8 Tahun Berlalu, Munir Masih Disini

Hari ini, 8 tahun yang lalu, di udara sana, Munir meninggal dunia. 4 jam sebelum mendarat di Belanda, negara tujuan belajarnya, ia diracun agar pergi untuk selamanya. Para penjahat pecundang itu tak tahu lagi bagaimana membuatnya berhenti menghalangi aksi kotor mereka. Para penjahat pecundang itu memilih membunuhnya agar ia mati dan diam.

Sekarang, 8 tahun kemudian, dua juta pengguna Twitter menggunakan avatar mendiang Munir. Peribahasa tak pernah salah, bahwa mati satu memang akan selalu tumbuh seribu. Mati satu harapan kita, tumbuh jutaan harapan baru. Para penjahat pecundang itu tak tau bahwa seberapapun mereka mencoba membunuhnya, jiwa Munir tak akan pernah mati.

Munir masih disini. Jiwanya masih terasa mengelilingi, mengilhami, menghidupkan jiwa kita. Jiwanya mempersatukan kita untuk melawan lupa, melawan diam, melanjutkan cita-citanya menuju keadilan bersama. Jiwanya mengingatkan para penjahat pecundang itu agar bersiap-siap, karena mereka akan segera kalah.

Maka hari ini, saya harap setelah membaca tulisan ini, mari sejenak kita mengheningkan cipta untuk Munir. Untuk mendoakan kedamaian jiwanya, mengenang jasa-jasanya, meneruskan perjuangannya. Semoga ia selalu tersenyum di atas sana, seperti ia selalu memberi senyuman baru bagi mereka yang tertindas.

PS: Gambar di atas adalah desain untuk 45 kaos limited edition yang dilelang pada 8 Desember 2010 lalu. Mohon untuk tidak menjiplak dan menghambat kampanye #MengenangMunir.