Social

Satu Hati Bantu Pendidikan Indonesia

Internet adalah tempat berbagi. Tidak selalu sebagai tempat berbagi langsung antara mereka yang membantu dengan yang mereka membutuhkan, tetapi juga tempat berbagi antar mereka yang merencanakan bantuan.

Membantu tidak selalu harus dengan uang. Mulai sekarang carilah apa kelebihanmu? Jika kelebihanmu menciptakan ide gerakan, kembangkanlah ide itu, tulislah, lalu share lah di internet. Mereka yang tertarik, akan ikut mengembangkan idemu setelah membacanya. Jika yang kamu miliki adalah materi, maka carilah di internet, organisasi atau gerakan apa yang ingin membantu tetapi membutuhkan dana. Kamu yang memiliki tenaga dan waktu luang, carilah di internet, organisasi atau gerakan apa yang membutuhkan tenagamu. Kamu yang memiliki kemampuan menyebarkan berita atau informasi, maka sebarkanlah ide dan informasi sosial ini di internet, agar makin banyak orang yang tahu dan ingin membantu mengembangkan ide sosial itu. Dari ide, lalu disebarkan oleh para influencer, lalu dikembangkan dengan dana, dan digerakan oleh tenaga, bersama-sama kita menciptakan sebuah gerakan sosial untuk membantu yang lain. Itu semua lewat internet. Keren ya?

Alangkah senangnya saya saat teman saya memberi tahu bahwa ada gerakan ini, Gerakan Satu Hati. Gerakan sosial yang fokus pada pendidikan Indonesia. Persis seperti yang saya ceritakan sebelumnya, dalam Gerakan Satu Hati, kita tidak melulu harus membantu dengan menyumbangkan dana, tetapi kita bisa membantunya dengan cara yang lain. Walau dalam Satu Hati kita bisa menyumbangkan dana (karena gerakan ini juga menyediakan rekening khusus untuk menyumbang), tetapi jika kamu ingin menyumbang dengan cara lain, kamu bisa melakukan beberapa kegiatan, seperti misalnya bersama teman-teman segeng kita mengumpulkan buku-buku lalu antarkan ke Drop Zoner atau ke lokasi Roadshow Satu Hati, atau menjadi sukarelawan yang melakukan ide kegiatan sosial sesuai kreativitasmu, atau bahkan hanya dengan berunjuk bakat! Info lebih lanjut, kunjungi http://satuhati.com lalu mulailah kita berbagi! :)

Mengenang Munir 8 Desember 2010

Seperti pada postingan #MengenangMunir sebelumnya saya melelang 45 kaos limited edition pada malam ulang tahun Alm. Munir ke-45, Rabu, 8 Desember 2010 di Es Teler 77 Adityawarman Jakarta. Dana dari hasil lelang akan saya buatkan kaos kampanye "Menolak Lupa Munir" untuk dibagikan kepada para tukang yang bekerja di tengah masyarakat.

Saya terharu dan gembira, ternyata dana yang terkumpul dari lelang pada malam itu sebanyak 30 juta rupiah! Can you believe that? Itu belum termasuk dengan 10% keuntungan Es Teler 77 yang disumbangkan untuk kampanye ini! Padahal acara ini tidak mengeluarkan dana sepeserpun. Dari bintang tamu, venue, publikasi, hingga sound system saya dapatkan gratis untuk acara ini. Senang sekali ya! Semua sangat peduli dengan almarhum tokoh HAM kita, Munir :)

Selain banyaknya dana yang terkumpul, acara juga sangat menyenangkan. Terima kasih banyak kepada Mas Pandji Pragiwaksono dkk, Glenn Fredly, Efek Rumah Kaca, dan Positive Energy, yang sudah sangat menghibur para tamu. Terima kasih juga kepada para tamu, Mbak Suciwati (istri Munir), teman-teman yang saya kenal dari Twitter, teman-teman dari Kontras dan Kasum, teman-teman dari Maverick, para wartawan, dan para tamu lainnya yang sudah menunjukkan kepeduliannya untuk kampanye ini. :)

Tentu saya tidak akan melupakan jasa dan bantuan yang luar biasa dari Mas Angga Sasongko, Mas Chandra Danu Komoro, Mas Adib Hidayat, Mbak Shirley Muhidin, Mbak Maina Sumapradja, Brama Danuwinata Ramadhan, Mas Rahan Galileo, Mas Erix Soekamti, Mas Nady Azhri, Mbak Nadia & Mbak Hanny dari Maverick, Mbak Sari Febrianne dari Kompas, Mbak Manda dari Metro TV, Mbak Gita dari Radio KBR, Es Teler 77 Adtiyawarman, Donny Sound System, Kontras, Kasum, dan teman-teman Twitter yang banyak membantu publikasi dan mendukung acara ini, dan terakhir tentu saja Ibu saya tercinta, Noor Rahmani, yang selalu memberikan ide brilliannya. :)

Dari lelang kaos Munir malam 8 Desember 2010 lalu itu, terciptalah kaos ini...

Kaos ini siap untuk dibagikan kepada para tukang yang tentu sudah bekerja keras di tengah masyarakat, seperti tukang becak, kuli bangunan, tukang sampah, dan lain-lain. Semoga dengan kaos ini, mereka bisa membawakan pesan kampanye untuk tidak melupakan Munir.

PS: Posting pembagian kaos menyusul. Kota tujuan pembagian kaos antara lain Jogja, Jakarta, Bali, dan Malang. Kaos ini juga dijual untuk kepentingan kampanye (tidak mencari untung). Harga kaos Rp. 40.000,00 (belum termasuk ongkos kirim). Size bisa memilih dari Small (S) hingga Extra Large (XL). Jika tertarik, mohon email ke mimitsmail@gmail.com dengan subject "Kaos Menolak Lupa" Terima kasih! :)

Aisenodni

Saya benci hidup di negara ini, negara yang berbudaya terbalik-balik. Setiap hari semakin banyak list budaya Indonesia yang semakin terbalik dari yang seharusnya. Bagaimana negara ini akan dikagumi oleh rakyatnya sendiri apabila selalu menyimpang?

1. Kebebasan.
Kebebasan semacam berargumen dengan orang tua/gurunya, memiliki pemikiran lain mengenai agama, atau berfikir kreatif walau nakal, adalah tabu dan dilarang keras dalam budaya kita. Namun budaya kita membebaskan kita mengusik kebebasan kehidupan orang lain. Bertanya, "agamamu apa?" "Sudah sholat belum? Kok kamu ga sholat?" "Orang tua kerja dimana?" "Ih kok gitu sih! Dosa kamu!" "Oh orang tuanya dosen? Pantes masuk UGM!" Kebebasan yang seharusnya tabu justru menjadi budaya yang lumrah dan kental di Indonesia.

2. Peras Pedagang, Bantu Pengamen.
Negara ini sangat menghormati dan membantu para pemalas dan peminta: pengamen, tukang parkir, dan pengemis (pengemis anak atau yang muda dan sehat). Namun negara ini sangat pelit dan melecehkan mereka yang berusaha keras mencari nafkah: menawar sadis ongkos becak dan dagangan di pasar, galak terhadap sopir, menghina pembantu, dsb. Ada apa dengan otak negara ini? Kenapa yang berusaha justru kita peras dan hina, namun para pemalas justru dibantu dan dikasihi?

3. "Kembali ke masing-masing individu saja."
Quote ini saya dapat saat berdebat politik dengan seseorang. Saya rasa quote itu bodoh jika ditujukan untuk topik perdebatan kita. Politik adalah masalah bersama, kembali ke masing-masing individu sama saja memperparah keadaan politik. Jika semua orang berfikir politik untuk masing-masing individu, negara ini akan semakin rusak karena semua orang akan egois dan memikirkan diri sendiri. Namun kebalikkannya, di Indonesia berdebat agama adalah masalah bersama bukan individu. Orang lain boleh menentukan "Mimit dosa karena mencat rambut," bukannya memberikan hak saya untuk kembali ke diri saya sendiri.

Ketiga hal di atas cukup memperkuat kebencian saya terhadap Indonesia. Namun negara ini sedang labil, sedang tidak tau diri, sedang PMS, sedang belajar, sedang butuh rakyatnya untuk saling mengingatkan. Saya akan membenci diri sendiri jika hanya menyalahkan Indonesia saja. Saya ingin membantu Indonsia mulai dari detik ini. Ada yang mau ikut? Sini saya gandeng. :)

#PeduliMerapi

Untuk yang ketiga kalinya saya, Ajeng, Muthia, Adel, Claradevi, dan Nadda, menggalang dana dari teman-teman Twitter dll untuk membelanjakan kebutuhan pokok bagi mereka yang membutuhkannya. Kali ini kami tujukan untuk para korban letusan Gunung Merapi. Kami akan mengumpulkan sumbangan dari anda (barang atau uang), lalu kami belanjakan sumbangan anda khusus yang dibutuhkan para korban, lalu kami salurkan langsung ke pengungsian, khususnya pengungsian yang belum banyak bantuan.

Ingin ikut menyumbang? Anda bisa mempercayakan sumbangan anda kepada kami. Bantuan dapat melalui melalui: BNI 0168487901 Muthia Pramudhita, BCA 0372772750 Ajeng Ayu, Mandiri 1370005709783 Ajeng Ayu, Paypal theclaradevi@gmail.com

Akan ada livetweet di acc Twitter kami (@mistymimit, @anglaina, @claradevi, @muuuthia, @adeladelia), mengenai kegiatan kami membelanjakan sumbangan dari anda, begitu pula livetweet kegiatan kami menyalurkan sumbangan ke pengungsian korban Merapi. Check hashtag #PeduliMerapi

Untuk info lebih lanjut bisa hub email saya: dianpmita@live.com :)

Update:

Hingga tanggal 22 November 2010 telah terkumpul sumbangan sebesar -+ Rp. 94.660.000,-

Posko dan pengungsian yang sudah kami salurkan bantuan: Desa Sewukan, Wonokerto, Srumbung, Kepurun, Kentungan, Pogung, GOR UNY, Rusunawa Sanata Dharma, Gelanggang Mahasiswa UGM, SMA Vanlith Muntilan, dll.

Bantuan yang sudah kami belanjakan berupa nasi bungkus, selimut, pampers, pembalut, mie instant, celana dalam, susu bayi, makanan bayi, handuk, matras, tikar, peralatan mandi, alat masak, snack, dll.

Tindakan Mbah Maridjan Kurang Bijak

Saya kurang bersimpati dengan tindakan Mbah Maridjan (BUKAN ORANGNYA). Beliau adalah panutan warga di daerah berbahaya. Namun memberi contoh tindakan yang tidak sesuai keadaan sehingga menimbulkan korban nyawa, itu bukan panutan yang semestinya.

Ini bukan 100% salah Mbah Maridjan. Namun Mbah Maridjan salah satu yang kurang bijak, selain kurangnya edukasi mengenai bencana kepada warga dan ketegasan dari pemerintah terhadap tindakan Mbah Maridjan dan warganya yang tidak mau turun ke daerah yang lebih aman.

Jika ada yang mengatakan ini amanah dan kepercayaan, lalu darimana kah itu? Saya serius bertanya, kepercayaan apa yang menyuruh manusia tetap tinggal di daerah yang positif berbahaya? Tuhanku, Allah SWT, sangat menyayangi umatnya yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah years of research, bukan hasil pikiran ketika duduk termenung. Pengetahuan mengenai gunung meledak sehingga warga harus mengungsi sesegera mungkin karena berbahaya (dapat menimbulkan luka bakar dan sesak napas bahkan meninggal) adalah sesuatu yang harus kita patuhi, bukan sepelekan.

Mbah Maridjan memang tidak mengajak warganya untuk ikut mengekori dirinya yang tetap tinggal di daerah positif berbahaya, tapi beliau adalah panutan. Tanpa harus mengajak warganya, panutan tetap menjadi panutan untuk diikuti warganya. Panutan tetap tinggal, maka pasti ada pengikutnya yang turut tinggal. Padahal ini bukan tetap tinggal di sembarang daerah, ini tetap tinggal di daerah positif berbahaya. Itu masalahnya. Lagipula, jika ada 1 orang pun yang tidak mau dievakuasi karena kepercayaannya, apakah kita akan mendiamkannya saja dari keadaan berbahaya itu? Saya menjunjung tinggi perbedaan kepercayaan. Namun jika suatu kepercayaan itu menimbulkan korban nyawa, saya tidak bisa memakluminya lagi, saya harus membantu menghentikannya, dan ingin menunjukkan hal ini tidak boleh ditiru lagi.

Membahas orang yang sudah meninggal memang tidak baik. Tapi membahas tindakan orang yang sudah meninggal untuk menjadi pelajaran bagi kita ke depannya itu perlu. Bukankah Tuhan menyukai kita yang menyukai pelajaran? :)

PS: Rest In Peace for Mbah Maridjan

Blogger Jogja Berpesta

Dulu nenek saya memiliki seorang sahabat pena tapi tak pernah bertemu. Sekarang, saya memiliki ratusan sahabat blog dan sebuah pesta akbar mempertemukan kami! Sahabat yang sudah saling mengenal namun tak pernah bertemu, maka pertemuan pertama akan selalu menjadi moment yang menggairahkan.

Namun tidak semua pesta mampu membuat pertemuan para sahabat ini hangat menggairahkan. Pesta yang meriah adalah saat seluruh tamu menikmati acara. Gabungan antara hidangan, venue, dan keramah-tamahan tuan rumah tidak selalu menciptakan kemeriahan jika tuan rumah tidak memberi kesempatan kepada para tamunya bebas melakukan apa yang mereka inginkan di pesta itu tanpa harus didikte jadwal acara.

Pesta Blogger 2010 telah berhasil menciptakannya. Pesta ini menyediakan hidangan khas Jogja, tari dan musik unik, venue yang luas dan apik, keramah-tamahan, wall of fame, dan yang terpenting waktu luang untuk kita berpesta sesuka kita! Kita tidak perlu mendengarkan pidato atau presentasi yang terlalu panjang, kita tidak perlu menjalani pesta dengan kaku. Yang kita lakukan adalah bebas mengobrol, tertawa, ramai berfoto bersama di wall of fame, hingga berjoget bersama dengan para penari Tlatah Bocah. Pesta Blogger 2010 berhasil menjadi fasilitator pertemuan para sahabat yang menciptakan kenyamanan, kehangatan, dan kebebasan.

Terima kasih PB Jogja for the enjoyable time you gave us! Jogja, sampai jumpa lagi di pesta kita! :)

Fitna

Geert Wilders.

I'm sure you guys already watch FITNA, a 2008 short film by Dutch parliamentarian Geert Wilders. This 15 minutes movie is about how worried Wilders is if Islam is getting stronger. He describe how Islam is full of sarcasm, full of killing, terorist, etc. He described it like he knows what Islam is, just because he read Al Quran.

I'm sure you guys already watch the news, how Indonesian Muslims are mad to Wilders and do such a brutal thing: burning the Netherland's flag.

If I can write a letter to anybody, I'll write it to Geert Wilders and all Muslims in this whole world.

Dear Geert Wilders,
Al Quran is not that easy to understand. We have to read it from first to last. Not just read one paragraf or two then make a conclusion. It's not that simple. Al Quran is a very sophisicated religion. It is hard but it is beautiful. No body can understand this if they doesn't know anything about Islam. What you have made is a hate. You want to make a war that the world doesn't need it.

And to all muslims,
This is not a big deal. It's just a movie. We all know that our religion is not that bad. So why should we angry about it? Just take it easy and show the world that we're not like the movie. We love peace and we respect other religion. If we go down to the street do demonstration, burn Netherland's flag, use bad words to mock Geert, and go brutal, it will make other religion really think that we are as bad as the movie, even we know we're not.