Apa Itu Redenominasi Rupiah?

Wacana redenominasi rupiah ini sangat baik, namun disambut masyarakat dengan sinis. Banyak yang mengira redenominasi sama saja dengan sanering. Padahal jauh berbeda. Ini sebabnya masyarakat, khususnya pedagang, menolak keras redenominasi. Wajar karena masyarakat tidak tahu apa itu redenominasi.

Redenominasi tentu penggabungan kata "re" dan "denominasi," dimana "re" artinya "pengulangan" sementara "denominasi" artinya "pecahan mata uang yang diterbitkan." Saat ini di Indonesia, denominasi rupiah antara lain Rp. 100.000,- Rp. 50.000,- Rp. 20.000,- dan seterusnya, namun tidak ada denominasi rupiah Rp. 30.000,- Maka arti redenominasi rupiah adalah pengulangan penerbitan pecahan rupiah. Misal dari Rp. 100.000,- menjadi Rp. 100,- dengan catatan nilai tukar uang itu tetap sama. Misal, handphone seharga 3 juta menjadi 3 ribu, tetapi nilai 3 ribu itu tetap setara dengan 3 juta. Ini juga membuat gaji kita berubah dari 5 juta menjadi 5 ribu, dengan nilai yang sama pula. Biasanya redenominasi terjadi jika nominal pecahan suatu mata uang  sudah terlalu tinggi. Saat ini Indonesia adalah negara yang memiliki denominasi tertinggi ke-3 di dunia, yaitu Rp. 100.000,-

Pelaksanaan redenominasi jelas hanya bisa dilakukan di negara dengan ekonomi stabil. Jika ekonominya labil, tentu perubahan nominal pecahan mata uangnya akan sulit. Misal, saat akan meredenominasi 100 ribu rupiah menjadi 100 rupiah, ternyata nilai mata uang itu merosot, sehingga nilai 100 ribu tidak lagi sama dengan semula. Tentu akan repot bukan? Selain itu, redenominasi rupiah membutuhkan waktu yang lama. Dahulu berita kemerdekaan Indonesia 1945 saja tidak langsung tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahkan banyak wilayah Indonesia yang baru tahu Indonesia merdeka bertahun-tahun setelah merdeka. Inilah mengapa redenominasi juga perlu waktu sosialisasi yang cukup lama kira-kira 10 tahun, agar masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke mengetahui dan terbiasa dengan pecahan rupiah baru.

Banyak yang bertanya, apa manfaat redenominasi? Salah satu manfaat yang mudah dipahami dari redenominasi adalah untuk mendorong efisiensi dalam pencatatan pembukuan maupun dalam transaksi sehari-hari. Pernahkah anda melakukan perhitungan keuangan dengan kalkulator namun anda sederhanakan (tanpa menyertakan nol di belakangnya) agar lebih efisien? Misal, anda ingin menghitung: 3.000.000 + 4.500.000 + 17.000.000, saat anda akan menghitungnya di kalkulator, pasti anda menghilangkan nol-nol itu menjadi: 3 + 4.5 + 17 kan?

Maka dari penjelasan di atas, redenominasi ini berbeda dengan sanering. Berikut perbedaannya:

  1. Pelaksanaan redenominasi hanya dapat dilakukan di perekonomian stabil,  sementara sanering terjadi saat negara itu sedang mengalami hiperinflasi (perekonomian labil).
  2. Pada redenominasi ada sosialisasi minimal 10 tahun, sementara sanering terjadi tiba-tiba (tanpa sosialisasi).
  3. Redenominasi hanya menurunkan nominal pecahan mata uang, sehingga daya beli uang itu tetap sama. Sementara pada sanering, nominal dan nilai mata uang diturunkan tanpa menurunkan harga barang dan jasa, sehingga daya beli uang itu menurun. Misal, ita memiliki 3 juta, yang biasanya dapat untuk membeli handphone berkamera, setelah sanering, 3 juta tidak lagi dapat untuk membeli handphone berkamera.

Itulah definisi, manfaat, dan perbedaan redenominasi dengan sanering. Semoga bermanfaat dan masyarakat tidak lagi sinis menanggapinya. :)