Dampak Jangka Panjang Kilang Minyak Baru di Indonesia

Saya selalu maklum dan berusaha sabar jika melihat perkembangan Indonesia. Negara ini sudah lama dijajah, baik bangsa luar (penjajah) maupun bangsa sendiri (Soeharto and friends), sehingga saat pada akhirnya kita benar-benar merdeka di tahun 1998, kita tidak bisa langsung dapat berjalan dengan tegap. Kita seperti bayi yang sedang belajar merangkak. Walaupun belum bisa berjalan dengan gagah seperti bangsa lain, paling tidak sedikit demi sedikit kita terus berusaha lebih baik.

Seperti dalam masalah kebutuhan minyak negara. Dalam postingan saya yang sebelumnya, PT Pertamina sebenarnya memiliki 7 kilang minyak namun karena alasan ekonomis, satu kilang tidak dioperasikan lagi. Karena hanya memiliki 6 kilang minyak, maka tentu saja minyak yang dihasilkan tidak memenuhi kebutuhan minyak untuk bangsa yang boros ini. Mau tak mau pemerintah harus memilih import dan dicap antek asing.

Sebagai pemerintah, mereka tidak boleh ngambek jika diomelin dan dikatain antek asing melulu. Mereka harus tetap berputar otak agar dapat menyediakan minyak untuk kebutuhan bangsa tetapi juga melepaskan ketergantungan dari negara lain. Disini pemerintah melakukan beberapa hal, salah satunya pembangunan kilang minyak baru yaitu New Grass Root Refinery (NGRR) di Tuban. Jika pembangunan ini sukses, maka diperkirakan kapasitas produksi kilang minyak yang dioperasikan Pertamina menjadi dua kali piat dan kualitasnya pun akan jauh lebih baik. Bahkan ada kemungkinan Indonesia dapat menjadi bangsa pengekspor minyaknya. 

Tak hanya bermanfaat bagi produksi minyak, namun pembangunan kilang minyak di Tuban juga diharapkan bermanfaat bagi pembangunan manusia disana. Adanya kilang minyak baru diperkirakan akan menyerap sekitar 50 ribu tenaga kerja, khususnya di Tuban. Kilang minyak juga akan membuka peluang UMKM dan beasiswa maupun pelatihan untuk pelajar disana.

Sama seperti bayi yang sedang merangkak, kita adalah bangsa yang sedang tertatih-tatih berjalan menuju kemajuan dan kemandirian. Karena memerlukan waktu dan kerja keras, maka kita harus bersabar dan berfikir optimis. Tidak adil jika kita memaksa bangsa ini harus segera maju dan langsung hebat hanya dalam waktu 19 tahun setelah reformasi. Tambah tidak adil lagi jika kita ngomel saat minyak habis, ngomel saat minyak mahal, ngomel saat import, tetapi memakai minyak dengan boros dan bahkan menggunakan minyak subsidi pemerintah. Maka kita harus mengapresiasi rencana pemerintah dengan Pertamina ini. Cukup dengan turut melakukan perubahan konsumsi dengan tidak boros dan memiliki pemahaman bahwa segala sesuatu membutuhkan waktu dan proses yang lama.

Tetapi negara tetap butuh rakyatnya untuk kritis mengawasi pemerintah atas segala keputusannya. Kita memang harus selalu berfikir positif dengan rencana-rencana pemerintah namun juga waspada. Segala rencana dan niat baik pasti ada kelebihan maupun kekurangannya. Yang kita ketahui saat ini hanya kelebihannya, antara lain bertambahnya kapasitas produksi minyak yang dapat memenuhi kebutuhan minyak bangsa, bertambahnya kualitas minyak, adanya kemungkinan ekspor minyak, penyerapan puluhan ribu tengara kerja di Tuban, terbukanya peluang UMKM, dan pemberian beasiswa maupun pelatihan untuk pelajar di sana.

Namun kira-kira, apa ya kelemahan dari pembangunan kilang minyak di Tuban ini? Yuk diskusi di kolom komentar. :)