Cerita Sahabat Almarhum Munir

Three Musketeers: Rachland Nashidik, Munir Said Thalib, Rusdi Marpaung.

Hari ini saya diberi link oleh Oom Rachland Nashidik (@ranabaja) cerita tentang almarhum sahabatnya, Munir. Saya sangat terharu dan sedih hingga akhirnya menangis saat membaca cerita ini :(

Cerita ini semoga membuat kita tidak lupa bahwa kita pernah memiliki tokoh HAM besar yang hebat dan langka, yang dibunuh namun kasusnya tak pernah terungkap. Dengan ini saya ingin membagikan spirit agar kita semua menolak lupa dan memiliki jiwa seperti almarhum aktivis HAM kita tersebut.

Berikut ceritanya...

PANGGILAN telepon itu dari Todung Mulya Lubis, Ketua Badan Pendiri Imparsial. Siang itu, Selasa (7/9), saya ada di Manado, dan telah duduk bersama pembicara lain dalam diskusi publik mengenai RUU TNI. Namun, setelah telepon genggam saya kembali bergetar untuk ketiga kalinya, dengan berbisik saya menerimanya.

Di ujung, suara Bang Mulya serak dan setengah berteriak: "Munir meninggal! Munir kita!" Selanjutnya hanya ada saya dan berita duka yang mencabik-cabik itu. Saya keluar dari ruangan dan duduk menyendiri. Tak mau ditemui orang.

Saya mengenal Munir sejak tahun 1994 dan menjadi amat akrab dalam empat tahun terakhir ini. Praktis tiap hari saya bertemu, bekerja, berdebat, atau sekadar ngobrol dan bercanda dengannya sambil minum kopi di halaman belakang kantor kami. Sebenarnya, ia bukan peminum kopi. Ia juga sudah lama berhenti merokok. Namun, manakala sedang merasa amat penat, ia memesan kopi tanpa gula dan sesekali merokok. Saya katakan padanya, satu-satunya kesamaan dia dengan sahabat saya lainnya, Hendardi, adalah mereka sama-sama suka kopi tanpa gula.

Munir adalah tokoh besar dengan reputasi internasional yang amat bersahaja. Kurang dari setahun ini, ia baru memiliki mobil: Toyota Mark II tahun 80-an warna putih, yang ia beli secara mencicil. Sebenarnya, saya dan Ucok Marpaung berusaha agar kantor bisa membeli "mobil dinas" untuknya. Namun, ia berkeras membeli mobil sendiri.

Ia bangga dengan mobil itu, tepatnya pada perangkat CD dan sound system di dalamnya yang ia beli di Bekasi. Tiap kali saya ikut dalam mobilnya, hal pertama yang ia lakukan adalah meraih remote control dan menyetel musik, sering kali keras-keras: U2, Scorpion, Leon Hainess Band, The Bread, Genesis, Metallica, Incognito dan juga Bethoven. "Mobilku tua tetapi di dalamnya aku bisa tidur sambil mendengar musik," katanya. Bagi saya, itu adalah caranya untuk mensyukuri apa yang ia punya.

Sebelumnya, dari rumah kontrakannya di Bekasi ke kantor kami di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, tiap hari Munir naik sepeda motor bebek. Tiap kali tiba di kantor, ia kelihatan amat lelah, meski tak pernah kelihatan tak bersemangat.

Motor berpelat "N" itu adalah miliknya yang kedua. Motor pertama sempat hilang, namun ketika malingnya tahu motor itu milik Munir, motor itu dikembalikan. Beberapa bulan kemudian motor yang sama dicuri lagi dan tak pernah kembali. "Pasti maling yang ini lebih miskin dari yang sebelumnya," komentarnya sambil tertawa. Realistis tanpa kehilangan rasa jenaka. Itulah caranya menerima realitas.

Munir dikenal amat jujur. Bahkan, karena kejujurannya, ia sering amat keras pada diri sendiri. Sebagai penerima Right Livelihood Award, ia berhak atas hadiah ratusan juta rupiah. Apa yang dilakukan? "Aku dikenal orang karena penderitaan korban pelanggaran hak asasi manusia," katanya. "Jadi, aku serahkan uang itu pada KontraS agar bisa terus membela para korban. Aku minta sedikit saja. Biar aku bisa punya rumah sendiri di Malang."

Suatu hari di tahun 2003 ia harus dirawat karena ginjalnya membengkak. Awalnya ia tidak bersedia dirawat di rumah sakit, namun akhirnya mengalah dan memilih masuk kamar kelas 2. "Yang penting perawatan dan dokternya," katanya. Saya berkeras memindahkannya ke VIP agar dia bisa beristirahat sendiri di kamar. Dia menolak dan hanya setuju setelah saya ingatkan, tamu-tamu yang menjenguknya terlalu banyak dan mengganggu pasien lain. Saya katakan juga, sebagai orang sakit, tugasnya hanya segera sembuh. "Urusan lain adalah tugas orang yang sembuh."

Namun, dalam keharusannya untuk beristirahat pun, ia masih bekerja. Suatu malam Bang Mulya menghubungi saya dan menggerutu. "Munir itu membawa laptop ke rumah sakit. Bagaimana dia mau istirahat?" Saya datang malam itu juga dan mengambil laptop yang sedang ia gunakan. Ia diam saja. Namun, belakangan saya dengar dari Suci, istrinya, komentarnya tentang saya, "Aku sekarang punya istri kedua...".

SEKARANG Munir telah mendahului kita, namun ia sebenarnya tak pernah benar-benar pergi. Dari kesederhanaannya ia telah mewariskan sesuatu yang amat berharga.

He is a truly committed human rights defender. Namun, meski tidak sempat ia selesaikan, Munir juga seorang human rights thinker. Ia bergerak melengkapi dirinya dari seorang aktivis menjadi seorang pemikir. Ia tidak berhenti membaca buku, menulis, dan berdebat. Namun, ketajaman dan orisinalitas gagasannya yang sering mengejutkan, justru ia dapatkan dari pergelutannya yang menantang risiko dengan kasus-kasus pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Munir memberi kita, kepada Indonesia, sebuah standar pencapaian dalam bekerja mempromosikan dan melindungi hak-hak asasi manusia. Mulai sekarang, setiap kali orang membayangkan sosok ideal seorang human rights defender di Indonesia, orang akan selalu merujuk dan membandingkannya dengan Munir. Mulai sekarang, kita semua, tiap orang Indonesia, tak akan meminta kurang dari apa yang telah diberikan Munir.

Sering orang mulai menghargai sesuatu manakala ia telah kehilangan. Itu benar tentang relasi saya dengan Munir. Bagi saya, selama ini ia adalah seorang rekan kerja, sekutu dalam keyakinan, direktur eksekutif Imparsial, my boss. Selama ini, saya memandang dan memperlakukan relasi kami secara rasional, bahkan dalam momen-momen yang seharusnya amat personal. Baru sekarang saya sadar, sebenarnya relasi kami lebih dari itu.

Malam ketika ia berangkat ke Belanda, sesaat sebelum menaiki pesawat, ia mengirim pesan pendek ke telepon genggam saya. Sebuah pesan yang ia kirimkan juga pada Ucok. "Lan, Cok, aku berangkat. Titip kantor, anak, dan istriku."

Seminggu sebelumnya, ia juga mengirim pesan pendek dari tempat kursus bahasa Inggris. "Lan, kau di mana? Aku udah kangen nih." Saya tunjukkan pesan pendek itu pada kawan-kawan sambil tertawa, lalu membalasnya, "Sudah kubilang, aku menolak jadi istri kedua."

Munir adalah sahabat saya. My damn good friend! Saya merasa terhormat, bukan saja karena telah mendapat kesempatan untuk bekerja dengan seorang tokoh muda bereputasi internasional kelahiran Indonesia, a world class human rights defender, namun terutama karena bisa bersahabat dengan seorang pribadi yang santun, jujur, dan amat bersahaja.

Cak, terima kasih!

(KOMPAS, 11 September 2004)

Terima kasih banyak Oom Rachland yang telah membagikan cerita menarik dan inspiring ini.