Maaf

Saya belajar dari Ashton Kucher, yang berjiwa besar meminta maaf kepada publik dan mengakui kebodohannya yang teledor mengomentari sesuatu dalam tweet-nya namun ternyata ia salah. Seseorang yang salah kadang dalam hatinya mengakui dirinya salah, namun terlalu gengsi untuk meminta maaf. Saat meminta maaf pun, orang yang berjiwa kerdil akan hanya sekedar mengucap maaf namun terasa terpaksa, tidak benar-benar meminta maaf.

Belajar dari Ashton Kucher, jika salah, meminta maaf lah segera dan tunjukkan betapa kita sangat menyesalinya dan mengakui kebodohan kita. Beberapa bulan lalu, satu tweet saya ada yang salah dan merugikan orang lain. Banyak yang protes, menyalahkan saya. Saya sempat kebingungan. Kemudian saya ingat sikap jiwa besar Ashton, maka saya praktekan. Saya meminta maaf dengan tulus dan sangat mengakui kesalahan. Tak diduga, orang-orang yang tadinya menyalahkan saya langsung memaafkan dan justru balik menghormati sikap saya. Dari kejadian itu, saya akui, maaf adalah sebuah energi yang sangat positif. Namun jika kita benar-benar memahami kesalahan kita dan ikhlas mengakuinya.

Tapi tak semua maaf semudah itu kita lakukan. Entah karena sibuk, atau kita masih belum yakin dengan kesalahan kita, atau orang lain masih belum bisa memaafkan kita. Beruntung Allah telah memberi kita waktu yang sangat spesial untuk meminta maaf dan memaafkan. Jika di dunia ini kita melakukannya bersama-sama, maka lebih mudah kan? Allah begitu cerdik, begitu baik, seharusnya kita tidak menyiakan moment berharga ini. Mari kita saling meminta maaf dan memaafkan.

Selamat idul fitri saudara-saudaraku. Sepenuh hati saya memohon maaf atas segala kata dan tindakan yang tidak berkenan.