Saya Kecewa Jokowi Didanai Prabowo

Betapa kecewanya saya saat membaca berita: Prabowo Danai Seluruh Biaya Pencalonan Jokowi-Ahok.

Sejak tau tentang berbagai track record baik dari seorang Jokowi. Saya langsung membatin, wah Indonesia akhirnya memiliki calon presiden yang menjanjikan untuk kesejahteraan rakyat. Indonesia memiliki harapan. Semoga Jokowi mau mencalonkan diri menjadi presiden kita. Saya akan pilih dia. 

Namun harapan itu hancur setelah Jokowi mau didanai oleh seorang yang terduga kuat menjadi pelaku pelanggaran HAM tahun 1998 lalu, Prabowo Subianto. Saya tak perlu menceritakan panjang lebar mengenai track record buruk seorang Prabowo, karena banyak yang sudah menuliskan mengenai fakta tersebut di berbagai artikel dan berita. Tinggal dicari.

Lalu mengapa seorang Jokowi mau bekerja sama dengan Prabowo? Apakah Jokowi tidak tau mengenai track record buruk Prabowo atau lebih karena tidak mau tau? Sebuah pertanyaan besar. Yang jelas pilihan Jokowi telah merontokkan harapan rakyat terutama korban pelanggaran HAM. Ia telah melupakan rakyat yang hampir mendukungnya. Termasuk saya.

Seperti SBY. Mungkin orang sudah lupa, dulu SBY pemimpin yang luar biasa berwibawa dan tegas, terutama dalam menangkap dan menghukum koruptor. Ia juga sering tertangkap kamera menegur anggotanya yang ketauan tidur atau terlambat. Namun sekarang? Hilang. SBY kehilangan wibawa dan ketegasannya. Orang melupakan sosok SBY yang pernah berwibawa dan tegas, sehingga mencapnya lemah. Namun bagi saya dia tidak begitu saja lemah. Pasti ada alasan kuat mengenai perubahannya dari pemimpin yang kuat menjadi pemimpin yang lemah. Seperti misalnya hutang budi. Seseorang yang berhutang budi akan menjadi lemah karena harus membalas budinya. Apalagi menyangkut sesuatu yang besar seperti uang atau kontrak. Ini yang saya takutkan dari Jokowi. Saya khawatir Jokowi harus mau menuruti Prabowo karena berhutang budi padanya. 

Sekarang saya hanya bisa berharap warga DKI Jakarta memilih gubernurnya setelah benar-benar mempertimbangkan pilihannya. Mempertimbangkan dari berbagai catatan rekam jejak dan latar belakang pilihannya. Tidak hanya dari sebuah fakta baik masa sekarang tanpa ingat fakta buruk masa lalu. Semoga warga DKI Jakarta sudah mampu memilih dengan bijaksana.