Mencintai Plastik



Seseorang di masa kecil saya pernah memberi tahu, "plastik dapat membunuh sebuah pohon karena menghalangi pohon mencari air untuk hidupnya." Membayangkannya saya sedih. Sejak saat itu, plastik selalu ada dalam pikiran saya.
Saat saya SD, setiap pulang sekolah saya dijemput oleh becak langganan saya. Rumah saya lumayan jauh untuk ditempuh dengan becak, sehingga ada waktu sekitar 1/2 jam untuk saya duduk bengong memikirkan banyak hal, termasuk plastik. Suatu hari setelah saya bermain sepak bola, beli es teh, saya dijemput oleh Pak Temon, Pak becak langganan saya tercinta. Di dalam perjalanan pulang, sambil menyeruput es teh, tiba-tiba muncul pertanyaan di dalam pikiran saya, kalo plastik ini saya buang sembarangan ke jalan, kira-kira plastik ini berakhir dimana? Tentu saya ingat: plastik dapat membunuh sebuah pohon karena menghalangi pohon mencari air untuk hidupnya. Hanya karena saya keenakan minum es, lalu malas membuang sampah pada tempatnya, saya harus mengorbankan pohon mencari air? Saat es teh saya habis, saya urungkan niat saya untuk membuang plastik sembarangan di jalanan dan memilih untuk menyimpannya di tas sekolah. Sampai di rumah, saya buang ke tempat sampah. Paling tidak, hati saya lega, tak ada pohon yang saya halangi kelangsungan hidupnya. Setelah kejadian itu, sampai saya SMA, tas sekolah saya penuh sampah plastik.
Namun apakah membuang plastik di tempat sampah adalah jalan terbaik menjaga kehidupan pohon? Baru sekarang saya sadar, membuang plastik di tempat sampah bukan jalan yang terbaik untuk pohon apalagi alam kita. Lagi-lagi muncul pertanyaan di kepala saya, setelah dari tempat sampah di rumah kita, lalu diangkut tukang sampah, kira-kira sampah plastik kita berakhir dimana? Bisa saja ke tempat penampungan sampah. Entah dimana itu. Apakah di tempat penampungan sampah itu ada pohon? Bagaimana kelangsungan hidup pohon disana jika banyak sampah plastik? Apakah ada yang peduli untuk tidak membuat kelangsungan hidup pohon disana terancam? Lalu apakah benar tukang sampah membuangnya ke tempat penampungan sampah? Atau malah ke hutan bahkan sungai dan laut?
Ternyata, sebagian sampah plastik kita berakhir disini…

Hah? Apa itu? Itu 2 ekor paus yang lucu. Lihat deh senyumnya. :)
Sampah plastik kita berakhir disitu? Iya, berakhir disitu, di paus itu.
Kok bisa? Iya bisa, karena ketidakpedulian kita.
Beberapa waktu lalu saya mendapat berita menyesakkan: seekor paus ditemukan kelaparan hingga sekarat karena pencernaannya terhalangi oleh sampah plastik. Tahun 2008, dua paus sperma yang terdampar di pesisir California, AS, memiliki 205 kilogram jaring ikan dan serpihan sampah plastik dalam tubuhnya. Seekor di antaranya memiliki perut yang rusak. Seekor lainnya, dalam kondisi kelaparan, memiliki banyak sampah plastik yang menghalangi saluran pencernaannya. Tujuh paus sperma yang terdampar di selatan Italia pada tahun 2009 juga didapati telah menelan kail, tali, dan obyek-obyek plastik lainnya. Seekor paus lain, yang ditemukan tewas di perairan Perancis pada 2002, bahkan telah menelan hampir satu ton sampah, termasuk kantong plastik dari dua supermarket terkenal di Inggris. Fakta ini diungkapkan dalam sebuah forum kelautan internasional yang berlangsung pada 11 hingga 14 Juli 2011 di Jersey, Inggris.
Itu adalah 1 fakta menyesakkan akibat sampah plastik bekas kita, manusia. Tidak tahu bagaimana dengan jutaan fakta lainnya. Masalah utama adalah plastik sekali pakai. Baru dipakai beberapa menit untuk membungkus makanan kita, lalu kita buang. Tentu setiap harinya banyak sekali sampah sekali pakai yang dihasilkan manusia kan? Bukan berarti sampah-sampah itu akibat dari manusia yang tidak membuang sampah pada tempatnya. Tapi kemungkinan besar sampah plastik kita pada akhirnya dibuang ke tempat-tempat yang tidak semestinya oleh para pekerja sampah. Jadi membuang sampah pada tempatnya tidak selalu menjadi jalan keluar terbaik untuk menjaga alam kita ini. Bahkan masalah ini tidak mampu ditanggulangi oleh negara maju seperti Amerika dan Inggris sekalipun.
Lalu bagaimana? Dilema. Manusia selalu berusaha menciptakan benda yang praktis, efisien, dan ekonomis. Ketiga hal tersebut adalah sifat dari plastik. Namun plastik mengancam alam dan generasi yang akan datang. Disatu sisi kita membutuhkannya, di sisi yang lain kita dirugikan olehnya. Lalu bagaimana?
Cintailah plastik. Anggap bahwa plastik adalah barang langka yang sangat mahal sehingga memakainya seperlunya saja, bukan untuk hal-hal sepele dalam daily needs kita. Apakah bisa? Bisa, mudah, tapi sulit. Bisa dan mudah karena banyak benda lain yang dapat menggantikan kantong plastik kresek dan styrofoam, misalnya tas berbahan kain untuk membawa belanjaan dan wadah plastik yang dapat dipakai berulang kali untuk membungkus makanan yang kita beli di warung makan.

Ide ini menjadi sulit karena manusia malas untuk peduli dengan hal yang dampaknya tidak langsung terasa. Alam rusak, paus kelaparan, banjir, adalah dampak-dampak dari plastik yang tidak secara langsung kita rasakan dan bahkan tidak selalu terjadi di depan kita. Untuk apa repot mengganti plastik dari supermarket yang gratis dan praktis dengan membawa tas kain dari rumah? Untuk apa repot mengganti styrofoam dari warung makan dengan wadah plastik dari rumah? Semua hal ini repot dan kadang tidak terasa manfaatnya. Saya pun belum tentu bisa melakukannya. Lagi-lagi, lalu bagaimana?
Jika kita mencintainya, kita akan menghargainya. Maka hargai plastik dengan mahal. Ada suatu hypermarket di Jogja yang mengharuskan pelanggannya membeli per kantong plastik jika mereka ingin membungkus belanjaannya dengan kantong plastik tersebut. Jika kita tidak ingin mengeluarkan uang, maka kita harus membawa belanjaan itu dengan tangan atau dengan membawa tas sendiri dari rumah. Brillian ya? Saya jadi memiliki ide, bagaimana jika semua benda yang memakai plastik dihargai dengan mahal dengan diberi pajak? Beli Coca-Cola dari McDonald misalnya, jika kita ingin memakai gelas plastik dari sana, maka jika harus membayar lebih. Namun jika tidak mau membayar lebih, maka kita harus membawa gelas sendiri dari rumah. Bagaimana jika semua penjualan yang memakai plastik sekali pakai memakai ide ini? Maka sebagian besar manusia akan terpaksa mengganti plastik sekali pakai dengan plastik yang dapat dipakai berulang kali. Lalu kemana pendapatan pajak dari plastik itu? Untuk pembiayaan kerusakan alam akibat sampah plastik. Apa hasilnya? Sampah plastik berkurang, alam terlindungi. Asyik deh. Kita bersama-sama (walau terpaksa) bertanggung jawab atas apa yang sudah kita nikmati. Kadang manusia memang harus dipersulit dan dipaksa agar tidak menggampangkan masalah. :D