Munir

Kaos #MengenangMunir Sudah Sampai Bali!

Pada 8 Desember 2010 lalu, tepat di ulang tahun Almarhum Munir yang ke-45, saya mengadakan acara #MengenangMunir. Tema utama acara yang saya selenggarakan dibantu oleh beberapa teman ini adalah melelang 45 kaos limited edition bergambar lukisan wajah Munir ini:
Dalam semalam, 45 kaos ini habis terjual dengan dana yang terkumpul hampir 30 juta rupiah. Dari hasil lelang ini, dana saya pakai untuk memproduksi kaos bergambar Munir sebanyak-banyaknya, lalu saya bagikan ke para pekerja yang bekerja di tengah masyarakat agar pesan "Menolak Lupa" bisa dibaca oleh rakyat. Postingan mengenai rencana acara ini bisa dibaca disini dan postingan setelah acara bisa dibaca disini.
Kemudian, 20 Maret 2011 lalu, saya bersama Savior Band dan teman-teman, membagikan kaos gratis ini ke para tukang becak, pemulung, pedagang, dan tukang sapu yang berada di Jogja. Postingan pembagian kaos gratis di Jogja ini bisa dibaca disini.
Seperti yang telah saya janjikan, selain Jogja, kota lain yang menjadi tujuan pembagian kaos gratis Munir ini adalah Denpasar Bali, Jakarta, dan Malang. Permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada para pemberi dana, saya tidak bisa bergerak cepat membagikan kaos karena berbagai kesibukan terutama kuliah. Namun saya terus berusaha konsisten untuk terus membagikan kaos gratis ini seperti yang sudah saya janjikan.
Beruntung sekali saya, atas bantuan Mas Erix Soekamti, saya dikenalkan kepada Mas Robi, vokalis dari band senior di Bali, Navicula. Dengan penuh semangat, Mas Robi bersedia membantu membagikan kaos gratis Munir untuk para pekerja keras yang bekerja di tengah masyarakat Bali. Bahkan Mas Robi dan teman-teman akan mendokumentasikan pembagian kaos ini dengan foto maupun video dan akan dipublikasikan di media Akarumput. Wah saya senang sekali mendengarnya! Apalagi Navicula juga akan merilis sebuah lagu khusus untuk pahlawan kita, Munir. :)
Anyway, ada sedikit cerita dibalik pengiriman kaos Munir dari Jogja ke Bali. Jujur saja, saya tidak tahu berapa banyak kaos yang saya kirimkan ke Bali, khususnya ke Mas Robi. Kaos sudah berada di dalam karung yang sudah dipack sedemikian rupa. Sayang jika saya buka lagi. Sehingga saya hanya tau kaos yang saya kirim seberat 28kg. Saya berusaha mencari jasa pengiriman yang termurah. Saya tentu mencoret JNE dalam list karena walau jasanya terpercaya, namun untuk mengirim barang seberat hampir 30kg, pasti akan sangat memakan biaya. Apalagi biaya bukan dari dana saya sendiri, melainkan sumbangan dari lelang, sehingga saya harus menjaganya. Saya coba ke jasa yang tidak terkenal, katanya biaya jasa 300 ribu dan sampai Bali 2 minggu lebih. Astaga. Jasa ada yang 200 ribu namun tetap sampai Bali 2 minggu. Saya pergi ke Pos Indonesia, katanya bisa hanya 130 ribu namun sampai Bali 2 minggu pula! Hampir saja saya memilih jasa Pos Indonesia, namun pacar saya mengajak saya ke Jasa Pengiriman Elteha. Kami pun kesana menanyakan biaya jasa dan lama pengiriman, lalu jawabannya, "biaya 100 ribu , sampai sana maksimal 3 hari, Mbak." WHAT THE?! Wah girang sekali saya! Sudah murah, cepat pula. Saya tau Jasa Elteha sejak saya kecil. Ini langganan nenek saya. Sehingga saya percaya dan saya pilih mengirimkan kaos Munir ke Bali dengan jasa Elteha.
Sungguh tak disangka, tepat besoknya, di siang bolong, tiba-tiba saya mendapat mention dari @karumput:


So dengan ini saya ingin berbagi info bahwa jasa Elteha hebat juga. :) Buat Mas Robi dan teman-teman Navicula, kita tunggu kabar baiknya! :)

Sepucuk Surat Goenawan Mohamad untuk Sultan Alief Allende dan Diva Suki Larasati

Jakarta, 10 September 2004

Sepucuk surat untuk Sultan Alief Allende dan Diva Suki Larasati,

Kelak, ketika umur kalian 17 tahun, kalian mungkin baru akan bisa membaca surat ini, yang ditulis oleh seorang yang tak kalian kenal, tiga hari setelah ayahmu meninggalkan kita semua secara tiba-tiba, ketika kalian belum mengerti kenapa begitu banyak orang berkabung dan hari jadi muram. Kelak kalian mungkin hanya akan melihat foto di sebuah majalah tua: ribuan lilin dinyalakan dari dekat dan jauh, dan mudah-mudahan akan tahu bahwa tiap lilin adalah semacam doa: "Biarkan kami melihat gelap dengan terang yang kecil ini, biarkan kami susun cahaya yang terbatas agar kami bisa menangkap gelap."

Ayahmu, Alief, seperti kami semua, tak takut akan gelap. Tapi ia cemas akan kelam. Gelap adalah bagian dari hidup. Kelam adalah putus asa yang memandang hidup sebagai gelap yang mutlak. Kelam adalah jera, kelam adalah getir, kelam adalah menyerah.

Dengan tubuhnya yang ringkih, Diva, ayahmu tak hendak membiarkan kelam itu berkuasa. Seakan-akan tiap senjakala ia melihat di langit tanah airnya ada awan yang bergerak dan di dalamnya ada empat penunggang kuda yang menyeberangi ufuk. Ia tahu bagaimana mereka disebut. Yang pertama bernama Kekerasan, yang kedua Ketidakadilan, yang ketiga Keserakahan, dan yang keempat Kebencian. Seperti kami semua, ia juga gentar melihat semua itu. Tapi ia melawan.

Di negeri yang sebenarnya tak hendak ditinggalkannya ini, Nak, tak semua orang melawan. Bahkan di masa kami tak sedikit yang menyambut Empat Penunggang Kuda itu, sambil berkata, "Kita tak bisa bertahan, kita tak usah menentang mereka, hidup toh hanya sebuah rumah gadai yang besar." Dan seraya berujar demikian, mereka pun menggadaikan bagian dari diri mereka yang baik.

Orang-orang itu yakin, dari perolehan gadai itu mereka akan mencapai yang mereka hasratkan. Sepuluh tahun yang akan datang kalian mungkin masih akan menyaksikan hasrat itu. Terkadang tandanya adalah rumah besar, mobil menakjubkan, pangkat dan kemasyhuran yang menjulang tinggi. Terkadang hasrat kekuasaan itu bercirikan panji-panji kemenangan yang berkibar?yang ditancapkan di atas tubuh luka orang-orang yang lemah.

Ya, ayah kalian melawan semua itu.Empat Penunggang Kuda yang menakutkan itu, hasrat kekuasaan itu, juga ketika hasrat itu mendekat ke dalam dirinya sendiri?dengan jihad yang sebenarnya sunyi. Seperti anak manusia di padang gurun. Ia tak mengenakan sabuk seorang samseng, ia tak memasang insinye seorang kampiun. Ia naik motor di tengah-tengah orang ramai, dan bersama-sama mereka menanggungkan polusi, risiko kecelakaan, kesewenang-wenangan kendaraan besar, dan ketidakpastian hukum dari tikungan ke tikungan. Mungkin karena ia tahu bahwa di jalan itu, dalam kesunyian masing-masing, dengan fantasi dan arah yang tak selamanya sama, manusia pada akhirnya setara, dekat dengan debu.

Alief, Diva, kini ayah kalian tak akan tampak di jalan itu. Ada yang terasa kosong di sana. Jika kami menangis, itu karena tiba-tiba kami merasa ada sebuah batu penunjang yang tanggal. Sepanjang hidupnya yang muda, Munir, ayahmu, menopang sebuah ikhtiar bersama yang keras dan sulit agar kita semua bisa menyambut manusia, bukan sebagai ide tentang makhluk yang luhur dan mantap, tapi justru sebagai ketidakpastian.

Ayahmu, Diva, senantiasa berhubungan dengan mereka yang tak kuat dan dianiaya; ia tahu benar tentang ketidakpastian itu. Apa yang disebut sebagai "hak asasi manusia" baginya penting karena manusia selalu mengandung makna yang tak bisa diputuskan saat ini.

Ada memang yang ingin memutuskan makna itu dengan menggedruk tanah: mereka yang menguasai lembaga, senjata, dan kata-kata sering merasa dapat memaksakan makna dengan kepastian yang kekal kepada yang lain. Julukan pun diberikan untuk menyanjung atau menista, label dipasang untuk mengontrol, seperti ketika mereka masukkan para tahanan ke dalam golongan "A", "B", dan "C" dan menjatuhkan hukuman. Juga mereka yang merasa diri menguasai kebenaran gemar meringkas seseorang ke dalam arti "kafir", "beriman", "murtad", "Islamis", "fundamentalis", "kontra-revolusioner", "Orde Baru", "ekstrem kiri"?dan dengan itu membekukan kemungkinan apa pun yang berbeda dari dalam diri manusia.

Ayah kalian terus-menerus melawan kekerasan itu, ketidakadilan itu. Tak pernah terdengar ia merasa letih. Mungkin sebab ia tahu, di tanah air ini harapan sering luput dari pegangan, dan ia ingin memungutnya kembali cepat-cepat, seakan-akan berseru, "Jangan kita jatuh ke dalam kelam!"

Tapi akhirnya tiap jihad akan berhenti, Alief. Mungkin karena tiap syuhada yang hilang akan bisa jadi pengingat betapa tinggi nilai seorang yang baik.

Apa arti seorang yang baik? Arti seorang yang baik, Diva, adalah Munir, ayahmu. Kemarin seorang teman berkata, jika Tuhan Maha-Adil, Ia akan meletakkan Munir di surga. Yang pasti, ayahmu memang telah menunjukkan bahwa surga itu mungkin.

Adapun surga, Alief dan Diva, adalah waktu dan arah ke mana manusia menjadi luhur. Dari bumi ia terangkat ke langit, berada di samping Tuhan, demikianlah kiasannya, ketika diberikannya sesuatu yang paling baik dari dirinya?juga nyawanya?kepada mereka yang lemah, yang dihinakan, yang ketakutan, yang membutuhkan. Diatasinya jasadnya yang terbatas, karena ia ingin mereka berbahagia.

Maka bertahun-tahun setelah hari ini, aku ingin kalimat ini tetap bertahan buat kalian: ayahmu, syuhada itu, telah memberikan yang paling baik dari dirinya. Itu sebabnya kami berkabung, karena kami gentar bahwa tak seorang pun akan bisa menggantikannya. Tapi tak ada pilihan, Alief dan Diva. Kami, seperti kalian kelak, tak ingin jatuh ke dalam kelam.

Goenawan Mohamad Majalah Tempo Edisi 29/XXXIII/13 19 September 2004

Mengenang Munir 8 Desember 2010

Seperti pada postingan #MengenangMunir sebelumnya saya melelang 45 kaos limited edition pada malam ulang tahun Alm. Munir ke-45, Rabu, 8 Desember 2010 di Es Teler 77 Adityawarman Jakarta. Dana dari hasil lelang akan saya buatkan kaos kampanye "Menolak Lupa Munir" untuk dibagikan kepada para tukang yang bekerja di tengah masyarakat.

Saya terharu dan gembira, ternyata dana yang terkumpul dari lelang pada malam itu sebanyak 30 juta rupiah! Can you believe that? Itu belum termasuk dengan 10% keuntungan Es Teler 77 yang disumbangkan untuk kampanye ini! Padahal acara ini tidak mengeluarkan dana sepeserpun. Dari bintang tamu, venue, publikasi, hingga sound system saya dapatkan gratis untuk acara ini. Senang sekali ya! Semua sangat peduli dengan almarhum tokoh HAM kita, Munir :)

Selain banyaknya dana yang terkumpul, acara juga sangat menyenangkan. Terima kasih banyak kepada Mas Pandji Pragiwaksono dkk, Glenn Fredly, Efek Rumah Kaca, dan Positive Energy, yang sudah sangat menghibur para tamu. Terima kasih juga kepada para tamu, Mbak Suciwati (istri Munir), teman-teman yang saya kenal dari Twitter, teman-teman dari Kontras dan Kasum, teman-teman dari Maverick, para wartawan, dan para tamu lainnya yang sudah menunjukkan kepeduliannya untuk kampanye ini. :)

Tentu saya tidak akan melupakan jasa dan bantuan yang luar biasa dari Mas Angga Sasongko, Mas Chandra Danu Komoro, Mas Adib Hidayat, Mbak Shirley Muhidin, Mbak Maina Sumapradja, Brama Danuwinata Ramadhan, Mas Rahan Galileo, Mas Erix Soekamti, Mas Nady Azhri, Mbak Nadia & Mbak Hanny dari Maverick, Mbak Sari Febrianne dari Kompas, Mbak Manda dari Metro TV, Mbak Gita dari Radio KBR, Es Teler 77 Adtiyawarman, Donny Sound System, Kontras, Kasum, dan teman-teman Twitter yang banyak membantu publikasi dan mendukung acara ini, dan terakhir tentu saja Ibu saya tercinta, Noor Rahmani, yang selalu memberikan ide brilliannya. :)

Dari lelang kaos Munir malam 8 Desember 2010 lalu itu, terciptalah kaos ini...

Kaos ini siap untuk dibagikan kepada para tukang yang tentu sudah bekerja keras di tengah masyarakat, seperti tukang becak, kuli bangunan, tukang sampah, dan lain-lain. Semoga dengan kaos ini, mereka bisa membawakan pesan kampanye untuk tidak melupakan Munir.

PS: Posting pembagian kaos menyusul. Kota tujuan pembagian kaos antara lain Jogja, Jakarta, Bali, dan Malang. Kaos ini juga dijual untuk kepentingan kampanye (tidak mencari untung). Harga kaos Rp. 40.000,00 (belum termasuk ongkos kirim). Size bisa memilih dari Small (S) hingga Extra Large (XL). Jika tertarik, mohon email ke mimitsmail@gmail.com dengan subject "Kaos Menolak Lupa" Terima kasih! :)

Mengenang Munir

Tanggal 8 Desember 2010 nanti seharusnya Almarhum Munir Said Thalib berulang tahun ke-45. Sangat menyedihkan, pejuang Hak Asasi Manusia bangsa Indonesia itu telah dibunuh tahun 2004 dan kasusnya tak pernah terungkap sampai detik ini. Saya khawatir bangsa Indonesia melupakan jasa Munir kita dan acuh dengan fakta betapa buruknya hukum di Indonesia. Maka saya ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk mengenang Munir di hari kelahirannya dengan beberapa aksi, termasuk aksi berikut ini.

Akan dilelang 45 kaos putih limited edition dengan kualitas terbaik seperti pada gambar di bawah ini (klik gambar untuk lebih jelas):

Dilelang 45 kaos berwajah Munir dengan harga awal Rp. 100.000,-  pada Hari Rabu, tanggal 8 Desember 2010, di Es Teler 77, Jalan Adityawarman No. 61, Blok-M, Jakarta Selatan. Lebih seru lagi jika para pembeli memfoto dirinya memakai kaos itu lalu di-upload di masing-masing akun Twitter-nya.

Tapi tidak sampai disitu saja, dari laba kegiatan di atas, saya berencana membuat kaos bergambar wajah Munir dan bertuliskan "Menolak Lupa" di bagian punggung seperti pada gambar di bawah ini (klik gambar untuk lebih jelas):

Kaos-kaos ini akan saya bagikan gratis kepada para pekerja yang bekerja di tengah masyarakat dan punggungnya keliatan, seperti tukang becak, tukang bangunan, tukang roti, dll. Tujuan sablon dibuat di punggung agar masyarakat yang melihat para pekerja tersebut dapat dengan mudah membaca dan teringat dengan Munir. Semakin banyak hasil laba lelang, maka semakin banyak kaos yang akan diproduksi lalu dibagikan kepada para pekerja tersebut, dan semakin banyak pula kemungkinan masyarakat Indonesia membaca dan teringat dengan Munir.

Saya tidak mengambil laba sedikitpun dari aksi ini. Tujuan utama saya hanya ingin bersama-sama dengan masyarakat Indonesia, mengenang Munir di hari kelahirannya. Hidup dan perjuangan Munir tidak sepantasnya dilupakan begitu saja oleh bangsa ini.

PS: Kaos lelang adalah design dari Nady Azhry dan kaos gratis adalah design dari Anti Tank Project. Keuangan produksi kedua kaos dan ongkos kirim akan saya publish disini. Teman dan saudara yang turut serta dalam mempersiapkan dan melaksanakan aksi ini adalah Angga Sasongko, Adib Hidayat, Glenn Fredly, Pandji Pragiwaksono, Efek Rumah Kaca, Hanny Kusumawati, Chandra Danu Kumara, Maina Sumapradja, Brama Danuwinata Ramadhan, Rahan, Herman Saksono, teman-teman Twitter, dan terutama ibu saya Noor Rahmani sebagai pencetus ide.

Munir Said Thali

Cerita Sahabat Almarhum Munir

Three Musketeers: Rachland Nashidik, Munir Said Thalib, Rusdi Marpaung.

Hari ini saya diberi link oleh Oom Rachland Nashidik (@ranabaja) cerita tentang almarhum sahabatnya, Munir. Saya sangat terharu dan sedih hingga akhirnya menangis saat membaca cerita ini :(

Cerita ini semoga membuat kita tidak lupa bahwa kita pernah memiliki tokoh HAM besar yang hebat dan langka, yang dibunuh namun kasusnya tak pernah terungkap. Dengan ini saya ingin membagikan spirit agar kita semua menolak lupa dan memiliki jiwa seperti almarhum aktivis HAM kita tersebut.

Berikut ceritanya...

PANGGILAN telepon itu dari Todung Mulya Lubis, Ketua Badan Pendiri Imparsial. Siang itu, Selasa (7/9), saya ada di Manado, dan telah duduk bersama pembicara lain dalam diskusi publik mengenai RUU TNI. Namun, setelah telepon genggam saya kembali bergetar untuk ketiga kalinya, dengan berbisik saya menerimanya.

Di ujung, suara Bang Mulya serak dan setengah berteriak: "Munir meninggal! Munir kita!" Selanjutnya hanya ada saya dan berita duka yang mencabik-cabik itu. Saya keluar dari ruangan dan duduk menyendiri. Tak mau ditemui orang.

Saya mengenal Munir sejak tahun 1994 dan menjadi amat akrab dalam empat tahun terakhir ini. Praktis tiap hari saya bertemu, bekerja, berdebat, atau sekadar ngobrol dan bercanda dengannya sambil minum kopi di halaman belakang kantor kami. Sebenarnya, ia bukan peminum kopi. Ia juga sudah lama berhenti merokok. Namun, manakala sedang merasa amat penat, ia memesan kopi tanpa gula dan sesekali merokok. Saya katakan padanya, satu-satunya kesamaan dia dengan sahabat saya lainnya, Hendardi, adalah mereka sama-sama suka kopi tanpa gula.

Munir adalah tokoh besar dengan reputasi internasional yang amat bersahaja. Kurang dari setahun ini, ia baru memiliki mobil: Toyota Mark II tahun 80-an warna putih, yang ia beli secara mencicil. Sebenarnya, saya dan Ucok Marpaung berusaha agar kantor bisa membeli "mobil dinas" untuknya. Namun, ia berkeras membeli mobil sendiri.

Ia bangga dengan mobil itu, tepatnya pada perangkat CD dan sound system di dalamnya yang ia beli di Bekasi. Tiap kali saya ikut dalam mobilnya, hal pertama yang ia lakukan adalah meraih remote control dan menyetel musik, sering kali keras-keras: U2, Scorpion, Leon Hainess Band, The Bread, Genesis, Metallica, Incognito dan juga Bethoven. "Mobilku tua tetapi di dalamnya aku bisa tidur sambil mendengar musik," katanya. Bagi saya, itu adalah caranya untuk mensyukuri apa yang ia punya.

Sebelumnya, dari rumah kontrakannya di Bekasi ke kantor kami di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, tiap hari Munir naik sepeda motor bebek. Tiap kali tiba di kantor, ia kelihatan amat lelah, meski tak pernah kelihatan tak bersemangat.

Motor berpelat "N" itu adalah miliknya yang kedua. Motor pertama sempat hilang, namun ketika malingnya tahu motor itu milik Munir, motor itu dikembalikan. Beberapa bulan kemudian motor yang sama dicuri lagi dan tak pernah kembali. "Pasti maling yang ini lebih miskin dari yang sebelumnya," komentarnya sambil tertawa. Realistis tanpa kehilangan rasa jenaka. Itulah caranya menerima realitas.

Munir dikenal amat jujur. Bahkan, karena kejujurannya, ia sering amat keras pada diri sendiri. Sebagai penerima Right Livelihood Award, ia berhak atas hadiah ratusan juta rupiah. Apa yang dilakukan? "Aku dikenal orang karena penderitaan korban pelanggaran hak asasi manusia," katanya. "Jadi, aku serahkan uang itu pada KontraS agar bisa terus membela para korban. Aku minta sedikit saja. Biar aku bisa punya rumah sendiri di Malang."

Suatu hari di tahun 2003 ia harus dirawat karena ginjalnya membengkak. Awalnya ia tidak bersedia dirawat di rumah sakit, namun akhirnya mengalah dan memilih masuk kamar kelas 2. "Yang penting perawatan dan dokternya," katanya. Saya berkeras memindahkannya ke VIP agar dia bisa beristirahat sendiri di kamar. Dia menolak dan hanya setuju setelah saya ingatkan, tamu-tamu yang menjenguknya terlalu banyak dan mengganggu pasien lain. Saya katakan juga, sebagai orang sakit, tugasnya hanya segera sembuh. "Urusan lain adalah tugas orang yang sembuh."

Namun, dalam keharusannya untuk beristirahat pun, ia masih bekerja. Suatu malam Bang Mulya menghubungi saya dan menggerutu. "Munir itu membawa laptop ke rumah sakit. Bagaimana dia mau istirahat?" Saya datang malam itu juga dan mengambil laptop yang sedang ia gunakan. Ia diam saja. Namun, belakangan saya dengar dari Suci, istrinya, komentarnya tentang saya, "Aku sekarang punya istri kedua...".

SEKARANG Munir telah mendahului kita, namun ia sebenarnya tak pernah benar-benar pergi. Dari kesederhanaannya ia telah mewariskan sesuatu yang amat berharga.

He is a truly committed human rights defender. Namun, meski tidak sempat ia selesaikan, Munir juga seorang human rights thinker. Ia bergerak melengkapi dirinya dari seorang aktivis menjadi seorang pemikir. Ia tidak berhenti membaca buku, menulis, dan berdebat. Namun, ketajaman dan orisinalitas gagasannya yang sering mengejutkan, justru ia dapatkan dari pergelutannya yang menantang risiko dengan kasus-kasus pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Munir memberi kita, kepada Indonesia, sebuah standar pencapaian dalam bekerja mempromosikan dan melindungi hak-hak asasi manusia. Mulai sekarang, setiap kali orang membayangkan sosok ideal seorang human rights defender di Indonesia, orang akan selalu merujuk dan membandingkannya dengan Munir. Mulai sekarang, kita semua, tiap orang Indonesia, tak akan meminta kurang dari apa yang telah diberikan Munir.

Sering orang mulai menghargai sesuatu manakala ia telah kehilangan. Itu benar tentang relasi saya dengan Munir. Bagi saya, selama ini ia adalah seorang rekan kerja, sekutu dalam keyakinan, direktur eksekutif Imparsial, my boss. Selama ini, saya memandang dan memperlakukan relasi kami secara rasional, bahkan dalam momen-momen yang seharusnya amat personal. Baru sekarang saya sadar, sebenarnya relasi kami lebih dari itu.

Malam ketika ia berangkat ke Belanda, sesaat sebelum menaiki pesawat, ia mengirim pesan pendek ke telepon genggam saya. Sebuah pesan yang ia kirimkan juga pada Ucok. "Lan, Cok, aku berangkat. Titip kantor, anak, dan istriku."

Seminggu sebelumnya, ia juga mengirim pesan pendek dari tempat kursus bahasa Inggris. "Lan, kau di mana? Aku udah kangen nih." Saya tunjukkan pesan pendek itu pada kawan-kawan sambil tertawa, lalu membalasnya, "Sudah kubilang, aku menolak jadi istri kedua."

Munir adalah sahabat saya. My damn good friend! Saya merasa terhormat, bukan saja karena telah mendapat kesempatan untuk bekerja dengan seorang tokoh muda bereputasi internasional kelahiran Indonesia, a world class human rights defender, namun terutama karena bisa bersahabat dengan seorang pribadi yang santun, jujur, dan amat bersahaja.

Cak, terima kasih!

(KOMPAS, 11 September 2004)

Terima kasih banyak Oom Rachland yang telah membagikan cerita menarik dan inspiring ini.