Panti Asuhan Bina Siwi Bantul

Saat kami datang, salah satu dari mereka lari menghampiri kami. Ia mengulurkan tangannya untuk salaman. Di balik pintu, teman-temannya mengintip, lalu memberanikan diri ikut lari mendatangi kami. Sambil tertawa lebar, mereka memberikan tangannya untuk bersalaman, mencium tangan kami, menyapa ramah. Mata mereka cerah.

Salah satu mata cerah itu, 3 tahun lalu, memiliki masa lalu yang tak begitu cerah. Namanya Muryanti. Saat ia masih duduk di taman kanak-kanak, gurunya mengeluhkan Muryanti yang selalu diam di kelas. Bahkan dicubit pun tak bereaksi, tetap diam. Sang guru curiga bahwa Muryanti adalah penyandang tuna wicara. Muryanti menjadi korban bullying oleh teman-teman sekelasnya. Ia semakin membisu. Suatu hari sang guru melaporkan ke pengurus Panti Asuhan Bina Siwi, Ibu Yanti dan Ibu Jumilah, bahwa Muryanti tidak pernah datang ke sekolah selama 3 minggu. Mendapat berita itu, Bu Yanti dan Bu Jum berinisiatif mendatangi rumah Muryanti untuk melihat kabar gadis kecil itu. Betapa kagetnya mereka bertemu Muryanti dengan tubuh penuh borok  yang bau sekali. Kepalanya pun dipenuhi dengan kutu. Muryanti diduga tidak pernah mandi. Saat itu pula mereka menemukan ibu kandung Muryanti yang memang secara mental tidak waras. Di rumah apapun yang dilakukan Muryanti selalu dilarang dan dimarahi ibunya. Biasanya Muryanti hanya diam. Tapi jika tidak tahan ia akan menitikkan air mata, tetap tanpa ekspresi. Ayah Muryanti sudah meninggalkan mereka entah kemana. Sementara nenek buyutnya hanya bisa tidur karena sudah stoke. Satu-satunya yang masih waras adalah neneknya, seorang buruh tani. Kehidupan sehari-hari mereka hanya dari hasil sang nenek memburuh.

Dengan mengandalkan motor, Bu Yanti dan Bu Jum membawa Muryanti. "Nyuwun sewu njih (maaf ya), kalo boleh jujur, maaf, tapi waktu itu sebenarnya saya jijik sekali. Baunya, maaf, bikin muntah. Tapi bagaimana lagi, kami harus tolong dia. Saya gendong dia, pangku dia di motor, lalu Bu Yanti yang membawa motornya," cerita Bu Jum. Muryanti dibawa ke puskesmas untuk mengobati boroknya. Sejak saat itu Muryanti diasuh dan dibina berbagai macam pelajaran untuk seusianya. Sekarang, 2 tahun kemudian, di hadapan saya, gadis berusia 9 tahun itu selalu tersenyum lucu. Ia tak malu memperkenalkan namanya di depan kami. Matanya cerah, wajahnya bahagia. Kata Bu Yanti, dia adalah anak yang rajin dan paling bersih jika menyapu. Ia juga jago menari maupun menyanyi. Suatu hari kami akan ditunjukkan Muryanti menari sambil menyanyi.

Lain lagi dengan Sari. Gadis berusia 25 tahun itu dahulu saat bencana Merapi terjadi, ia ketakutan sekali. Saking takutnya, ia sampai naik bus kota menjauhi rumahnya. Ia pun kesasar. Semua orang mengira dia gila. Ia selalu diusir oleh masyarakat yang melihatnya. Sampai akhirnya polisi membawanya ke Panti Bina Siwi untuk diasuh. Satu tahun berlalu, tak ada kabar dari keluarga Sari. Suatu hari tak sengaja ada yang mengenali Sari lalu melaporkan ke keluarga Sari mengenai keberadaannya. Satu bus dari desa asal Sari mendatangi panti. Mereka senang sekali Sari masih hidup dan sehat. Mereka mengira Sari sudah meninggal. Namun saat Sari hendak diajak pulang, Sari tidak mau. Mungkin karena sudah terbiasa dan banyak temannya, Sari pun hingga sekarang menetap di panti dan selalu dijenguk orang tuanya.

Sari memiliki kebiasaan unik. Jika mandi, air dalam bak mandi harus sampai habis. Bahkan sabunnya pun harus sampai habis. Kalo tidak habis dia belum mau berhenti mandi. "Padahal anak-anak lain pada mau berangkat sekolah, wah judeg (bingung) saya," cerita Bu Jum sambil tertawa. Akhirnya mereka mengakali dengan memberi satu ember air dan irisan kecil sabun mandi khusus untuk Sari. "Setiap anak itu punya karakter dan kelebihan yang berbeda-beda. Jadi kalo ada 26 anak disini, ada 26 karakter, ada 26 masalah. Kami mengakali terus," katanya penuh semangat.

Selain Muryanti dan Sari, ada 24 anak lain yang tinggal di panti. Mereka memiliki latar belakang dan permasalahan yang berbeda. Ada yang epilepsi, down syndrome, korban broken home, yatim-piatu, dll. Dengan banyaknya penghuni panti yang berusia 7 hingga 40 tahun itu, pemerintah membantu mereka dengan rutin menyumbang dana sebesar Rp. 750.000,- per tahunnya. Sumbangan sejumlah itu untuk 26 anak asuh dan ditambah 8 pengurusnya. Beruntung warga Kecamatan Pajangan Bantul sangat baik. Mereka memberikan tanah desa untuk keperluan panti. Warga pun mengumpulkan uang untuk membantu dana membangun gedung panti. Beberapa warga menyumbang batu bata, jendela, hingga keramik. Lantai gedung panti itu pun warna-warni karena berasal dari berbagai macam keramik yang berbeda. "Ini malah lucu, Kenang-kenangan bahwa ini semua dari warga desa sini," kata Bu Yanti bahagia.

Tidak hanya merawat anak belajar kehidupan sehari-hari, Bu Yanti dan Bu Jum juga merawat anak panti mereka untuk belajar mandiri. Mereka mengajari anak panti untuk menjahit, mewarnai batik, dan menjaga kios. Harapan mereka, anak-anak tidak hanya dapat mengurusi diri mereka sehari-hari, namun juga mampu mencari penghasilan. Bu Yanti semangat menunjukkan seragam hasil jahitan anak-anak. Mereka berdua juga langsung mengajak kami ke kios yang mereka bangun untuk mengajari anak-anak berdagang. Kios itu lagi-lagi di atas tanah milik desa dan sumbangan dari warga. Di belakang kios, mereka dengan bangga menunjukkan batik-batik yang sedang diwarnai dengan pewarna alami. Mereka sedang mencoba, dan jika berhasil ingin mengajari anak-anak agar turut membantu dan mencari penghasilan bersama.

Saat saya tanyai, darimana asalnya niat baik semua ini, mereka mengaku dari pendidikan yang mereka terima. Bu Yanti maupun Bu Jum adalah lulusan Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SG PLB). Setelah lulus, tahun 1999 mereka ingin merealisasikan pendidikan yang selama ini mereka terima, maka dibangunlah panti ini.  Sejak 1999 hingga sekarang, anak di panti menambah dan tak pernah berkurang. Tak ada yang mau mengadopsi anak penyandang cacat atau bermasalah. Maka mereka lah yang akan seumur hidup mengurusi anak-anak ini lahir dan batin. Saat bercerita, berulang kali Bu Jum mengatakan rasa syukurnya atas kehadiran kami dan berkali-kali mengucap terima kasih. Mereka tidak merasa, bahwa kitalah yang berhutang budi dan seharusnya berterima kasih atas segala jasanya, mendahulukan kesejahteraan orang lain, di atas dirinya sendiri. Datang, memeluk, membina, dan membesarkan anak-anak asuhnya agar percaya diri menunjukkan diri apa adanya,

Menjelang pulang, mereka masih antusias menceritakan kepada kami tentang batik-batik yang sedang mereka warnai. Mereka tidak sabar untuk mengajari anak-anak asuh mereka. Saya pun berjanji akan menuliskan panti ini di internet, agar panti mereka lebih banyak dikunjungi masyarakat, dan agar masyarakat belajar banyak dari kehidupan mereka. Mereka berbinar-binar dan berulang kali mengucap terima kasih. Tidak, seharusnya kami yang berterima kasih. Terima kasih Ibu Yanti dan Ibu Jum. The world is cruel, but you both showed us we don't have to be.

PS: Tanggal 30 November 2012 ini saya bersama teman saya Bernad Satriani akan mengunjungi panti ini lagi. Jika ada yang ingin menyumbang, baik barang maupun dana, silahkan hubungi kami di contact@dianparamita.com. Terima kasih atas segala perhatian dan bantuannya.

Update:

  • Awal Februari ini saya bersama Fanbul, Ristha, Tonny, Aik, dkk akan mengunjungi panti ini lagi. Jika ada yang ingin menyumbang, baik barang maupun dana, silahkan hubungi kami di contact@dianparamita.com. Terima kasih atas segala perhatian dan bantuannya. :)
  • Sebelum penggalangan dana, sudah terkumpul sumbangan dari beberapa teman dengan total Rp700.000,- :)