dan perawat di sana. Informasi-informasi dari tangan pertama rakyat Papua seperti ini sangat dibutuhkan kita semua, khususnya pemerintah. Namun sayangnya, setelah banyaknya bayi meninggal di Asmat, baru pemerintah memberikan bantuan karena diungkapkan pertama kali oleh Keuskupan Agats. Sehingga jika Keuskupan Agats tidak melaporkannya, maka pemerintah tidak akan datang membantu.

Inovasi Harus Berangkat dari Niat Membangun dan Mendengarkan

Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang haus masukan. Dan jika mereka haus masukan, maka mereka akan menciptakan inovasi yang dapat memudahkan rakyatnya menyampaikan -tak hanya- masukkan, tetapi juga keluhan dan kritikan untuknya.

Di zaman di mana informasi sudah tiada batas, pemerintah seharusnya memastikan informasi tiada batas itu sampai ke setiap rakyatnya, setiap individunya. Tidak hanya untuk mereka yang hidup di kota, tetapi juga untuk mereka yang hidup di pedalaman. Minimal pastikan setiap desa memiliki gedung informasi untuk mengakses informasi.

Tak hanya itu, pastikan mereka memiliki akses untuk mengirimkan masukan, keluhan, dan kritikannya kepada pemerintah secara langsung. Buatkan sistem agar semua kiriman pasti diterima dan ditindak-lanjuti.

Jika ini semua terjadi, maka kesenjangan informasi itu tiada dan jika kesenjangan informasi tiada, maka kesenjangan kesejahteraan pun ikut tiada. Karena pemerintah dapat secara langsung menerima masukan dari rakyatnya dan akhirnya rakyat menerima apa yang dibutuhkannya.

"Saya Tak Salah, Jadi Saya Tak Kapok"

Sri Sulistyawati.jpg

(Find English translation below)

Saya menyesal setengah mati. Ingin rasanya kembali ke hari itu, tepatnya saat International Women’s Day. Saat saya menelpon rumah sakitnya dan menerima kabar baik bahwa ia sudah sehat, sudah kembali ke panti jompo tempat ia tinggal. Seharusnya saya langsung bergegas ke panti jomponya yang sangat dekat dengan kantor saya. Datang menemuinya, memeluknya, menggengam tangannya sambil mendengarkan kisahnya, mempelajari perjuangannya, meniru keberaniannya, dan akhirnya pulang untuk menulis lalu menyebarkan kisahnya. Seharusnya saya langsung menemuinya sebagai bentuk solidaritas sebagai sesama perempuan, sesama penulis. Tapi betapa tololnya saya yang selalu mengira ada hari esok. Maka hari ini - hari yang selalu saya anggap “hari esok” - pun datang. Hari ini ia meninggal.

Ia adalah korban kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia tahun 1965. Ia seorang wartawan Suluh Indonesia Muda yang dituduh memiliki hubungan dekat dengan Soekarno maupun terlibat Gerwani alias komunis. Ia dipenjara dan disiksa selama 11 tahun agar mengakui keterlibatannya. Padahal ia hanya lah seorang penulis seperti saya. Seorang penulis yang memiliki kesempatan untuk dekat dan mewawancari presiden. Namun ternyata kesempatan dan bakatnya membuat dirinya bernasib buruk. Harus melewati hidup berpindah-pindah, kehilangan suaminya yang dieksekusi, ditangkap, disiksa, dipenjara belasan tahun hanya karena menulis. Nasibnya jauh dari nasib saya yang masih disini, masih hidup tenang dalam kemewahan yang saya sebut “kebebasan berekspresi.” Dan saya - yang sangat beruntung ini - telah melewati kesempatan untuk berada di sisinya, menjadi temannya. Tak hanya sebagai pendengar, namun juga sebagai pemberi konfirmasi bahwa ia tidak sendiri dan ia tidak salah. Saya melewati kesempatan itu dan saya tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri.

Namanya Sri Sulistyawati, biasa dipanggil Eyang Sri. Hari ini Eyang Sri meninggal di usia 78 tahun. Bertahun-tahun ia berjuang mendapatkan keadilan, namun di hari ia meninggal pun ia belum juga mendapatkannya. Namun saya pun yakin Eyang Sri meninggal dengan tenang karena ia sudah berjuang. Apapun masalahnya, apapun hasilnya, jika kita sudah berusaha dan berjuang kita tidak akan menyesal. Dalam sebuah wawancara dengan CNN ia pernah berkata, “Saya tak bersalah, jadi saya tak kapok berorganinasi.” Paling tidak ia tahu ia tak bersalah dan paling tidak ia hidup dalam keberanian tanpa penyesalan. Dan itu membuat saya sedikit lega. Rest in peace, Eyang Sri. Saya berjanji akan menulis tentangmu lagi.

                                                                            ***

I regret it. I want to go back to that day, on the International Women's Day. When I called the hospital and received the good news that she was well, she just returned to the nursing home where she lived. I should have rushed to her nursing home, near my office. I should have come to her, hug her, hold her hand while listening to her story, understand her struggle, learn from her courage, and in the end write and spread her story. I should have come to her as a solidarity between women, between writers. But I am such a fool who always thought there’s always a tomorrow. So today - the day that I called ”tomorrow" - came. Today she passed away.

She is a victim of  human rights violations in 1965. She is a journalist of the Suluh Indonesia Muda who was accused of having close relations with President Sukarno and involved Gerwani or communist. She was jailed and tortured for 11 years to “confess” her involvement in 1965 tragedy. Although she was just a writer like me. A writer who has the opportunity meet and interview the president. But turned out the opportunity and her talent are a bad luck for her. She must go through a sedentary life, losing her husband who was executed, she was arrested, tortured, jailed for years just because of her writing. Her fate is far from mine, who is still here, still living in luxury I called “freedom of expression. “And I - this very lucky one - has passed the chance to be by her side, to be her friend. Not only to listen and understand her, but also to give her a confirmation that she is not alone and she did nothing wrong. I passed that opportunity and I will never forgive myself.

Her name is Sri Sulistyawati, we called her Eyang (Grandma) Sri. Today Eyang Sri died at the age of 78 years old. For years she fought for justice and even on the day she died she had not got it. But I am sure Eyang Sri died peacefully because she has tried, she stood up for herself. Whatever the case, whatever the outcome, if we have tried and fought for it, we will not regret it. In an interview with CNN she once said, "I did nothing wrong, so I am not afraid to be active in organizations again.“ At least she knows she did nothing wrong and at least she lives in courage without regret. And it made me a little relieved. Rest in peace, Eyang Sri. I promise to write about you again.

When a Boy Tried to Impress a Girl and Became a Global Movement

225035.jpg

(Find English translation below)

Ini semua dimulai di Polandia, saat seorang cowok remaja mencoba untuk mengesankan seorang cewek taksirannya. Mereka bertemu di sebuah festival dan si cewek menceritakan kepadanya tentang sebuah festival 24 jam di Afrika, di mana orang-orang bersama-sama menulis surat protes kepada pemerintah. Terinspirasi oleh kisahnya - dan ingin bertemu lagi dengan si cewek - dia mengundangnya ke grup Amnesty setempat, di mana mereka memutuskan untuk melakukan hal yang sama.

Ide itu mengesankan dan dalam setahun, Write for Rights (Menulis untuk Hak Asasi), menjadi fenomena dunia. Itu tahun 2002. Hari ini, Write for Rights adalah acara hak asasi manusia terbesar di dunia, dan untuk tujuan baik. Selama bertahun-tahun, kampanye ini telah membantu membebaskan setidaknya 48 orang yang dipenjara dengan salah. Itu artinya ada 48 kehidupan yang akhirnya diperbarui dan mendapatkan perubahan.

Yecenia Armenta (gambar di atas) adalah salah satu cerita selama 15 tahun terakhir. Dia dibebaskan dari penjara pada bulan Juni 2016. Awalnya dia ditahan pada 10 Juli 2012, dia dipukuli, mendapatkan penyiksaan hingga hampir mati lemas dan diperkosa selama 15 jam, dipaksa untuk "mengaku" terlibat dalam pembunuhan suaminya. Para pendukung Amnesty pun mengambil tindakan dengan bergabung dalam 300.000 aksi Stop Torture (Hentikan Penyiksaan) dan Write for Rights dari kami untuk Yecenia. "Ketika saya menerima semua surat ini, surat yang mengatakan bahwa saya tidak sendirian,” katanya, “Itu membuat saya merasa lebih baik. Dan saya berpikir: 'Ya, itu benar, saya tidak sendirian.'" Terima kasih kepada jutaan pendukung seperti Anda di seluruh dunia.

Terkadang sebuah surat dapat mengubah hidup seseorang. Itulah premis dari Write for Rights, kampanye penulisan surat Amnesty.

Baca cerita lainnya di: https://www.amnesty.org/…/11/15-big-wins-for-write-for-rig…/

***

It started in Poland with a young man trying to impress a young woman. He met her at a festival and she told him about 24-hour events she’d been to in Africa, where people wrote letters of protest to governments. Inspired by her story – and wanting to see her again – he invited her to his local Amnesty group where they decided to do the same thing.

The idea caught on and within a year, Write for Rights grew into a global letter-writing phenomenon. That was 2002. Today, Write for Rights is the world’s biggest human rights event, and with good cause. Over the years, the campaign has helped free at least 48 people from wrongful imprisonment. That’s 48 lives renewed and transformed.

Yecenia Armenta (pictured above) is one of the story from the last 15 years. She was freed from prison in June 2016. Detained on 10 July 2012, she was beaten, near-asphyxiated and raped during 15 hours of torture until she was forced to “confess” to being involved in her husband’s murder. Amnesty supporters took some 300,000 actions for her as part of our Stop Torture and Write for Rights campaigns. “When I receive all these letters saying that I’m not alone,” she said, “it makes me feel great. And I think: ‘Yes, it’s true, I’m not alone.” Thanks to millions of actions by people like you in almost every part of the world.

Sometimes a letter can change someone’s life. That’s the premise of Write for Rights, Amnesty’s global letter-writing campaign.

Read other stories here: https://www.amnesty.org/…/11/15-big-wins-for-write-for-rig…/

LGBT Bukan Penyakit

Bagi Anda yang masih saja seenaknya melabeli LGBT sebagai penyakit, tolong sempatkan membaca buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (terbitan Departemen Kesehatan RI dan World Health Organization PBB). Buku bisa dicari di perpustakaan universitas ternama di Indonesia, salah satunya Universitas Gadjah Mada. Bahkan ada beberapa PDF-nya jika dicari di Google. Buku yang ditulis berdasarkan temuan ilmiah (bukan sekedar pendapat tanpa bukti) mengatakan orientasi homoseksual tidak dianggap sebagai gangguan. Selain itu, buku diagnosis ini menyetarakan homoseksualitas dan biseksualitas dengan heteroseksualitas. Jadi jangan asal bicara bahwa homo itu penyakit.

Anda yang kerap melecehkan LGBT karena takut “tertular penyakit” hanya termakan isu orang-orang tak berilmu, tidak berbicara sesuai fakta. Jika Anda tidak terlahir memiliki orientasi seksual LGBT, Anda tidak akan pernah terpengaruh menjadi LGBT. Anda siapa bisa mencap orang lain gila atau berpenyakit butuh diobati jika Anda bukan seorang dokter penyakit jiwa atau psikolog? Jika Anda seorang muslim, ingat, Allah meminta kita untuk membaca. Ingat juga bahwa Allah juga meninggikan derajat orang yang berilmu.

Jika Anda merasa hanya ingin menjalankan moral sesuai agama dan keyakinan, jalankan lah untuk Anda sendiri. Tidak ada yang pernah melarang. Itu hak Anda. Tapi bukan hak Anda untuk melarang-larang hidup individu lain dan melecehkan mereka.

Postingan terkait:
Dian Paramita - Gay
Dian Paramita - A Mother of Gay
Dian Paramita - Masalah Diskriminasi: Anda Massery atau Lorch?
Dian Paramita - Gay, Lesbian, dan Hati Kecil
Dian Paramita - Tak Ada Cinta untuk yang Berjiwa Beku

Tak Ada Cinta untuk yang Berjiwa Beku

Ada banyak jiwa yang kesulitan mencari cinta. Sounds cheesy but it's true. Jutaan manusia di dunia ini banyak yang tersesat dan patah hati. Lagu-lagu yang tercipta di dunia mayoritas tentang cinta. Karena bagaimanapun juga, mencari cinta adalah pekerjaan yang sulit. Tapi orang selalu menganggapnya remeh. Dikira ini masalah sepele. Padahal tidak, bisa jadi ini masalah seumur hidup kita.

Jadi saat ada dua jiwa akhirnya bertemu dan saling membahagiakan, mengapa kau tak mampu ikut berbahagia untuknya? Mengapa kau tak mampu menerimanya hanya karena caranya berhubungan seks? Mengapa kau tidak mampu memahami bahwa seks hanyalah cara, tetapi sejatinya mereka sedang bertukar cinta dan kasih? Ketidakmampuanmu itu boleh saja kau pelihara. Tapi bukan tanggung jawab kami untuk memahami hatimu yang beku.

PS: Congratulations to my best friend, Nocky! Cannot wait for you and Vincent's wedding day!

WhatsApp Image 2018-04-18 at 17.38.13.jpeg

Postingan terkait:
Dian Paramita - Gay
Dian Paramita - A Mother of Gay
Dian Paramita - Masalah Diskriminasi: Anda Massery atau Lorch?
Dian Paramita - Gay, Lesbian, dan Hati Kecil
Dian Paramita - LGBT Bukan Penyakit

Sampai Kapan Menunggu Polisi Angkat Tangan?

30629181_10156099813321826_8655248606346870784_n.jpg

“You exist only in what you do”

Seperti Munir, Novel ada karena apa yang ia lakukan. Bukan apa yang ia kenakan atau miliki. 

Ia ada karena membuat koruptor terhukum dan jatuh miskin. Ia ada karena ia bekerja keras untuk menjaga hak-hak rakyat. Apa yang ia lakukan membuatnya ada. Sampai-sampai para koruptor yang dibuatnya marah itu ingin meniadakannya.

Tapi sekai lagi, “You exist only in what you do.” Betapa pun para penjahat pecundang itu ingin meniadakannya, keberadaan Novel tidak akan dilupakan, tidak akan tiada. Ia akan selalu ada di dunia sampai kapan pun. Jadi untukmu para pecundang, serangan air keras darimu itu sia-sia. Karena seranganmu tidak membuatnya tiada namun justru berlipat ganda.

PS: Tepat setahun lalu, Novel Baswedan disiram air keras usai shalat Subuh di masjid dekat rumahnya. Sampai saat ini ia harus menjalani perawatan dan operasi. Ia pun harus meninggalkan anak-anaknya dan istirahat sementara dari pekerjaannya, dua hal yang selama ini menjadi hidupnya. Selama satu tahun kasus ini tidak kunjung ada keadilan. Ayo kita dukung Jokowi untuk segera melakukan sesuatu yang lebih signifikan, tanpa menunggu kapolri angkat tangan. Karena sampai kapan kita harus menunggunya angkat tangan? 

Hari ini kita akan berkumpul untuk meminta keadilan bagi Novel. Info lengkap mengenai gerakan ini, cek Instagram: @amnestyindonesia, @kontras_update, dan @sahabaticw. #TikTokNovel#sebelahmata #NovelBaswedan

Hello There, I'm Back

Sejak Ahok dipenjara, saat itulah saya malas membaca berita, malas dengan politik, malas memikirkan negara. Padahal sejak kecil diskusi mengenai sosial politik negara adalah hobi yang membakar semangat hidup saya. Namun sejak Ahok dipenjara, saya muak. Saya memilih tidak tau apa-apa.

Saya bukan fans Ahok, karena sepertinya menjadi fans artinya akan buta, mendewakannya seakan dia tak punya salah, mendukungnya tanpa mau mengkritiknya. Saya tidak mau menjadi fansnya, karena saya tahu kekurangan Ahok dan beberapa kebijakkannya tidak saya dukung.

Namun dia orang baik. Dia juga pemimpin yang terbaik yang pernah saya rasakan. Dia terbukti membuat perubahan yang berarti bagi seluruh rakyatnya, mau untuk si kaya maupun untuk wong cilik. Jadi wajar saja jika kita bersedih, mengapa orang seperti dirinya harus dihukum atas ucapannya yang tidak salah? Wajar saja kita belum bisa move-on, karena ada ketidakadilan yang nyata di depan mata, ketidakadilan yang mengorbankan orang baik, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa. Hati nurani serasa diinjak-injak dan rakyat yang selama ini dikenal kuat itu akhirnya menjadi powerless. Saya pun memilih untuk membentengi diri dari pembahasan politik.

Setahun waktu yang lama untuk memahami bagaimana rasanya hidup tanpa peduli politik, hanya memikirkan diri sendiri: bekerja, hang-out, berlibur, belanja, membaca novel, hingga pergi tidur sambil memikirkan banyak hal selain negara. Bapak dan ibu saya sering membahas politik dan saya selalu meminta mereka untuk tidak membahasnya di depan saya. Selama setahun ini saya menikmati kehidupan itu.

Tapi itu bukan saya. Setelah setahun saya paham, saya tidak merasa hidup jika tidak mempedulikan apa yang ada di sekitar saya, apa yang terjadi di negara ini. Rasanya aneh dan kosong. Tahun ini saya ingin peduli lagi, bersuara lagi, menulis lagi, dan berbuat sesuatu lagi. Walaupun itu semua bisa membuat saya tidak bisa tidur saking muaknya dengan kelakuan para politikus, namun itu adalah saya. Dan menjadi diri sendiri adalah hal yang ternyaman dalam hidup ini. So hello there, I'm back.

Yoel.jpeg

PS: Thank you, Yoel. Your comment always gives me spirit to write again.

Bangsa Penemu

Empat tahun lalu, dalam sebuah debat antar cagub dan cawagub Jawa Barat di Metro TV, Teten Masduki (cawagub dari PDIP) bertanya kepada lawannya, Deddy Mizwar (cawagub incumbent) mengenai banyaknya jumlah penduduk di Jawa Barat yang tidak sebanding dengan jumlah rumah sakitnya. Setelah kedip-kedip dan berfikir, Deddy pun menjawab, 

"Saya ini nggak biasa bicara angka sebenarnya, Bang Teten. Saya ini seniman. Jadi otak kanan saya yang banyak bicara. Saya nggak hafal angka…” (Video bisa ditonton disini, menit ke 06.39)

Walaupun sudah empat tahun lalu, debat itu tidak terlupakan. Bagaimana bisa kita memiliki seorang calon pemimpin yang mengatakan dia tidak biasa berbicara dengan angka? Ia mengatakan hal itu seakan angka adalah hal yang sepele. Padahal apa yang bisa ia lakukan untuk memajukan daerah yang dipimpinnya tanpa biasa berbicara dengan angka? Apa dasar-dasar keputusan-keputusannya nanti jika bukan dari angka? Misalnya, bagaimana ia bisa mengurangi kemiskinan jika tidak berbicara jumlah penduduknya yang miskin? Bagaimana ia bisa menentukan kebijakan dana bantuan pendidikan tanpa berbicara jumlah anak sekolah di daerahnya? Dan seperti pertanyaan Teten Masduki, bagaimana dapat menyehatkan jutaan rakyatnya jika tidak berbicara jumlah rumah sakitnya yang hanya sedikit? Calon pemimpin seperti ini seharusnya dipertanyakan kemampuannya oleh rakyat dan tidak untuk dipilih. Namun sebulan setelah acara debat tersebut, pasangan Aher-Deddy memenangkan pilgub Jawa Barat 2013. Jawa Barat memillih dipimpin oleh seseorang yang mengaku tidak biasa berbicara dengan angka.

Malangnya Angka dan Teori

Bertahun-tahun yang lalu, ada sebuah iklan di televisi tentang sampo anti ketombe. Dalam iklan itu ada seorang scientist berbicara mengenai penyebab ketombe. Beberapa detik kemudian seorang laki-laki datang dan menyeletuk, “Ah teori!” Iklan itu sangat terkenal dan hingga sekarang setiap ada orang mencoba menjelaskan sesuatu dengan teori, maka sering dibalas dengan ucapan yang sama: “Ah teori!”

Tak hanya angka yang selalu disepelekan di masyarakat kita, namun juga teori. Seakan angka dan teori adalah sebuah penemuan yang datang dari angan-angan saja. Seakan angka dan teori sebuah penemuan yang jauh dari fakta lapangan. Mereka seperti melupakan bahwa angka dan teori adalah hasil penelitian dari fakta-fakta lapangan. Mereka seperti tidak tahu bahwa para peneliti itu datang ke lapangan, mewawancarai atau mengamati objek penelitian, melakukan survey paling sedikit pada ribuan orang, melakukan tes uji coba, membandingan penemuan atau ilmu sebelumnya, mengeluarkan banyak biaya, dan menghabiskan banyak waktu hingga puluhan tahun. Namun mengapa kita menyepelekannya?

Perguruan tinggi di Indonesia sebenarnya memberlakukan kewajiban yang hebat kepada para mahasiswa S1-nya: membuat skripsi, melakukan penelitian. Dari pengalaman membuat skripsi, kita seharusnya lebih menghargai penelitian, berpengalaman menjadi penemu, terbiasa mengatasi masalah dengan berdasarkan teori dan data, atau terbiasa berargumen berdasarkan sumber yang terpercaya, bukan hoax. Namun sayangnya tidak.

Bangsa Pengekor

Kata ibu saya, bangsa yang unggul adalah bangsa yang masyarakatnya senang menemukan, suka menjadi penemu. Dan di jaman modern ini, penemuan itu dilakukan dengan penelitian. Bangsa yang jarang meneliti adalah bangsa pengekor. Bangsa yang hanya akan menjadi ekor bangsa lain. Menciptakan sesuatu dan mengatasi masalah hanya berdasarkan penemuan bangsa lain, bukan murni atas penemuannya sendiri. Dan Indonesia salah satunya. Bagaimana Indonesia dapat menjadi bangsa penemu dan mengatasi masalah negaranya apabila hanya mengekor penemuan dari bangsa lain? Padahal bangsa lain tidak selalu memiliki latar belakang dan masalah yang sama dengan kita.

Ada seorang dokter yang pernah mengeluh kepada saya karena kesulitan menyebuhkan pasiennya dengan obat-obatan yang ada, karena obat-obatan itu hanya cocok untuk pasien berdarah Caucasian, bukan Asian. Apa yang harus dilakukan si dokter jika belum ada penemuan obat khusus untuk pasien berdarah Asian? Apa boleh buat, ia tetap memberikan pasieannya obat yang tidak cocok. Entah sampai kapan kita harus menunggu para bangsa penemu menciptakan obat untuk kami yang berdarah Asian. Ini baru satu kasus mengenai satu obat. Bagaimana dengan kasus yang lain? Pasti banyak sekali dan kita hanya bisa menunggu?

Belajar dari Bangsa Penemu

Sebulan yang lalu saya dikenalkan teman pada seorang pria dari Australia bernama Anton Lucanus. Ia pernah menjalani pertukaran pelajar bidang biologi di UGM, lalu kursus singkat mengenai molekuler di Amerika Serikat. Setelah itu ia kembali ke Indonesia untuk menjadi peneliti magang di Lembaga Eijkman Jakarta. Ia nantinya menjadi peneliti kanker di Singapura.

Saat menjadi peneliti di Lembaga Eijkman Jakarta, ia menemukan bahwa lembaga ini memiliki banyak sekali data yang sangat penting namun tidak tersedia untuk umum. Termasuk data mengenai jumlah pengidap penyakit radang otak yang disebabkan nyamuk, Japanese Encephalitis, di Jawa Tengah. Hingga hasil pengujian penyakit Zika pertama di Indonesia. “Indonesia juga memiliki 122,000 perpustakaan, 7,000 universitas dan 10,000 jurnal akademik. Semuanya memproduksi ratusan hingga ribuan laporan, data, buku, dan artikel jurnal tiap tahunnya. Namun hanya 30% dari semua itu yang tersedia online,” kata Anton.

Mungkin karena dia terlalu banyak energi, Anton pun menciptakan Neliti, sebuah website mesin pencari hasil penelitian, data primer, dan fakta. Website ini bertujuan untuk mendigitalkan, mengurasi, dan menyebarkan hasil semua publikasi itu agar masyarakat Indonesia (khususnya lembaga penelitian dan universitas) dalam memproduksi penelitiannya. Website yang berawal dari gudang data dalam laboratorinya saja, kemudian menjadi sebuah website yang berkembang untuk umum, dan sekarang bekerja sama dengan 500 institusi lainnya. Neliti juga sudah didukung dan bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Indonesia. Anton ingin Neliti dapat membantu Indonesia dalam membuat kebijakan atau mengatasi masalah ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.

Saat ini terdapat 915 jurnal dalam Neliti. Karena masih banyak sekali jurnal Indonesia yang memiliki kualitas rendah, maka satu persatu jurnal-jurnal itu dipilah oleh Anton dan dia bagi ke dalam tiga kelompok: Jurnal Internasional (Kualitas Terbaik), Jurnal Nasional (Kualitas Baik), dan Jurnal Tidak Terakreditasi (Kualitas Kurang Baik). Ya, satu persatu jurnal yang ada dipilah sesuai akreditasinya oleh Anton sendiri.

Tidak seperti EBSCO, JSTOR, Scopus, dkk, jurnal dan data di dalam Neliti dapat diakses dan di-download siapapun dengan gratis. “This is because we believe that information is a fundamental human right, and with free access to information comes opportunity for all people to innovate regardless of their background. We are free because we want to help Indonesia develop as a nation and mencerdaskan anak bangsa Indonesia,” kata Anton. So sweet.

Sementara itu, sekitar seminggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang pria Belanda bernama Frits Blessing. Selain melakukan bisnis di Maluku Indonesia, Frits juga membuat sebuah kerjasama antar universitas dan perusahaan dari Indonesia maupun Belanda bernama Living Lab Logistics.

Living Lab Logistics menghubungkan para mahasiswa, dosen, peneliti bidang logistic, dengan pemerintah dan perusahaan yang bergerak dalam bidang serupa. Ia menciptakan sebuah komunitas untuk membantu para peneliti untuk bekerja sama secara langsung dengan pemerintah dan perusahaan. Dengan demikian pembangunan sumber daya manusia antar Indonesia dan Belanda semakin pesat karena proses alih pengetahuan berjalan efektif dan mendalam. Nantinya bisa memacu inovasi, penemuan, dan mendukung perkembangan pendidikan di Indonesia. Apalagi selama ini banyak sekali penelitian yang tidak saling terhubung dengan peneliti lainnya, sehingga Living Lab Logistics dapat menjadi wadah agar semua peneliti bidang logistik dapat saling bertemu, belajar, bekerja sama, atau meneruskan apa yang sudah pernah dihasilkan.

Dari Anton maupun Frits kita belajar dua hal penting: apapun kesibukan kita, terus lah menjadi penemu dan menghargai segala proses penemuan di sekitar kita.

Indonesia Bangsa Penemu

Terlalu banyaknya sejarah buruk di Indonesia membuat kita berjalan lambat atau kadang berjalan di tempat. Kita menjadi sulit untuk bergerak, sulit untuk menjadi unggul, sulit untuk menciptakan dan menjadi penemu. Dari dijajah bangsa lain dan penguasa negeri di jaman penjajahan, dibungkam di jaman Orde Baru, hingga dibuat kebingungan di jaman peralihan ke negara demokrasi sejak reformasi 1998 hingga sekarang.

Namun saya tidak ragu, suatu saat nanti Indonesia menjadi bangsa penemu. Mungkin dalam waktu dekat, mungkin saja masih puluhan tahun lagi. Asalkan kita selalu berusaha menjadi penemu, menghargai penemuan dan prosesnya, serta kritis terhadap mereka yang tidak menghargainya.