Selamat Ulang Tahun Alm. Eyang Kasmat Bahoewinangoen

Hari ini eyang kakung saya, Kasmat Bahoewinangoen berulang tahun. Jika ia masih hidup, ia berumur 104 tahun. Dia adalah satu satu role model hidup saya. Memiliki jabatan dan sejarah hidup yang hebat tak membuatnya menjadi orang yang kaku. Ia masih tetap konyol dan lovable dalam kehidupan sehari-harinya. Saya ingin seperti dirinya.
Menurut Kotagede Ensiklop, eyang adalah tokoh kemerdekaan dan nasional. Ayah eyang seorang abdi dalem Kasultanan Yogyakarta, sedang ibunya seorang pengusaha emas dan intan terkenal di Kotagede. Dibesarkan di Kotagede, dididik guru mengaji Kyai Ibrahim, eyang kakung Kasmat sempat mengenyam sekolah Kristen milik Belanda, sebelum masuk ke Sekolah Kehakiman di Jakarta. Eyang bekerja sebagai Panitera di Pengadilan Negeri, dan setelah ditempatkan di beberapa daerah, meneruskan studi ke Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta, dan Fakultas Hukum Universitas Leiden Belanda, hingga meraih gelar Mr. (Mister) tahun 1943.

Eyang kakung Kasmat pernah menjadi Wakil Ketua PSSI, anggota pengurus besar Muhammadiyah, dan juga anggota pengurus besar Partai Islam Indonesia. Selain itu, eyang juga menjadi anggota delegasi Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) di Jepang. Bersama dengan Kahar Muzakkir dan Faried Ma’roef ditangkap oleh Belanda pada masa Perang Dunia II karena dituduh mengadakan gerakan untuk menggulingkan pemerintahan Belanda. Mereka bertiga dijatuhi hukuman mati, tapi berhasil selamat karena pemerintah Belanda dijatuhkan oleh Jepang. Atas jasa eyang, pemerintah Indonesia penghargaan sebagai salah seorang perintis kemerdekaan.
Sejak tahun 1960-1963, eyang kakung Kasmat menjadi Rektor UII, setelah sebelumnya menjabat sebagai Dekan Fakultas UII. Eyang menggantikan Prof. KH. Abdul Kahar Muzakkir sebagai rektor pada tahun 1960. Eyang menduduki jabatan itu dalam waktu relatif pendek yakni hanya sekitar tiga tahun, tetapi dalam kepemimpinannya berhasil membawa UII berkembang lebih maju dengan dibukanya Fakultas Syari'ah dan Tarbiyah, cabang UII di luar Yogyakarta, dan diperolehnya status bagi fakultas-fakultasnya. Fakultas Syari'ah dan Tarbiyah dibuka pada tahun 1961 dan 1962 sebagai pengganti Fakultas Agama UII yang pada tahun 1950-an diambil alih oleh Departemen Agama.
Dengan seluruh hal yang pernah eyang capai dan jabati, eyang berbeda saat di rumah. Lebih tepatnya eyang konyol, lucu, aneh, tapi lovable. Cerita-cerita mengenai eyang banyak saya dengar dan baca dari berbagai orang yang pernah mengenalnya. Seperti pernah saat di Leiden, Belanda, ia dan teman-temannya mengerjai noni-noni Belanda dengan menyamar menjadi anak kecil. Tinggi badan orang Indonesia termasuk sangat pendek sehingga banyak orang Belanda mengira mereka masih SD. Karena itu mereka justru mengerjai noni-noni Belanda dengan berpura-pura menjadi anak kecil menangis di pinggir jalan karena mau pipis. Saat ada noni Belanda membantu dan membuka celananya, tentu si noni kaget dan teriak karena untuk ukuran anak kecil, burungnya terlalu besar. Eyang dan teman-temannya memang jahil sekali.
Eyang kakung sangat mencintai eyang putri saya, eyang putri Siti Habibah. Eyang putri adalah bunga Jogja pada jamannya karena sangat cantik. Pada masanya, perjodohan masih lazim. Eyang putri dijodohkan dengan eyang kakung. Sebelum eyang kakung melamar eyang putri, ada 3 laki-laki yang lebih dulu melamarnya. Walau ketiga lelaki itu dari kaum bangsawan tapi oleh kakak tertua eyang putri tidak ada yang diterima. Eyang Kasmat lah yang diterima, karena latar belakang pendidikannya yang tinggi. Mendengar cerita ini saya bangga sekali. Ternyata saya memang terlahir dari keluarga yang menomor satukan pendidikan. Jadilah eyang kakung menikahi eyang putri.
Memiliki istri yang cantik menjadikan eyang kakung termasuk sosok suami takut istri. Walau eyang putri cantik, tapi ia galak sekali. Hehehe. Pernah suatu ketika eyang kakung mencat mobilnya dari warna merah menjadi putih lalu memamerkannya kepada eyang putri. Melihat hasilnya, eyang putri marah sekali dan tidak mau naik mobil itu jika tidak diubah dengan warna yang asli. Ini bukan karena eyang putri pilih-pilih tapi karena eyang kakung mengecat mobilnya dengan jarinya! Hahaha. Karena eyang putri marah dan tidak mau naik mobil itu lagi jika tak diubah ke warna aslinya, eyang kakung pun mengecatnya kembali ke warna merah, tetapi lagi-lagi dengan jarinya. :D
Namun pernah suatu ketika eyang kakung tak peduli jika eyang putri marah, yaitu saat eyang memberikan jaket bulu asli dari Jepang milik eyang putri ke seorang perempuan yang kedinginan di pinggir jalan. Ia tak peduli harga jaket bulu itu, dari mana jaket itu, atau bagaimana jika istrinya marah, yang eyang pedulikan nasib perempuan yang kedinginan itu. Saya selalu mengenang cerita ini untuk dijadikan contoh hidup dalam memilih prioritas dalam hidup.
Sayangnya saya tak banyak mengenal eyang. Pendengaran dan pengliatannya sudah terganggu sejak saya lahir. Tapi saya masih ingat wajahnya, baunya, ekspresinya jika tertawa, dan bagaimana dia memanggil "Mita" sambil mencari kepala saya. Ia selalu ada di benak saya dan menjadi  role model hidup saya dalam mencapai cita-cita besar namun tetap menikmati hidup. Selamat ulang tahun Eyang Kasmat. Salam untuk eyang putri, eyang buyut, dan tentu saja Tuhan.
Related Story:

Ahmad Kasmat Bahoewinangoen

Kasmat Bahoewinangoen Membantu MIROTA Berdiri

Wikipedia: Kasmat Bahoewinangoen

Rektor Universitas Islam Indonesia