A Mother of Gay

Malam ini muncul pembicaraan mengenai gay dan bagaimana masyarakat menilainya sebagai suatu kelainan atau ketidaknormalan. Ilmu psikologi dan kesehatan jiwa sudah menghapus gay dari daftar penyakit jiwa. Walaupun ilmu pengetahuan sudah meneliti dan menetapkan begitu, namun banyak yang masih belum bisa menerimanya dan tetap menyebutnya sebagai penyakit kelainan jiwa. Karena tidak sama dengan orang kebanyakan lalu disebut penyakit? Saya sakit hati mendengarnya. Saya bukan gay, tapi saya merasa betapa sombong dan tidak adilnya saya jika menghakimi seseorang sedemikian rupa hanya karena orientasi seksualnya tidak seperti orang kebanyakan.
Saya membayangkan jika semua ini terbalik. Di dunia ini mayoritas orientasi seksual manusia dengan sesama jenis. Jika ada yang menyukai lawan jenis dan bahkan memiliki anak, maka akan disebut "kelainan", dicaci maki, menjadi bahan ejekan, atau bahkan dikucilkan. Jika tidak mau disebut begitu, maka saya harus memaksakan diri mau berhubungan seks dengan sesama jenis. Saya harus berpura-pura. Betapa jijik dan sedihnya menjadi kaum minoritas. Tapi tetap saja, masih banyak masyakarat tidak bisa menerimanya sebagai pilihan yang normal. Akhirnya perdebatan ini sampai pada titik saya tidak ingin memaksakan pemikiran orang lain. Asalkan masyarakat tidak menghina dan mengucilkan kaum gay, saya anggap bukan suatu masalah.
Lalu muncul sebuah pertanyaan dalam hati saya, "bagaimana jika kelak anakmu gay?" Setelah saya bayangkan dan mencoba merasakan, saya justru berharap satu hal. Saya berharap semoga kelak seorang gay terlahir dari rahim saya agar dia memiliki ibu yang mencintainya apa adanya dan selalu berusaha membesarkannya menjadi jiwa yang bahagia.
Didedikasikan untuk Nocky dan mereka yang berorientasi seksual sesama jenis. Terima kasih Yoan, Andhika, dan Marson untuk obrolannya malam ini. ;)
Postingan terkait: Dian Paramita - Gay Dian Paramita - Masalah Diskriminasi: Anda Massery atau Lorch?