Berfikir Sebelum Menolong

Subuh ini saya dan Mbak Utied memiliki pengalaman hidup yang tak terlupakan. Saya menulis ini khusus untuk teman-teman, terutama perempuan, agar belajar dari pengalaman kami barusan. Sekitar pukul 02.00 WIB subuh, saya dan Mbak Utied pulang dari Seturan, Jogja. Mbak Utied mengendarai mobil mengantarkan saya pulang dahulu. Saat di tengah jalan, di daerah sekitar Gejayan, di kanan jalan saya melihat ada pria bule tua berbadan besar sedang mendorong seorang perempuan kecil asia menghantam mobil. Saya sangat khawatir, apalagi dada perempuan itu terbuka, padahal ada sekitar 7 laki-laki menonton mereka berkelahi. Saya meminta Mbak Utied untuk berhenti lalu membuka jendela menanyakan kepada seorang laki-laki yang sedang menontong. Saya tanyai dia apa yang sedang terjadi, dia jawab  pria bule dan perempuan asia itu sedang berkelahi. Saya dan Mbak Utied bingung, lalu keluarlah saya dari mobil. Saya mendekati pasangan itu, saya tanyai mereka, "what is going on here?" Si perempuan menjawab, "he's drunk, you know!" sambil menggeret sabuk si pria bule. Pria bule itu teriak menjawab,  "I just wanna go home!" Mereka rebutan kunci mobil, lari-lari, geret-geretan hingga celana hampir copot, uang ratusan ribu si pria bule jatuh berserakan, dada perempuan itu lagi-lagi terbuka dan tidak segera ia tutupi. Saya langsung menghampiri perempuan itu untuk membantunya menutupi dadanya. Si pria bule bilang rumahnya dekat situ sehingga dia pulang jalan kaki, sementara perempuan itu tidak mau ditinggal. Perempuan itu menarik lagi namun terjatuh hingga terluka. Si pria bule langsung pergi meninggalkannya. Perempuan itu berdiri dan memeluk saya sambil menangis dan berkata, "he's my husband, my name is Melati (bukan nama sebenarnya), please help me," dan saya jawab, "what do ou want me to do?" Berulang kali ditanyai, berulang kali ia menjawab, "he's drunk you know." Nafas perempuan itu berbau alkohol, maka kami tau dia pun mabuk.

Salah satu orang disitu yang ikut membantu meleraikan mereka -belakangan saya tau namanya Mas Nico- ternyata berhasil mendapatkan kunci mobil mereka. Mas Nico langsung naik mobil mereka, bermaksud mengantarkan Melati ke rumahnya. Saya pun ikut naik karena Melati masih menangis memeluk saya. Mbak Utied mengikuti mobil kami dari belakang. Dalam perjalanan Melati bercerita bagaimana pengorbanan dia karena sangat mencintai suaminya, bagaimana mantan istri suaminya itu sangat jahat kepada suaminya, bagaimana suaminya tidak kunjung berpisah dengan mantan istrinya. Ia curhat sambil menangis. Sesampai di rumah mereka, si bule sudah ada di rumah. Kami dibukakan pintu, memasukkan mobil mereka. Kami bingung untuk meninggalkan mereka di rumah sendirian karena kami takut si bule akan memukul Melati. Kami pun masuk garasinya.

Saat sudah di dalam, kami keluar mobil. Saya hampiri si bule dan memintanya untuk tidak memukuli dan mendorongnya lagi. Si bule sempat marah pada saya, dia mengaku tidak memukul, "that's your own judgement!" Saya salah, ternyata si bule memang tidak memukuli Melati. Sayapun meminta maaf, lalu langsung keluar, menutup pagar, meninggalkan rumah mereka. Saat kami hendak pergi, mereka teriak lagi dan terdengar suara "BUK!" lalu alarm mobil mereka hidup kencang sekali  dantidak segera dimatikan. Kami masuk lagi untuk cek, mereka hanya berdiri memandang. Saat alarm sudah berhenti, kami keluar lagi, menutup pagar. Namun Melati ikut keluar , meminta Mas Nico dan saya masuk lagi. Dia curhat lagi meminta saya membantunya untuk mengatakan kepada si pria bule, entah mengatakan apa. Saya minta dia duduk di teras ngobrol dengan si bule di depan saya. Saat sudah duduk, saya katakan pada si bule, "you were fighting on the street, so it's our business now. You're disturbing the neighborhood. So now what is the problem?" Si bule jawab, "I just wanna go home," dan lagi-lagi Melati mengulangi curhatannya. Saya katakan pada si bule untuk masuk rumah dan beristirahat, dia langsung setuju. Dia tidak terlihat mabuk, hanya malu dan bingung. Saat itu teman laki-laki saya, Arga, Iwan, dan Tommy mulai datang. Melati tidak mau masuk, dia terus-menerus curhat, dengan dada yang lagi-lagi tanpa sengaja terbuka. Saya bujuk dia untuk masuk rumah lalu istirahat. Saat kami hendak masuk, ternyata dikunci si bule. Kami mengetok pintu memanggil pembantunya dan dibukakan. Akhirnya dia masuk dan kami tinggal. Belakangan kami tahu, pasangan ini berkelahi sudah sejak 2 jam yang lalu. Warga bingung melerai karena mereka laki-laki, tidak bisa ngobrol dengan Melati. Saya dan Mbak Utied datang memang sangat tepat.

Ini sebenarnya masalah yang sepele, yaitu menolong orang. Akhirnya berjalan baik-baik saja. Saya dan Mbak Utied puas sudah bisa membantu pasangan ini. Tapi sebenarnya ini pengalaman yang jika saya ingat, saya merinding ngeri, betapa bodohnya saya. Ada banyak sekali modus baru dalam penculikan maupun pencurian. Pengalaman saya barusan adalah sebuah pelajaran besar untuk berfikir sebelum menolong. Saya dimarahi habis-habisan oleh teman-teman saya, betapa bodohnya saya menolong mereka dan mau masuk ke dalam mobil mereka. Beruntung ternyata mereka orang baik. Tapi bagaimana jika ternyata mereka bukan orang baik? Jika ternyata semua itu hanya sandiwara untuk mencuri mobil Mbak Utied atau lebih mengerikan lagi, memperkosa kami untuk dijual ke luar negeri sebagai pelacur? Saya masih ngeri membayangkan kalo ternyata tadi mereka orang jahat, menyekap saya sudah di dalam mobil mereka, mengambil mobil Mbak Utied, lalu memperkosa kami berdua. Ya Tuhan, betapa lugunya saya. Namun sujud syukur saya masih beruntung. Orang yang saya tolong bukan orang yang bermaksud memanfaatkan pertolongan saya. Saya menolong orang yang memang membutuhkan pertolongan saya.

Lalu sebenarnya apa yang sebaiknya kita lakukan jika menghadapi situasi seperti ini?

  1. Berhenti dan tentu saja menolong.
  2. Tetap kunci pintu, tidak membuka jendela, apalagi membuka pintu.
  3. Langsung menelpon orang terdekat, ceritakan kejadian, lokasi kita, nomer polisi mobil mereka, lalu menelpon polisi.
  4. Jika polisi sudah datang, baru kita pulang, tak usah ikut campur.

Saya orang yang selama ini sangat paranoid terhadap keselamatan saya dan orang yang saya cintai. Saya orang yang selalu mengingatkan teman saya hal-hal detail untuk keselamatan diri kita dari penjahat. Namun malam ini saya luput juga. Ternyata dalam situasi tertentu akal sehat kita bisa tidak bekerja karena panik. Akhirnya maksud baik justru bisa dimanfaatkan penjahat. Saya memohon teman-teman untuk menjaga diri, tetap paranoid, dan berfikir dua kali sebelum menolong orang lain. Dunia ini dari dulu hingga sekarang kejam, kita harus selalu waspada. Semoga pengalaman saya dan Mbak Utied berguna untuk kita agar waspada pada situasi apapun.