Diskusi "Matinya Universitas & Demokrasi" Fakultas Hukum UGM

Sore tadi akhirnya UGM membuat diskusi berjudul "Pembatalan Diskusi Irshad Manji: Matinya Universitas dan Demokrasi" di Fakultas Hukum. Acara ini (kalo saya tidak salah) diselenggarakan oleh Mahkamah FH UGM dengan moderator Mas Adip (LKiS) dan pembicara antara lain Zainal Abidin Baghir (Direktur Center for Religious and Cross-Cultural Studies), Ari Dwipayana (Dosen Fisipol UGM), Hasrul Halili (Dosen Hukum UGM), dan Kartika Nurohman (perwakilan KAMMI).
Sebagai pembicara pertama, Pak Zainal menceritakan ulang bagaimana kronologis perencanaan dan pembatalan diskusi yang CRCS selenggarakan dengan pembicara Irshad Manji itu. Ia mengaku bahwa banyak sekali diskusi mengenai agama yang sering dibahas di CSCR ini, namun tak pernah ada masalah. Ia juga menceritakan bagaimana Polda menghubungi panitia acara untuk terlebih dahulu berdiskusi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ia menyesalkan, universitas sebesar UGM ternyata bisa dikalahkan oleh sekelompok orang yang kita tak tau persis seberapa besar mereka. "Apakah semua diskusi harus didiskusikan dulu dengan suatu kelompok karena sensitif? 2 bulan yang lalu ada diskusi Papua kurang sensitif apa? Tapi tak ada juga yang memberitakan. UGM seperti tidak berdaya dalam situasi seperti itu. Negara ini sudah tidak aman," tegasnya. Menurut Zainal, polisi justru menyuruh membatalkan, tidak mau melindungi mereka, seperti tidak mau repot. "Banyak kasus malah korban diungsikan. Jadi yang salah bukan yang marah-marah itu. Ini situasi yang tidak baik," tambahnya.
Pembicara kedua adalah seorang dosen Fisipol UGM yang cukup ternama, Ari Dwipayana. Ia memulai pembahasannya mengenai bangsa yang pelupa. Menurutnya, peristiwa kemarin sebenarnya mengingatkan kita untuk melawan lupa. "Dengan cara mendiskusikannya kembali adalah strategi melawan lupa itu. Peristiwa seperti ini tidak hanya sekarang, tapi sudah pernah. Hanya saja kita mempunyai ingatan yang pendek," katanya. Hal yang paling penting yang disampai Pak Ari adalah mengenai keberadaan Statuta UGM sebagai fondasi dasar UGM. Dalam Statuta UGM, terdapat penjelasan mengenai kebebasan mengeplorasi, menggali ilmu pengetahuan, dan mengekspresikan pada mimbar akademik. Hak hidup universitas itu dijamin dalam Statuta UGM dengan prinsip dasar bertanggung jawab. Baginya, diskusi sore itu bukan untuk memperbaiki citra universitas, tapi untuk memperbaiki hak hidup universitas. "Ini bukan hanya isu UGM. Namun lebih luas lagi. Maka agenda yang harus dilakukan bukan hanya mendorong kebebasan akademik di UGM untuk kita, tapi juga di luar UGM, yaitu kebebasan berekspresi tanpa harus diganggu oleh ancaman. Kalo kita tidak memiliki kebebasan akademik untuk mencapai kebenaran maka itu tragedi. Kelompok-kelompok ini memanfaatkan kebebasan, tapi disaat bersamaan membunuh kebebasan. Karena negara membiarkan aksi kekerasan mereka," tegasnya"
Pembicara ketiga adalah seorang dosen Fakultas Hukum UGM yang sedang serius mendalami masalah korupsi, Hasrul Halili. Selain membahas mengenai aspek kebebasan berpendapat, ia juga menceritakan bagaimana petinggi UGM menjawab alasan-alasan pembatalan diskusi Irshad Manji. Selain alasan keamanan, ada pula alasan bahwa masyarakat dirasa mereka belum siap dengan diskusi ini. Menanggapi alasan itu, Pak Hasrul kecewa sekali karena dianggap bodoh tak mampu berdiskusi. "Jangan pikir kami kambing congek yang bodoh dan tidak bisa berfikir nalar dalam berdiskusi. Jangan mendahului kami dengan merasa perlu melindungi kami dengan membungkam hak orang berbicara," tegasnya. Disamping itu Pak Hasrul mengkritisi CSCR yang seharusnya meminta maaf kepada Irshad Manji karena kejadian tersebut. "Ini bukan budaya menerima tamu yang baik. Seharusnya pihak CSCR yang diketuai Pak Zainal itu meminta maaf," katanya.
Kemudian tiba-tiba ada tambahan pembicara satu lagi yang telat datang, yaitu Kartika Nurohman, perwakilan dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). KAMMI inilah yang meminta kepada pihak UGM untuk membatalkan adanya diskusi buku Irshad Manji di UGM. Kartika menjelaskan alasan kenapa ia dan kawan-kawan meminta diskusi buku Irshad Manji dibatalkan, yaitu karena ketakutan mereka jika Irshad Manji menularkan ke-lesbian-nya. Ia juga menjelaskan bahwa bagi dia dan kawan-kawannya, diskusi Irshad Manji memiliki lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya karena tidak sesuai ajaran Islam. Namun di tengah-tengah ia menjelaskan mengenai alasannya, dia juga menanyakan, "Irshad itu Bung atau Mbak saya juga tidak tau. Mungkin kalo di rumah jadi Bung," katanya. Mungkin baginya itu joke, tapi bagi saya dan beberapa orang disitu tidak lucu sama sekali.
Lalu pada sesi bertanya, saya menjadi penanya pertama. Poin saya ada 3, antara lain:

  1. Alasan keamanan tidak bisa diterima. Jika ancaman itu dituruti oleh UGM maka sama saja UGM takut pada ancaman preman. UGM telah dipimpin preman. LKiS memang kehilangan piring, kaca, dan lain-lain, tapi mereka tidak kehilangan harga diri dalam melakukan haknya. UGM sudah kalah dengan LKiS.
  2. Saya katakan langsung pada Kartika, "lesbian itu tidak menular, Mas. Jika ada cewek telanjang di depan saya, tidak akan saya apa-apakan. Dan dalam ilmu psikologi, lebian/gay sudah dihapus dari salah satu penyakit jiwa. Jadi sekali lagi, lesbian itu tidak menular."
  3. UGM sebagai tingkatan pendidikan tertinggi diperlukan untuk meluruskan arti kebebasan berpendapat dan liberalisme. Karena masih banyak masyarakat yang mengatakan membatalkan Irshad berdiskusi itu adalah salah satu kebebasan berpendapat. Ada ketidaktahuan dari beberapa kalangan masyarakat mengenai definisi kebebasan berpendapat itu, sehingga perlu diluruskan UGM.

Lalu Kartika menjawab, "lesbian itu menular. Saya punya 3 teman yang tertular." Saya jawab dia lagi, "itu berarti dia memang sudah lesbi, Mas. Dan saya lebih percaya ilmu pengetahuan daripada pengalaman seseorang dengan 3 temannya." Kartika menjawab lagi, "saya lebih percaya dengan pengalaman saya bahwa 3 teman saya tertular." Lalu ditimpali Pak Zainal sambil menatap saya, "eh ada 3 lho. Banyak lho itu 3" Hahaha saya dan forum semua tertawa menanggapi guyonan Pak Zainal. Bahwa Kartika, yang hanya memiliki 3 pengalaman, sudah yakin betul bahwa lesbian itu menular. Selain itu Kartika menambahkan bahwa KAMMI ini adalah gerakan, dan gerakan lebih penting dari akademik. Tentu semua heran.
Selain saya, 3 penanya yang lain (semua dari mahasiswa UGM) hampir mirip dengan saya, intinya mereka juga tidak setuju dengan adanya pembatalan diskusi UGM. Namun ada satu perempuan yang setuju dan mengatakan dirinya keberatan dengan adanya diskusi Irshad Manji. "Mau dia lesbi kek, bukan kek, saya tidak peduli. Tapi saya tidak setuju jika dia mengadakan diskusi yang menodai agama," katanya. Hal ini selanjutnya ditanggapi oleh Pak Zainal, "kalo dia lesbi tapi dia muslim, mau gimana Mbak?" Perempuan tadi menjawab ingin Irshad keluar dari Islam. Pak Zainal menyayangkan statement tersebut karena itu sama saja mengambil hak seseorang. "Bila dia ingin haji, dia mengaku muslim, ga boleh juga? Hak-haknya hilang. Itu susahnya. Sekarang tambah lama tambah banyak. Sekarang yang banyak ada kasus di Aceh tahun lalu. SK Gubernur Aceh, itu melarang suatu aliran sesat, Ahmadiyyah, Syiah, beberapa aliran Tasawuf. Sekarang di Aceh persoalannya bukan yang mana Islam dan bukan, tapi yang mana yang Sunni dan mana yang enggak. Jadi makin lama makin sempit. Ini repot. Kalo Anda bilang agama dilukai, ini perbedaan harus dilihat. Kalo saya punya pandangan yang berbeda dalam menafsirkan Quran misalnya, saya tidak mempunyai niat buruk, dan saya kira orang Ahmadiyyah segala macam tidak punya niat buruk, tapi kemudian dituduh melukai, ini saya kira bahasa yang buruk yang sering dipakai untuk mengungkapkan perbedaan. Jika ada perbedaan dikatakan penodaan dan niat untuk melukai. Masyarakat kita seperti ini, mau apa lagi. Ini adalah masyarakat yang majemuk, mau apa lagi. Ada beberapa hal yang kita nggak suka, kita harus biarkan ketidaksukaan itu. Sekali lagi saya khawatir, semakin lama semakin 'ini tidak boleh ngomong tentang Islam, kalo kamu ngomong gitu, kamu bukan Islam'. Nah saya heran, umat Islam ini teriak-teriak 'wooo ada Kristenisasi' tapi yang orang Islam tidak diakui sebagai orang Islam. Jadi makin lama makin sedikit, repot. Ini seperti ada asumsi bahwa akan ada penikaman. Ini perbedaan yang harus disikapi. Yang kita tidak sukai itu realitas, jadi mau apalagi. Mau kita bunuh segala macam? Nah kembali ke tema kita sekarang ini, cara menghadapi hal-hal seperti ini, adalah dengan berbicara. Ada forum yang enak, kita bicara, dan jangan sekali-kali berfikir bahwa semua orang di dunia ini bodoh. Kalo Ahmadiyyah dibiarkan nanti semua orang akan jadi Ahmadiyyah, sesat, masuk neraka, segala macam. Belum tentu. Yang penting kasih ruang dulu supaya orang pikirannya jalan. Akal ini kan dikasih Tuhan, supaya orang mikir. Jangan takut pada sesuatu yang sudah diberikan Tuhan. Terima kasih," jawabnya panjang dan disambut tepuk tangan.
Selama hampir 3 jam diskusi itu berjalan dengan lancar dan damai. Diskusi yang dihadiri dan dihidupkan oleh 2 pemikiran yang berbeda dan saling mengkritisi, menimpali, mengungkapkan pendapatnya. Seperti itulah yang seharusnya terjadi pada diskusi orang yang berpendidikan.
PS: Terima kasih Mahkamah Fakultas Hukum UGM karena telah menyelenggarakan diskusi hebat ini. Paling tidak masyarakat tahu bahwa tak semua warga UGM setuju dengan adanya pembatalan diskusi Irshad Manji dan kita tidak mau diam menanggapi tragedi itu.