Masalah Diskriminasi: Anda Massery atau Lorch?

Foto yang diambil oleh Will Counts pada tahun 1954 di atas menggugah pagi saya. Seorang siswa kulit hitam, Elizabeth Eckford, yang sedang menuju gedung sekolah Little Rock harus mendengarkan berbagai cacian dari warga dan siswa lain mengenai rasnya yang dinilai tak pantas masuk sekolah. Salah satu perempuan kulit putih di belakangnya tampak sedang berteriak mencacinya penuh kebencian, namanya Hazel Massery.
Pada hari itu Eckford yang sudah menuju sekolahnya harus pulang karena dihalangi pasukan garda nasional perintah Gubernur Arkansas. Eckford tak dapat menahan tangisnya. Seorang reporter The New York Times, Benjamin Fine, merasa iba kepadanya. Ia lalu duduk di samping Eckford dan berkata, "don't let them see you cry." Setelah itu, seorang wanita bernama Grace Lorch mendatanginya dan mengantarkan Eckford naik bus, sehingga membuat Eckford merasa aman.
Setelah kejadian itu, Lorch menjadi target bully selanjutnya. Dinamit sempat dilemparkan seseorang ke garasinya. Anak Lorch, Alice, menjadi korban bully di sekolahnya. Media mencacinya. Akhirnya keluarga Lorch menyadari mereka telah di-blacklist dan mereka memutuskan pindah ke Kanada. Lorch mendapatkan perlakuan buruk dari masyarakat hanya karena menolong gadis berusia 15 tahun yang sedang menangis.
Kejadian itu menjadi berbalik pada masa sekarang. Mereka yang dahulu membully kulit hitam, sekarang menjadi target bully masyarakat. Cacian juga berbalik arah kepada Massery. Ia akhirnya menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada Eckford lewat The Oprah Winfrey Show. Sementara Grace Lorch, yang dahulu mendapat perlakuan sangat buruk dari masyarakat, sekarang namanya menjadi sangat harum. Masyarakat memberikan apresiasi kepadanya.
Tahun 2008, 54 tahun kemudian, seorang kulit hitam bernama Barack Obama terpilih menjadi presiden AS. Sebuah sejarah besar yang menunjukkan diskriminasi terhadap kulit hitam sudah tiada. Ya jaman sekarang seakan-akan sudah berubah. Bahwa masyarakat sudah lebih terbuka dan penuh toleransi. Namun tidak. Jaman sekarang masalah diskriminasi kepada ras sudah selesai namun diskriminasi selanjutnya muncul. Berikutnya kepada kaum gay. Jamey Rodemeyer, seorang remaja gay 14 tahun dari New York berusaha keras selalu menghibur dirinya yang selalu dibully oleh teman sekolah dan komen-komen di blognya. Salah satu komen yang paling jahat yang pernah diberikan kepadanya adalah:   "I wouldn't care if you died. No one would. So just do it :) It would make everyone WAY more happier!" September 2011 lalu, Rodemeyer ditemukan bunuh diri di rumahnya. Setelah kematiannya pun, kakak perempuan Rodemeyer masih saja mendapat cacian dari teman-temannya. Salah satunya, "we're happy Jamey's dead."
Suatu hari semua akan berbalik arah juga. Mereka yang sekarang menghina dan menghakimi kaum gay akan menjadi bahan cacian di masa datang. Namun masalah kebencian baru lainnya pun akan muncul, lalu selesai, lalu muncul lagi, lalu selesai, lalu muncul lagi, dan seterusnya. Ada apa dengan manusia? Mengapa jiwanya penuh kebencian, merasa yang paling normal, paling benar, sehingga berhak menghakimi orang lain yang terlahir tidak seperti kebanyakan orang?
Tapi pertanyaan utama saya bukan itu. Pertanyaan saya untuk hati Anda yang paling dalam, seperti siapakah jiwa Anda? Seperti Hazel Massery atau Grace Lorch? Jika Anda sadar selama ini Anda bertindak seperti Hazel Massery, tunggu saja, 50 tahun lagi atau kurang dari itu, semua akan berbalik dan Anda akan menyesalinya. Sejarah telah membuktikannya. Maka berhenti mengurusi dan menghakimi kehidupan orang lain yang tak pernah merugikan kehidupan kita.
Postingan terkait: Dian Paramita - Gay Dian Paramita - A Mother of Gay