Indonesia Menghargai yang Produktif?

Dari kecil kata "produktif" itu membuat saya stres. "Kamu harus produktif!" Seakan-akan saya harus berkerja keras menciptakan suatu benda atau karya yang besar dan megah. Ini pikiran bodoh seorang gadis SD asal Jogjakarta.

Suatu hari ibu saya nyinyir saat ada orang yang keukeuh menawar buah di pasar. "Tuh liat ibu itu, harga cuma segitu aja masih ditawar. Dandanan kaya, tapi keluar uang dikit untuk menambah untung penjual buah aja pelit." Deg. Kata-kata ibu saya itu langsung masuk ke otak saya. Loading.

Lalu suatu hari setelah itu, saya nonton tv, sinetronnya Marshanda yang dulu masih SD itu lho. Lupa deh judulnya. Disitu Marshanda dengan lemah lembut memberi makanan kepada pengemis. Digambarkan bahwa memberi pengemis itu tindakan yang santun dan baik hati. Malaikat banget deh. Tapi saat itu saya heran dan merasa ada yang tidak benar dalam adegan itu. Otak saya loading lagi.

Beruntung saya masih hidup hingga sekarang. Sehingga misteri loading di otak kecil saya dulu akhirnya terpecahkan. Saat kuliah inilah saya mampu mengaitkan semua hal yang saya tangkap saat kecil: dukunglah mereka yang berusaha, bukan mengasihani mereka yang pemalas.

Saya sering bertemu dengan orang-orang yang mengasihani pengemis dan pengamen di jalanan, tetapi menawar sadis pedagang kecil dan tukang becak. Kenapa mereka yang berusaha justru ditekan, tetapi mereka yang pemalas justru dikasihani dan diberi?

Mungkin karena kita tidak sadar arti produktif itu. Sama seperti pikiran saya jaman SD dulu, menganggap produktif itu menghasilkan sesuatu yang besar saja. Jadi yang kecil-kecil tidak dianggap. Hasilnya? Pembantu, sopir, pedagang kaki lima, tukang cuci, tukang sampah, para pekerja keras kecil-kecilan lainnya tidak dihargai. Budaya yang ironis. :(

Lalu saya menemukan salah satu hadits Rasulullah SAW,

Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak. (HR.Mutafaq’alaih)

Betapa malunya saya terhadap diri sendiri setelah melihat mereka. Semangat, usaha, kerja keras, dan hasil yang mereka capai memberi dampak yang positif terhadap negri ini. Mereka terlalu berharga untuk kita lewatkan.

Melihat mereka kita belajar bahwa produktif itu menghasilkan apapun yang berguna. Besar atau kecil dampaknya kepada dunia itu tidak penting, karena sekecil apapun usaha mereka, mereka telah menghasilkan sesuatu  untuk dirinya sendiri, keluarga, dan orang lain. Seharusnya sosok mereka selalu kita puja dan kita tiru. Bukan justru ditekan atau bahkan tidak dianggap.

Tapi bangsa Indonesia belum sadar akan sosok-sosok hebat ini. Indonesia belum sadar bahwa mereka adalah inspirasi yang mampu menumbuhkan semangat produktif bangsa. Indonesia belum sadar dan kitalah yang harus menyadarkan.

Sebarkan pesan ini. Pikirkan ide untuk menyebarkannya dan kampanyekan ide Indonesia Produktif-mu disini. Agar bangsa ini selalu ingat:

dukunglah mereka yang berusaha, bukan mengasihani mereka yang pemalas. :)