Latar Belakangmu, Cobaanmu

Seumur hidup saya, saya tak pernah sendirian. Jarang sekali saya berada di dalam kamar sendirian, menyetir sendirian, belanja sendirian, makan sendirian, atau bahkan tidur sendirian. 24 jam hidup saya bersama orang-orang yang menyayangi saya.
Saya terlahir dari keluarga yang penuh kasih sayang. Punya ibu-bapak yang pengertian dan demokratis, kakak yang dewasa dan selalu menghibur saya, 4 kakek-nenek yang lucu dan memanjakan saya. Kakek-nenek dari ibu maupun bapak hidup di kota yang sama dengan saya. Saya pun cucu terakhir bagi mereka. Bagaimana rasanya menjadi cucu terakhir? Surga. Kesana kemari saya yang menjadi pusat perhatian dan dimanja. Saya tak pernah sendirian. Selalu ditemani saat makan dan bermain, dibantu jika ada masalah, didengarkan jika sedang bersedih, hingga dipeluk jika akan tidur. Tapi ini cobaan bagi saya.
Saat saya remaja, saya punya banyak sahabat yang punya banyak waktu luang untuk hang-out dengan saya. Saya juga memiliki pacar yang memanjakan sekaligus selalu menemani saya kemanapun saya minta. Saya tak pernah sendirian. Dimanapun, kapanpun, saya selalu ditemani mereka. Bahkan untuk menyetir mobil sendirian pun bagi saya adalah sebuah kesedihan yang luar biasa. Sehingga saya selalu menghubungi mereka untuk menemani saya pergi. Mereka selalu bersedia menemani saya. Tak pernah tidak. Tapi ini cobaan bagi saya.
Sekarang umur saya 23 tahun. Teman-teman saya sudah dewasa dan memiliki banyak kesibukan dengan dunia kuliah maupun kerjanya. Pacar sayapun begitu, punya pekerjaan di luar kota sehingga tidak bisa fokus memanjakan saya. Keluarga saya merasa saya sudah tua, sudah dewasa, tidak harus dimanja atau ditemani lagi. Saya? Terpuruk. Tak pernah saya merasa sendirian seperti ini seumur hidup saya. Saya tidak biasa. Jujur saja, kadang saya menangis karena merasa sendirian.
Lalu saya sadar, mana ada orang umur 23 tahun menangis hanya karena di kamar sendirian tidak ada orang lain menemani? Saya sadar saya sudah keterlaluan. Bukan keadaan yang salah, tetapi saya sendiri. Latar belakang menciptakan sifat dan kebiasaan. Latar belakang saya adalah anak yang dimanja dan tak pernah sendirian, maka saat sendirian di kamar atau di mobil, saya gampang sedih dan merasa tidak beruntung. Kedewasaan saya terlambat dari teman-teman sebaya saya atau bahkan yang lebih muda dari saya. Mereka lebih dahulu bisa menjadi orang yang mampu menghadapi masalah sendiri tanpa bantuan orang lain. Saya kalah start keluar dari zona aman.ย Tapi tidak ada kata terlambat kan?
Setelah saya ingat latar belakang kehidupan saya sejak kecil, saya menjadi paham dengan masalah saya saat ini. Latar belakang saya yang selalu dimanja menyebabkan saya tidak pernah terbiasa untuk hidup sendiri dan menyelesaikan masalah sendiri. Setelah saya memahaminya, sekarang saya bisa menyelesaikan masalah saya ini, yaitu membiasakan hidup sendiri. Saya sadar hidup sendiri itu bukan sebuah kesedihan, namun itulah manusia, harus mampu hidup berdampingan dan juga mampu hidup sendirian.
Saya menulis ini tidak hanya untuk menghibur diri dan mengingatkan diri saya sendiri, tetapi juga ingin berbagi ilmu untuk memahami diri kita sendiri. Kamu pemarah? Kamu pemalu? Atau kamu pecundang yang selalu dikucilkan teman-temanmu? Lihat ke belakang dan pelajari masa lalumu. Kamu akan tau hal apa saja yang menciptakan sosokmu. Mungkin cara ini bisa membantumu untuk mengatasi masalahmu saat ini. Good luck teman-teman. ;)
PS: Thank you my dear Claradevi. Nasehat dari dialah yang menginspirasi postingan ini. :)