Pengalaman Menyaksikan Final Debat Konvensi Demokrat

Hari Minggu, 27 April 2014 lalu, saya mendapat kesempatan untuk hadir menyaksikan Final Debat Konvensi Partai Demokrat di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta. Saya sungguh excited hingga ada yang bertanya kepada saya, "memangnya apa istimewanya?" Oh banyak. Selain saya jadi bangun pagi di Hari Minggu, saya juga jadi bisa menemui berbagai macam hal dalam acara ini yang tidak diliput di tv. Hal baik maupun hal buruk.

Suasana hotel pagi itu penuh sesak seperti suasana konser musik. Tidak anggun, tidak seperti sebuah acara penting. Mungkin karena terlalu banyak supporter. Walau setiap kandidat hanya memiliki 50 kursi untuk supporter, namun banyak tim sukses kandidat yang memasukkan supporter lebih dari 50. Hasilnya banyak supporter yang berdiri dan ramai. Butuh waktu beberapa lama untuk meminta dan bahkan menertibkan para supporter yang berdiri di tengah-tengah untuk mundur dan tidak berisik. Entah kenapa mereka yang tidak memiliki tempat duduk tidak dipersilahkan keluar saja.

Setelah supporter selesai meneriakkan masing-masing yel dukungan dan suasana menjadi lebih kondusif, maka acara dimulai. Sedikit terlambat dari jadwal yang seharusnya dimulai pukul 10.00. Kemudian Ketua Komite Konvensi Maftuh Basyuni naik panggung memberikan pidato pembukaan. Pidatonya tidak klise. Pembukaannya cukup nendang dan catchy untuk didengarkan. "Walau perolehan suara Demokrat tidak seperti yang diharapkan, namun pendapat agar konvensi dibubarkan tidak benar. Karena ini politik. Politik bukan matematika. Dalam politik semua bisa terjadi," katanya. Mungkin maksudnya, walau Demokrat kalah suara secara matematika, namun karena ini politik maka masih ada jalan untuk menang. Seperti melobby partai pemenang misalnya. Dengan memiliki kandidat yang hebat, maka ada kemungkinan menarik para partai pemenang untuk berkolaborasi.

Dalam acara ini, saya hadir bukan untuk memberi support kepada satu kandidat saja. Saya hadir untuk menyaksikan dan ingin menulis ulang apa yang saya dengar dan saksikan. Saya mengharapkan mendapat banyak hal yang menarik untuk saya tulis dari jawaban-jawaban para kandidat. Namun harapan saya tidak terjadi. Pertanyaan dari panel kepada para kandidat adalah pertanyaan-pertanyaan klise seputar pertumbuhan ekonomi dan korupsi. Ini menyebabkan jawaban para kandidat menjadi terlalu normatif dan sering kita dengar. Namun untuk beberapa kandidat yang sudah menguasai kondisi bangsa dan sudah siap dengan detail solusinya, jawaban mereka sangat menarik dan mendetail. Visi-misi mereka terdengar kuat dan pantas untuk dipertimbangkan.

Seperti misalnya pertanyaan seputar ekonomi yang pertama yaitu, "Apa strategi menjaga pertumbuhan ekonomi hingga 5 tahun ke depan?" Masing-masing kandidat sesuai nomor urut menjawab. Berikut catatan saya mengenai jawaban mereka,

Irwan Gusman: seharusnya menjaga investasi, membangun infrastruktur, memeratakan pembangunan, dan mengedepankan sektor pertanian."

Hayono Isman: pertumbuhan ekonomi tidak hanya dijaga tapi juga ditambah. Contohnya dengan meningkatkan iklim investasi dan menghilangkan birokrasi yang menghambat.

Ali Masykur Musa: Indonesia harus memiliki strategi pertumbuhan ekonomi yang dapat diterima di dunia, makro maupun mikro harus seimbang. Caranya adalah pertama, spending government harus ditingkatkan untuk pertumbuhan daerah, kedua adalah pro investasi dengan pendistribusian investasi, ketiga ekspor ditingkatkan, keempat sektot riil difasilitasi, dan kelima konsumsi rumah tangga harus baik.

Promono Edhi Wibowo: pertumbuhan ekonomi harus dijaga dan ditingkatkan. Pemerintah harus melihat apa yang sudah baik. Apakah bebas namun juga pro pada rakyat. Harus ada kombinasi dari keduanya. Bantuan memang seharusnya diberikan namun seharusnya bukan merata namun sesuai kebutuhan dan tepat sasaran. Selain itu juga investasi harus dimudahkan.

Gita Wirjawan: konsumsi, investasi, APBN, dan ekspor selama ini sudah meningkat. Tapi menurutnya kita memiliki peluang untuk meningkatkan APBN dari pajak. Jadi bagaimana caranya merealisasikan agar para pembayar pajak meningkat sehingga APBN meningkat. Selama ini pembayar pajak masih di jauh di bawah yang seharusnya. Maka solusinya dengan membuahkan kepentingan penegakan hukum. Anggaran pemerintah yang besar dapat meningkatkan dompet fiskal dalam waktu yang lebih singkat lagi. 

Marzuki Ali: bangga, seharusnya pertumbuhan ekonomi dipertahankan dengan 6 pilar. Yaitu 1. government spending ditingkatkan, 2. momentum investasi dijaga, 3. mendorong ekspor, 4 pengendalian impor, 5. membenahi logistik nasional (Marzuki mengatakan ada 6 pilar namun hanya menyebutkan 5 point).

Dino Patti Djalal: pertumbuhan ekonomi Indonesia langka, yang lain jatuh tapi Indonesia tetap di ata. Era 10 tahun terbaik, SBY baik, meningkatkan menjadi lebih unggul. Menjadikan Indonesia demokrasi kelas menengah, yaitu dengan menaikkan kalangan kelas bawah menjadi kelas menengah.

Dahlan Iskan: mencatat baik kampanye Demokrat, komit melaksanakan untuk mempertahankan. Capres tak mungkin punya langkah yang bertentangan dengan Demokrat. Jangan membuat ke Selatan tapi program ke Utara melawan Demokrat. Komit menaikkan gaji pegawai menjadi 5 juta, konsumsi masyarakat harus ditingkatkan,

Endriartono Sutarto: pertumbuhan ekonomi penting dan masyarakat menjadi lebih baik. Harus ingat pertumbuhan ekonomi tidak mudah. Bagaimana melanjutkan keadaan ekonomi Indonesia yang sangat baik? Pendukungnya adalah antara lain  investasi, government spending, ekspor ditingkatkan dengan mengurangi impor, konversi bbm.

Sinyo H. Sarundajang: setuju pendapat semua capres. Pertumbuhan ekonomi harus dijaga oleh pemimpin yang depan, reformasi birokrasi, mendapatkan aparatur yang lebih baik sampai di desa, dan memberikan 1 M untuk setiap desa.

Anies Baswedan: meneruskan pertumbuhan ekonomi dengan pendapatan per kapita diteruskan, memastikan kualitas meningkat, jangka pendek produktivitas nasional ditingkat sumber daya, peningkatan kapasitas. Bisa membuat lebih banyak (infrastruktur diteruskan, peningkatan kualitas manusia, pusat pertumbuhan ekonomi menyebar seluruh Indonesia dengan insentif fiskal, relokasi pusat BUMN dari Jakarta ke tempat-tempat yang dekat dengan BUMN).

Dari jawaban seputar ekonomi di atas, jika dicermati sudah nampak siapa kandidat yang memiliki pemahaman mengenai Indonesia dan visi-misi yang kuat. Saya meyakini hanya Gita, Ali, Dino, dan Anies yang memiliki jawaban yang patut dipertimbangkan.

Saya berharap beberapa pertanyaan berikutnya adalah pertanyaan yang lebih nendang. Saya berharap perdebatan antara kandidat akan menarik dan penuh kompetisi ide. Misalnya mengenai sistem pendidikan di Indonesia, kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan, hingga jalan keluar terhadap banyaknya agama yang dianggap sesat. Namun sama saja, pertanyaan dari panel terlalu umum dan pada akhirnya bisa dijawab kandidat dengan jawaban yang normatif dan klise pula. Lalu setelah melalui proses tanya-jawab yang berlangsung hampir 4 hingga 5 jam (untuk 4 pertanyaan), kami dipersilahkan makan siang.

Usai makan siang justru hal menarik terjadi, yaitu tingkah laku para supporter beberapa kandidat. Saya tidak mengerti mengapa MC justru membakar para suppoter dengan menyuruh mereka beryell-yell kembali. Hasilnya mereka meneriakkan yell dengan ngotot seakan sedang menonton pertandingan tinju. Bahkan beberapa naik kursi mengepalkan tangan. Namun saat kandidatnya sedang menjawab pertanyaan, justru para pendukungnya tidur atau ngobrol sendiri. Seperti pendukung Marzuki Ali yang duduk tepat di samping kanan saya ini:

unnamed
unnamed

Apakah ini tidak konyol? Ini adalah acara formal untuk mencari siapa kandidat Partai Demokrat yang dipercaya untuk nantinya menjadi calon presiden Indonesia. Mengapa seakan supporter mendukung para kandidatnya hanya untuk aksi-aksian saja? Tanpa mencermati betul siapa kandidat yang terbaik dalam menjawab pertanyaan untuk kepentingan negara. Maksud baik Demokrat yang ingin menjadi partai demokrasi dalam memilih pemimpinnya menjadi terkesan mainan saja. Sungguh disayangkan. Semoga hal ini di kemudian hari tidak terjadi lagi. Semoga tiap kandidat ke depannya memastikan supporter mereka adalah supporter yang benar-benar mengetahui kualitas mereka. Tapi yang terpenting tiap kandidat juga harus tau, tak ada gunanya membayar supporter karena pada akhirnya akan terlihat konyol.

Setelah yell-yell dari supporter yang terlalu ramai selesai, kemudian pertanyaan seputar sosial dan hukum dimulai. Tak banyak yang menarik dari pertanyaan maupun jawaban tiap kandidat. Sekali lagi menurut saya ini dikarenakan pertanyaan dari panel terlalu klise dan umum. Sehingga jawaban para kandidatpun menjadi ikut terdengar terlalu klise dan umum pula. Tidak hanya itu, bahkan beberapa kandidat seperti Dahlan, Hayono, Dino, Marzuki, dan Irwan justru terlalu over memuji kinerja dan segala kebaikan SBY. Ini membuat beberapa penonton menertawakan kelakuan mereka. Namun ada satu pertanyaan mengenai pemberantasan korupsi dari panel yang menurut saya hanya Gita yang dapat menjawab dengan sangat baik. Semua kandidat menjawab mengenai segala macam usaha pemberantasan korupsi, namun hanya Gita yang paham betul bahwa penyidik di Indonesia saat ini adalah 1:45.000, dibandingkan penyidik Hong Kong yang 1:200. Artinya, 1 orang penyidik di Indonesia harus menyidik 45.000 PNS. Sehingga pada dasarnya Indonesia kekurangan penyidik. Jika penyidik ditambah, maka akan makin banyak kasus korupsi terungkap.

Kemudian ada yang ironis di saat Dino mendapat kesempatan menjawab pertanyaan terakhir. Ia memilih untuk menggunakan waktu jawabnya untuk menjadi pidato penutup dari perjalanan konvensi yang ia ikuti. Ia berpidato panjang mengenai kebanggaan dirinya terhadap Demokrat, satu-satunya partai yang melakukan konvensi. Setelah Dino melewatkan waktu jawabnya untuk waktu pidato penutupan, di akhir acara ternyata panitia memberikan waktu sendiri kepada setiap kandidat untuk memberikan pidato penutupan. Tentu saja Dino kaget. Bahkan Gita melontarkan canda agar Dino memakai waktu pidato penutupannya sebagai waktu jawab yang ia lewati tadi. Semua penonton tertawa. Kasihan Dino. Ini sebuah ketidaksiapan panitia dalam mengarahkan acara. Kenapa bisa membiarkan kandidat mengira tidak memiliki waktu untuk pidato penutupan? Kenapa pula membiarkan Dino memakai waktu jawab untuk waktu pidato penutupan? Sungguh ironis dan tidak profesional.

Walaupun begitu, penutupan dari tiap kandidat berlangsung seru. Seperti saat Dahlan memohon SBY untuk menunda sidang kabinat karena dirinya ingin menonton pertandingan Liverpool. Selain itu ada pula penutupan dari kandidat yang tidak terlalu nendang dan memorable. Pada intinya semua kandidat menyatakan kebanggaannya terhadap Demokrat dalam melakukan konvensi yang tidak dilakukan oleh partai lain. Perlu diacungi jempol walau ada juga yang mengatakan ini semua hanya sandiwara. Banyak yang mengatakan pada akhirnya SBY juga yang akan menentukan siapa 1 dari 11 kandidat yang akan diusung menjadi capres Demokrat. Well, who knows?

Setelah SBY pidato menutup acara ini, para kandidat menghampiri SBY di panggung lalu berfoto bersama. Semua supporter berebut mendekati panggung ingin memfoto mereka. Para wartawan meneriaki mereka karena mereka berdiri menutupi pandangan kamera wartawan. Namun banyak yang tidak mengguris teriakan wartawan dan tetap berdiri. Bahkan ada 2 ibu-ibu yang naik ke panggung untuk berfoto padahal panggung sudah akan dipakai untuk konferensi pers. Saya hanya geleng kepala dan keluar.

850259496
850259496

Dari segala pengalaman mengecewakan dari konvensi ini, sekali lagi saya dibuat bangga oleh Indonesia. Bagaimana mungkin hanya dalam waktu 17 tahun, negara ini sudah begitu demokratisnya. Calon pemimpin diadu kehebatannya untuk Indonesia, lalu dipilih secara terbuka, disaksikan masyarakat umum, bahkan kemudian boleh ditulis secara blak-blakan oleh blogger tanpa rasa takut. Sebuah kehormatan dapat mengikuti konvensi ini dan menulisnya. Semoga partai lain mempertimbangkan untuk turut melakukan hal serupa.