Untuk Menyelamatkan Ibukota, Saya Dukung Faisal Basri

Tak harus menjadi superhero, jaman sekarang masing-masing dari kita bisa menyelamatkan ibukota dengan sebuah kekuatan sederhana, yaitu bersuara. 11 Juli 2012 besok nasib Jakarta ditentukan oleh warganya yang bersuara. Akan menjadi konyol jika kita memiliki kekuatan bersuara, namun memilih golput, membuang kesempatan menyelematkan ibukota dengan sia-sia. Padahal turut bersuara artinya memiliki kesempatan memilih pemimpin terbaik untuk kita. Walaupun seluruh pilihan itu buruk, paling tidak kita telah memilih yang terbaik, bukan justru memberi kesempatan yang terburuk dari yang terburuk untuk menang. Akhirnya kita sendiri yang merugi. Muncul banyak pertanyaan serupa: tapi jika dipaksa memilih, mereka akan asal memilih, hasilnya sama saja mereka bisa memilih yang terburuk? Maka jawabannya: jangan asal pilih! Jika setiap hari mengeluhkan Jakarta macet, seharusnya kita turut berusaha menguranginya, yaitu dengan memilih pemimpin yang terbaik untuk mengatasinya. Memilih bukan sekedar datang lalu mencoblos kertas. Memilih adalah proses yang dalam. Kita perlu mengeluarkan tenaga untuk mengetahui isi setiap calon pemimpin, sehingga kita memiliki bekal keyakinan siapa yang paling pantas memimpin kita. Bekal keyakinan memilih pemimpin itu ada dua, yang pertama adalah track record-nya. Ada 2 calon gubernur DKI yang sudah terbukti memiliki track record hebat, berintegritas kuat. Yang pertama adalah calon gubernur (cagub) yang sebelumnya pernah memimpin sebuah kota. Banyak teman mencintai sosok beliau. Sosok yang akhir-akhir ini sering masuk berita sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan memperjuangkan produksi dalam negri. Beliau juga telah berhasil menyelamatkan pedagang lokal dari serbuan mini market ternama. Beliau memang sosok yang berhasil dan dicintai.

Yang kedua adalah Faisal Basri. Wimar Witoelar pernah memberi testimoni, "Faisal Basri lebih konsepsional sebagai ekonom. Ekonomi yang dijalankan secara konsepsional tidak bisa memberi toleransi kepada korupsi." Ini benar. Tahun 2003, beliau sudah berani mengatakan jika Miranda Goeltom terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia, maka akan menjadi bencana nasional, seperti pada berita disini. Walau Miranda adalah gurunya, beliau tidak peduli. "Miranda itu guru saya. Tetapi karena urusannya menyangkut negara, nggak ada urusan," katanya seperti dalam berita disini. Di tahun 2010, walaupun dicaci-maki oleh Anggota Pansus Centurygate, Faisal Basri tetap tegas mengatakan bailout dari Sri Mulyani itu langkah terbaik, seperti pada berita disini. Untuk seseorang yang sudah dikelilingi dengan urusan politik, menjadi tegas itu sulit. Perlu jiwa yang percaya diri dan tidak memikirkan dirinya sendiri untuk bisa teguh mengkritik yang salah dan kuat membela yang benar. Integritas ini dimiliki Faisal Basri.

Akan tetapi jangan lupakan bekal kedua dalam memilih pemimpin, yaitu latar belakangnya.  Siapa yang mendukungnya? Siapa yang mendanainya? Bagaimana efek dukungan itu setelah dirinya terpilih? Ada seorang cagub yang memiliki track record baik namun latar belakangnya didukung oleh partai dan bahkan oleh seseorang yang terkait dengan kasus pelanggaran HAM. Siapa yang bisa menjamin sebuah partai atau sekelompok orang tidak meminta timbal balik atas dukungannya? Meresahkan jika lagi-lagi cagub yang didukung oleh partai akan berhutang budi pada partai itu, pada kelompok tertentu. Ini akan berdampak pada kebijakan-kebijakan yang menguntungkan lingkaran mereka sendiri, bukan rakyat secara keseluruhan. Sebuah kontrak politik di atas kehidupan rakyat. Kenyataan ini ironis. Jika semua calon pemimpin didukung oleh partai dan sekelompok orang, maka Jakarta seperti tak ada harapan.

Harapan Jakarta adalah memiliki pemimpin yang komplit. Bekal integritas calon tidak cukup. Kita juga perlu menilik integritas pendukung dibaliknya. Kemudian sebuah berita muncul, "Faisal Basri maju sebagai calon gubernur DKI independen, bukan dari partai." Hey Jakarta, kamu masih punya harapan! Harapan untuk tidak tergantung pada partai atau seseorang yang banyak duit namun punya sejarah kelam. Karena calon independen berangkat dari dukungan rakyat, yang hanya akan berhutang pada rakyat. Apakah gubernur independen sudah pasti tergantung pada rakyat dan tidak akan melupakannya? Tentu, karena hanya rakyatlah massa yang akan selalu mendukungnya. Bukan partai, bukan DPRD, bukan segelintir orang kaya. Hanya rakyat. Ia tak mungkin melupakan rakyat, tumpuan kepemimpinannya.

Sekali lagi, kita tak harus menjadi superhero untuk bisa menyelamatkan ibukota. Cukup menggunakan kekuatan kita, yaitu bersuara. 11 Juli 2012 besok nasib Jakarta ditentukan oleh warganya yang bersuara. Keluarkan tenaga untuk mengetahui setiap isi calon pemimpin kita. Tidak hanya sosok pemimpinnya yang menjadi bekal dalam memilih, tetapi juga latar belakang pendukungnya. Kita harus berusaha memastikan pilihan kita yang terbaik dari yang lain. Karena usaha kita berujung pada perbaikan kehidupan kita sendiri nantinya.

Saya bukan warga Jakarta. KTP saya Sleman. Beberapa orang Jakarta memandang saya sinis karena saya mencampuri urusan warga Jakarta. Bahkan seorang teman bertanya pada saya, "KTP mu tu manaaa? Ngapain ikut-ikut dukung Faisal Basri!" Sounds right but wrong. Salah kah kita, warga luar Jakarta, ikut membahas atau bahkan mendukung seorang cagub DKI besok? Tidak. Jakarta sebagai ibukota negara adalah pusat politik dan ekonomi negara. Maka kebijakan dan perubahan politik maupun ekonomi yang terjadi di Jakarta akan berdampak di kota lain. Di kota saya dan kota-kota lainnya. Maka menjadi kewajiban kita semua untuk turut mencampuri masa depan Jakarta. Jangan suruh kita duduk manis, berdiam diri, tak berbuat apapun untuk ibukota saat sebenarnya kita memiliki suara dan media untuk turut berbuat sesuatu memperbaikinya. Diam adalah kemunduran. Lebih baik buka mata dan gunakan kekuatan kita bersuara dengan bijak, karena misi kita sama: memperbaiki ibukota negara tercinta, Jakarta.

Terkait: