Ayah Bimo Petrus: Saya Bangga Punya Anak Seperti Bimo

Setelah menulis artikel Rangkaian Penculikan dan Keterlibatan Prabowo, saya menjadi ingin bertemu dan ngobrol dengan keluarga korban penculikan yang masih belum kembali. Salah satunya saya berencana menemui keluarga Petrus Bimo Anugrah di Malang.

Namun Kamis 26 Juni 2014 lalu, tidak saya duga, saya bisa bertemu ayah Bimo, Pak Oetomo Raharjo di Jakarta. Ia ke Jakarta untuk menghadiri Aksi Kamisan yang ke-357. Dalam aksi tersebut, Pak Tomo diberikan waktu untuk berorasi di depan istana negara. Sambil menunjuk ke istana, Pak Tomo berteriak,

 

"Jika dia (SBY) tidak mau dan tidak mampu, kita biarkan saja dia. Kita pelihara saja sampai pada waktunya..."

 

 Pak Tomo di Kamisan ke-357 (Photo by Yasmin Purba)

Pak Tomo di Kamisan ke-357 (Photo by Yasmin Purba)

Malamnya, di sebuah acara, saya ambil kesempatan menghampiri Pak Tomo dan menanyakan apakah ia bersedia saya temui untuk menanyakan tentang Bimo. Ia bersedia dan setuju untuk berjanji bertemu esok hari.

Keesokan harinya saya mendatangi beliau di Wisma KontraS Jakarta. KontraS menyediakan wisma tersebut untuk para korban atau keluarga korban yang bermalam di Jakarta seperti Pak Tomo.

Siang itu cerah. Pak Tomo sedang duduk bersila di atas kasur lipat sambil menonton Metro TV. Dalam hati saya bersyukur melihat ia sehat dan kuat. Lalu saya dipersilahkan masuk dan duduk bersila di sebelahnya. Setelah menjabat tangan saya dan menanyakan nama saya, Pak Tomo berkata, "Terima kasih ya Mbak Dian. Sudah peduli, sudah menyuarakan. Tanpa Anda, saya tidak mungkin bisa menyampaikan aspirasi saya. Mau menggunakan media apapun, paling tidak ada orang lain yang jadi tau."

Pak Tomo berulang kali mengatakan ia tidak berharap orang menjadi peduli setelah mengetahui kisah anaknya. Menurutnya, kisah anaknya hanya perlu disampaikan ke orang lain, kemudian terserah bagaimana orang menanggapinya. Katanya itu hak mereka. Ia tidak merisaukan jika orang cuek atau mengoloki nasibnya. Tetapi ia berterima kasih jika ada yang merenungi dan peduli. 

Petrus Bimo Anugrah

Bimo berasal dari Malang. Awalnya ia adalah seorang mahasiswa UNAIR yang kemudian berpindah ke STF Driyakara. Ia memilih keluar dari UNAIR dan menjadi aktivis di Jakarta untuk tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Bimo diperkirakan hilang pada 13 Maret 1998 setelah bersama teman-teman aktivisnya mengikuti rapat di daerah Pasar Baru. Bimo tidak langsung pulang ke rumah seperti teman-teman aktivis dan serumahnya. Sehingga Bimo tidak ikut ditangkap aparat di rumah mereka di Rusun Klender. Namun pada hari yang sama, Bimo turut hilang. Tidak ada yang tahu dimana dan bagaimana proses Bimo diculik.

Saat teman-temannya menyadari Bimo hilang, keluarga Bimo langsung membuat laporan orang hilang. Hampir semua pihak dari pemerintah dan polisi sudah mereka mintai tolong. Namun hingga sekarang tak ada perubahan yang signifikan. Bimo tetap tidak ditemukan. Dari semua lembaga yang ada, hanya KontraS dan IKOHI saja yang banyak membantunya. Pemerintah tak pernah membantu apapun, selain hanya membuatnya berputar-putar tanpa kejelasan.

Bimo Pamit Pergi

"Kalo itu pilihanmu, baik dan benar, berangkatlah kamu. Selama imanmu masih jernih, sekecil apapun kamu, pasti diselamatkan oleh Tuhan Yesus,"

pesan Pak Tomo saat Bimo pamit meninggalkan kuliahnya di UNAIR dan ijin untuk pergi ke Jakarta. Ibunya memang menahan Bimo agar tidak pergi. Namun Pak Tomo justru merestui dengan memberi dorongan moral kepada Bimo. 

Setelah Bimo hilang, Pak Tomo mengaku istrinya mengeluh kepadanya mengapa ia tega merelakan Bimo sampai tidak ada seperti sekarang. Namun Pak Tomo merasa itu bukan merelakan. Ia merasa ia tidak menjerumuskan Bimo ke arah yang tidak mereka inginkan. Tetapi Pak Tomo hanya ingin memberikan doa dan semangat untuk apa yang Bimo lakukan. Untuk perubahan yang Bimo inginkan di negeri ini.

Pak Tomo mengaku tidak ada kata menyesal atas apa yang terjadi, karena menurutnya semua ini bermaksud positif. "Justru saya bangga, mempunyai anak seperti sosok Petrus Bimo. Dia siap memberikan apa yang dia punya untuk orang lain," kata Pak Tomo dengan sedikit terisak namun tetap kuat.

Perjuangan dan Cita-Cita Bimo

Pak Tomo tahu persis bahwa anaknya bergerak di bidang politik bawah tanah yang berseberangan dengan pemerintah. Pak Tomo bercerita Bimo mulai peduli pada politik bangsa saat semester awal kuliah di Surabaya. Bimo mulai mengikuti teman-temannya yang melakukan aksi buruh, mendampingi tani yang tanahnya digusur. "Ternyata Bimo responnya disitu. Ia peduli kepada mereka-mereka yang kurang mapan itu," kata Pak Tomo.

Pernah suatu ketika Pak Tomo menanyakan berapa jumlah teman Bimo di PRD. Ternyata hanya sebanyak 30 - 50 teman. Pak Tomo bertanya kepada Bimo, apakah Bimo akan mampu mengalahkan Soeharto dan kekuatan ABRI? Jika Soeharto dan ABRI dibaratkan Pak Tomo sebagai tembok tebal bertulang baja, Pak Tomo bertanya apakah Bimo akan mampu menjebol tembok itu? Pak Tomo ingat betul saat itu dengan senyum Bimo menjawab,

 

"paling tidak akulah yang menabrak ke tembok itu."

 

Tetapi Bimo jarang bercerita kepada Pak Tomo mengenai aksinya mendampingi tani buruh dan berurusan dengan aparat. Pak Tomo hanya sesekali tau Bimo kecewa terhadap penggusuran dan upah buruh. Pak Tomo juga pernah mendengar Bimo sempat ditangkap 3 x 20 hari di Polda Metro Jaya dan wajib lapor. Teman Bimo memberi kabar itu ke keluarga Bimo dengan memberikan foto Bimo di balik jeruji sel. Pak Tomo mengaku masih menyimpan foto itu.

Bimo ditangkap dan ditahan untuk 3 kasus. Bukan karena ia didapati memiliki senjata, tetapi karena memiliki brosur Mega-Bintang, karena ia anggota PRD, dan karena ia menuntut Manifesto PRD. "Bimo tidak memiliki senjata. Senjata dari mana? Tapi senjatanya Bimo itu kan pemikirannya, mengkritisi pemerintah. Saya ingat ia menuntut Manifesto PRD. Manifesto PRD itu antara lain; hapus dwi fungsi ABRI, pencabutan 5 UU Politik, referandum Timor-Timur, dan multi partai. Itu tuntutannya, saya ingat itu. Itu menggigit. Menurut pemerintah itu bahaya. Tetapi sekarang kita jujur, setelah 16 tahun, tuntutan mereka yang ada sekarang ini," jelas Pak Tomo.

Cita-cita besar Bimo untuk bangsa ini sudah tercapai. Selain Manifesto PRD terlaksana, Bimo sudah berhasil membukakan jalan demokrasi untuk bangsa ini. Walaupun itu harus dengan menabrakan badannya ke tembok bertulang baja.

Dukungan Sang Ayah

Bimo memang tak selalu menceritakan perjuangannya, namun pernah suatu ketika Bimo membutuhkan pertolongan ayahnya. Saat itu tahun 1996, Bimo sedang melakukan aksi mogok makan di Gedung Grahadi DPRD Surabaya, lalu dibubarkan oleh sekelompok orang tak dikenal. Bimo sempat dipukul yang membuat kepalanya bocor. Kemudian Bimo dibawa ke rumah sakit tetapi tidak dapat melunasi biaya pengobatan. Sehingga ia meminta tolong temannya ke Malang untuk memintakan uang kepada ayahnya, Pak Tomo. Pak Tomo langsung memberikan uang untuk biaya obat dan bensin kepada teman Bimo. Dengan spontan Pak Tomo juga menitipkan secarik kertas coklat yang ia sobek dari bungkusan makanan dan ia tuliskan, 

"Selamat berjuang. Maju terus, pantang mundur...

Setelah baca tulisan ini, harap segera dibuang."

Ditemani adik Bimo, teman Bimo itu kembali lagi ke Surabaya untuk memberikan uang dan surat titipan Pak Tomo kepada Bimo. Kata sang adik, saat membaca surat dari ayahnya itu, Bimo tersenyum. Ia kemudian menuruti ayahnya untuk membuang surat itu agar tidak ditemukan aparat dan membahayakan dirinya.

"Paling tidak ia sudah mendapat support dari ayahnya," kata Pak Tomo selesai menceritakan kisah itu kepada saya. Pak Tomo menarik nafas dan tersenyum mengenang kisah itu. "Wah senangnya ya Mas Bimo mendapat support dari ayahnya," respon saya menanggapi kisah itu. Pak Tomo diam beberapa saat lalu menarik nafas lagi, "Kayaknya begitu... Ada kebanggaan tersendiri. Sekarang orang-orang masih peduli tentangnya. Masih memperjuangkan dia. Termasuk Anda, terima kasih..."

Bimo Kecil

"Bimo itu lucu. Suka pakai tas pinggang jelek itu. Saya dulu ejek dia kok berpakaian seperti tukang pisang. Tapi Bimo cuma senyum. Katanya dia tidak apa-apa seperti tukang pisang. Ia tidak mau terlihat keren seperti anak-anak seusianya. Walaupun dia bisa," cerita Pak Tomo.

Saat saya tanya, dari manakah jiwa hebat dalam diri Bimo itu? Menurut Pak Tomo itu alami jiwa Bimo. Pak Tomo menceritakan bahwa ia membesarkan anaknya dalam keluarga yang penuh humor dan demokratis. Sehingga Bimo tumbuh sesuai apa yang ia pahami. 

Kemudian Pak Tomo mulai mengenang betapa lucunya Bimo saat masih SD. Walaupun guru sekolahnya adalah tantenya sendiri dan serumah dengannya, tetapi setiap pagi Bimo selalu terburu-buru berangkat ke sekolah. Ibunya heran mengapa ia harus buru-buru sepagi mungkin sampai sekolah jika gurunya saja masih di rumah. Bimo mengaku ia tidak mau telat dan dimarahi guru. Sambil tertawa Pak Tomo berkata, "Uniknya dia disitu. Itu disiplinnya dia."

Lain lagi saat Bimo masih TK. Ia selalu diganggu oleh temannya yang suka memukulinya. Ia sering mengeluh kepada bapaknya hingga bapaknya memberi semangat, 

 

"Lawan. Laki-laki harus berani. Lawan sampai dia kalah." 

 

Suatu saat Bimo bermain pasir dengan anak itu. Lalu Bimo menutup kepala anak itu dengan ember plastik kemudian memukulinya. Anak itu menangis dan kalah. Sejak saat itu Bimo tak pernah diganggu anak itu lagi. 

Menurut Pak Tomo, kejadian ini sama seperti saat ia kecil. Pak Tomo juga pernah mengalahkan teman bermainnya yang selalu mengganggunya. Dari situ Pak Tomo mengajarkan anaknya untuk tidak mau kalah pada yang salah. "Jika kita selalu mau dikalahkan, kita akan selalu kalah. Jangan mau kalah. Lawan," begitu nasehatnya.

Kenyataan Hari Ini

1887130332_9c553d4f76.jpg
"Separuh usiaku untuk membesarkan anakku. Separuh jiwaku terus sepi menunggu dia kembali..."

- Misiati Oetomo, ibunda Bimo Petrus.

Setelah sedemikian rupa membesarkan, mendukung, dan mendoakan hingga Bimo berusia 24 tahun, Pak Tomo harus kehilangan anaknya. Hari ini, setelah 16 tahun Bimo belum juga kembali, Pak Tomo sudah mulai dapat berdamai dengan dirinya. Ia mengaku bahwa dahulu awalnya ia masih penuh dengan emosi. Ia juga mengaku orasinya masih dengan hati panas dan sumpah serapah.

Awalnya sang istri juga belum bisa menahan emosi. Selalu memikirkan dan menangisi Bimo. Sang istri juga bertanya kenapa Pak Tomo tidak pernah menangis. Pak Tomo merasa menangis tak selalu harus ditunjukkan. Sebenarnya dalam hatinya ia menangis lebih dalam. Tuhan tahu itu.

Suatu saat Pak Tomo menasehati istrinya, "jangan ditangisi, Bu. Orang nangis itu pikirannya blurek. Tidak bisa berfikir jernih. Lebih baik sedikit berdoa daripada banyak menangis." Pak Tomo kemudian selalu mengarahkan istrinya untuk terus berdoa dan terus menjalani hidup ini dengan nikmat dan syukur. Katanya, "itu lebih aman dan nyaman daripada menggerutu dan terus bersumpah serapah."

Di tahun terakhir ini ia merasa sudah mulai menemukan kedamaian. Saat saya tanya apakah itu artinya ia sudah ikhlas, Pak Tomo tidak setuju. "Ikhlas itu kalo sudah mati, baru ikhlas. Ini hilang belum ditemukan dimana masak diikhlaskan?" ucapnya. Hanya saja ia mengaku sudah bisa menerima kenyataan keadaan hari ini seperti ini.

***

Setelah hampir 1,5 jam kami mengobrol, akhirnya Pak Tomo harus bersiap-siap untuk pulang ke Malang naik kereta. Kami bertukar nomor telpon dan lagi-lagi Pak Tomo mengucap beribu terima kasih kepada saya, atau siapapun yang masih mempedulikan anaknya. Setelah berjabat tangan, saya berpesan agar Pak Tomo dan istri selalu sehat, lalu kemudian saya pamit pulang.

Di dalam perjalanan pulang saya merenung tidak dapat menahan haru. Pak Tomo dan istrinya telah dititipi Tuhan seorang anak yang hebat dan telah mengubah negri ini menjadi jauh lebih baik. Tuhan pun telah memilih seorang ayah yang tak kalah hebat, yang selalu berada di belakang Bimo sehingga Bimo tak pernah merasa berjuang sendirian.

Terima kasih atas segalanya, Mas Bimo. Seperti nama panjangmu, engkau adalah anugrah untuk negeri ini. Saya berdoa untuk Mas Bimo, dimana pun engkau berada, semoga Mas Bimo selalu damai dan bahagia. Seperti Mas Bimo yang selalu berjuang untuk kedamaian dan kebahagiaan orang lain. Amin.