Terlalu Serius

Tidak jarang saya mendapatkan komentar dari beberapa orang tentang betapa seriusnya saya di Twitter maupun dunia nyata. Saya selalu membahas masalah politik dan sosial. Katanya saya terlalu serius. Kadang saya mendapat nada negatif, atau nomention negatif. Beberapa menolak diajak diskusi serius karena tidak mau pusing. Katanya seharusnya hidup saya itu dinikmati, jangan serius-serius amat. Ironisnya, ada seorang teman yang juga menikmati diskusi serius masalah negara menjadi tidak pede untuk ikut berdiskusi. Katanya karena takut dapat sindiran nyinyir. Duh sayang sekali ya? Ada anak muda yang peduli permasalahan negara kok dijatuhkan mentalnya. ): Nada serupa juga sering saya dengar pada pembahasan film-film yang pakai mikir. Bagi saya, film yang pakai mikir itu asyik. Menantang dan menegangkan. Bahkan film mikir itu sering memberi pelajaran-pelajaran hidup yang berharga. Tapi banyak juga yang berkomentar sinis seperti, "mau nonton film kok pakai mikir!"  Bagi saya, tidak masalah tidak menyukai film seperti selera saya. Itu kan selera masing-masing.

Dari situ saya baru sadar, bahwa berdiskusi itu seperti nonton film. Punya selera masing-masing untuk dapat menikmatinya. Ada yang suka berdiskusi masakan, fashion, game, atau politik. Ada yang suka nonton komedi, drama, horor, atau thriller. Bagi saya, asal bisa memahami dan menikmati apa yang didiskusikan atau ditonton, pasti akan menikmatinya. Asal bisa memahami dan menikmati diskusi politik atau film pakai mikir, pasti akan menikmatinya. Jadi tidak perlu terlalu sinis atau mengejek orang yang terlalu serius, yang suka berdiskusi politik. Tak usah menjatuhkan mental mereka. Apalagi mereka yang punya kepedulian terhadap negara. Kita hanya berbeda selera saja. Tidak masalah kan? (: