Temannya Siminah

Siminah and her friend.
Dia memoleskan lipstik di bibirnya sekali lagi, lalu lagi, dan lagi. Dia tersenyum. Dress mininya yang sempit, sedikit terangkat saat ia berdiri dari meja rias. Cewek 20 tahun itu membetulkan posisi roknya, lalu menatap kaca di depannya. Tidak, bedakku kurang, batin si cewek itu, dia pun kembali memoleskan bedak di wajahnya yang tirus.

Usahanya di depan meja rias untuk memukau manusia malam di diskotik. Menurutnya, pasti tidak ada orang lain yang lebih menghargainya daripada di diskotik, terutama pria. Bagaimana lagi? Bukankah para clubbers menyukai cewek yang berdandan berani sepertiku, pikirnya. Dia merasa dia akan bisa cocok bergaul di tempat itu. Selama ini dia selalu dianggap cewek kampung, cewek dari desa, cewek yang nggak gaul.

Dia ingin gaul. Ingin sekali. Sehingga saat pertama kali Siminah, temannya, mengajaknya mencoba memasuki dunia malam ini, dia menanggapinya dengan antusias. Maka disinilah sekarang dia berada, di diskotik di kawasan Kuningan, Jakarta. Dengan modal invitation yang dia dapatkan dari meja kasir sebuah toko pakaian, maka masuklah dia di diskotik itu setelah lehernya dicap untuk tanda entrace. Dia tersenyum dan sedikit berjoget seraya menghampiri teman-temannya yang berdiri di dekat speaker kanan. Dia senang sekali. Dia merasa menjadi pusat perhatian dalam diskotik itu. Apapun yang dia lakukan selalu diperhatikan. Bahkan saat dia dan teman-temannya berfoto bersama sekalipun. Semua mata memandangnya. Termasuk lelaki berkemeja putih di seberang itu. Lelaki bersama teman-teman lelaki itu terus menatap dan terkadang tertawa simpul saat memandangnya. 'Ah mereka menyukaiku.'—riangnya. Diapun berjoget seksi untuk terus mencari perhatian. Dia menyadari bahwa lelaki itu sedang membicarakan dirinya. Dia pun menyadari dan merasakan lelaki itu mendatanginya. Sampai kemudian lelaki itu berada di hadapannya dan berteriak di telinganya, "Hai, sendirian nih?" "Hah? Nggak, sama temen-temen." "Boleh joget bareng?" Cewek seksi ini tertawa dalam hati. DIA SENANG SEKALI. "Oh boleh aja," jawabnya kalem. Merekapun berjoget bersama, sampai akhirnya lelaki itu berkata, "aku harus pulang nih. Ini nomer hpku. Simpen yah. Kalo kangen, sms aja yah?" Cewek yang hatinya sedang berdegup kencang itu mengangguk pelan. Lalu lelaki itu pergi.

Cewek berambut panjang itu menatap jam tangannya. Ah sudah pukul 4 pagi, dia tersentak kaget saat menyadari waktu. Dia menggeret teman-temannya yang sudah tak sadarkan diri untuk pulang dengannya. Walau dongkol pada teman-temannya yang merepotkannya, ia tetap tersenyum bahagia. Lelaki itu benar-benar menyukaiku, batinnya dalam hatinya yang riang.

Sampai di kost dia membersihkan semua make-up-nya, mengganti pakaiannya, sampai kemudian duduk di samping Siminah yang masih tepar di kasurnya. Dia tersenyum saat mengambil tissue bertuliskan nomor telpon lelaki tadi. Dia mulai memijat hpnya.

Aku uda kangen (:

Message Sent!

Di tempat yang sangat jauh darinya namun masih di Jakarta, lelaki itu sedang duduk-duduk bersama teman-temannya di dalam kamarnya. Kali ini dia sudah mengganti kemeja putihnya dengan kaos The Stroke. Hpnya bergetar, lalu diambilnya dari kantong kanan celana pendeknya. Dia membaca sms yang baru saja masuk. Dia tertawa kencang. Sms itu dia perlihatkan pada teman-temannya. Teman-temannya pun ikut tertawa walaupun sedikit kecut. Mereka melemparkan uang seratus ribuan kepada lelaki itu. Salah satu dari mereka berkata, "Tai lo! Kalo gue sih tetep ogah pura-pura pedekate sama cewek muka kontras berbaju Melawai itu!" "Aahhh yang penting dapet duit Boss!" Jawab lelaki itu girang lalu membalas sms tadi dengan:

Sori,gw ga doyan sama ce body b'nilai 8,mukenye b'nilai 1/2

Message Sent!

Terinspirasi oleh blognya mas ini. Hehe. Bukannya tidak setuju dengan postingannya, namun akan menarik apabila mengambil sudut pandang dari sisi lain. Tapi tetep, cewek model beginian bikin risih!!!