Welcoming Jetta

1 Desember 2011 lalu, saat saya mengikuti protes ekspor sapi di depan Kedubes Australia, teman saya yang saat itu juga ikut protes, Mbak Artha, menyodorkan hpnya untuk menunjukkan foto anjing hitam yang terkulai lemas. Mbak Artha berbisik, "tabrak lari, belum ada yang menolong." Saya hanya bisa mewek. Beberapa jam kemudian Mbak Artha BBM saya, "akhirnya aku bawa, ga tega lihat fotonya." Anjing itu akhirnya dinamai Jetta. Ditemukan di pinggir jalan Slipi, korban tabrak lari. 6 jam ia terkulai lemas di pinggir jalan, tak ada yang menolongnya sampai Mbak Artha datang.
Awalnya Jetta dikira hamil karena berperut besar, namun ternyata tidak, dia mengidap tumor. Jadi selain kakinya patah, dia juga mengidap tumor. Tak begitu jelas bagaimana prosesnya, yang jelas Jetta dioperasi beberapa kali untuk menyembuhkan patah kaki dan untuk mengambil nanah di perutnya. Kakinya bisa sembuh walau pincang, namun tumornya tak bisa sembuh total. Jetta diperkirakan sudah tua, sehingga tak mampu menjalani operasi lebih lanjut. Perut Jetta sudah bersih, namun masih banyak tumor menonjol di beberapa bagian di tubuhnya.
Hingga bulan ini tak ada yang mau mengadopsinya. Alasannya satu, karena Jetta tumor, susah untuk diurusi. Setiap hari Mbak Artha mengganti DP BBMnya dengan foto Jetta agar ada seseorang yang mau adopsi Jetta. Jetta memiliki mata yang indah, sehingga matanya selalu membuat saya jatuh cinta ingin mengadopsi. Tapi apa daya, saya di Jogja, Jetta di Jakarta. Toh ortu saya tak mau memiliki anjing lagi, mengingat anjing kami, Shadow, yang juga rescue, tidak bisa 100% mendapat perhatian kami. Pilu saya setiap melihat DP BBM Mbak Artha berubah foto wajah Jetta. Akhirnya saya save foto itu dan saya upload di group BBM keluarga. Ternyata ayah saya jatuh cinta. Ia mau mengadopsi Jetta. Dibawalah Jetta dari Jakarta ke Jogja dengan bantuan Mas Jow dan Mbak Inong. And she's here now, part of our family. I hope we can be a good family for her.