52 Tahun Ibuku

Kebanggaan dalam hidupku adalah ibuku. Aku selalu menceritakan kepada siapapun mengenai sosoknya. Bagaimana ia sangat menyayangiku, mengertiku, menghiburku, dan melindungiku. Namun ternyata orang lain pun begitu, menceritakan sosoknya. Bagaimana ibu sangat menyayangi, mengerti, menghibur, dan melindungi mereka. Mereka menyebutku beruntung. Bahkan jika binatang dan tumbuhan bisa berbicara, aku yakin mereka akan berkata yang sama.

Pernah aku menemaninya mengajar. Di siang hari yang panas, Ibu menghibur mereka dengan gurauannya. Ibu terlihat sangat bodoh sekali di depan kelas. Seperti seorang stand-up comedy. Seluruh kelas tertawa terbahak-bahak. Begitu juga denganku. Di rumah dan di kelas ia sama saja, tampil bodoh untuk membuat orang lain tertawa. Selesai mengajar, banyak yang menghampirinya. Mereka mengobrol dan saling bergurau. Maka setiap aku bertemu dengan mahasiswanya, mereka selalu berkata, "anaknya Ibu Noor? Wah ibu itu orangnya baik dan lucu sekali! Dia dosen favoritku. Beruntung sekali memiliki ibu sepertinya."

Pernah aku mengantarkannya ke kantornya. Ibu memarahiku jika tidak membuka jendela mobil saat melihatkan kartu parkir kepada satpam kantornya. Katanya tidak sopan tidak membuka jendela. Katanya aku harus menghormati mereka. Ia juga selalu terlihat tersenyum-senyum walau sedang berjalan sendirian. Para petugas kebersihan dan karyawan kantornya pun menjadi tak ragu untuk berhenti jika melihatnya, mereka menyapa lalu mengobrol sebentar dengan ibu. Maka setiap bertemu dengan karyawan, satpam, atau penjual di kantin di kantornya, setiap aku mengatakan aku anaknya, mereka langsung tersenyum cerah. Ibu terkenal ramah. Mereka merasa sangat dihormati ibu. Dalam hati aku bersyukur, aku orang yang beruntung.

Pernah ibu meminjam sepatu rodaku. Ia tampil bodoh berseluncur dengan sepatu roda di dalam rumah. Namun tiba-tiba ia menjatuhkan diri. Kita semua kaget. Kenapa menjatuhkan diri? Ternyata dia menghindari semut lewat. Pernah juga ia merasa iba terhadap semut-semut di rumah yang membawa potongan kuku. Katanya, "aduh kasihan sekali. Kuku saja dimakan." Lalu ia menyebarkan gula di halaman belakang, untuk memberi makan semut-semut itu. Ada juga beberapa kali aku memergoki ia berbicara dengan daun-daun di halaman depan. Ia bilang pada daun itu agar mereka jangan mati, Ibu sedang berusaha membuatnya tumbuh. Beberapa orang memandang ibu gila. Ia dipandang aneh dalam memperlakukan binatang dan tumbuhan. Tapi yang aneh tak selalu buruk. Aku sangat bangga pada semua kelakuan anehnya. Aku orang yang beruntung bisa mempelajari semua pandangan-pandangannya yang gila.

Pernah ia menasehatiku, bahwa ia tak akan mempermasalahkan dengan siapa aku menikah nanti asalkan aku  bisa mencari nafkah untuk diriku sendiri dan anakku nanti. Ia juga pernah menasehatiku agar aku selalu bisa menghibur diriku sendiri. Agar aku selalu tulus menjadi orang baik. Agar selalu young at heart. Mungkin itu sebabnya ia menjadi orang yang  sangat mandiri, selalu bahagia, terkenal baik, dan awet muda walaupun hari ini umurnya sudah menginjak 52.

Dari segala macam cerita dan pengalamanku bersama ibu, aku menjadi heran. Aku tak tau kenapa dari sekian banyak orang, Tuhan memilihku untuk menjadi orang yang paling beruntung di dunia memiliki ibu sepertinya. Selamat ulang tahun, Ibuku. Aku dan dunia mencintaimu.

PS: Hadiah ulang tahun dariku dan Mas Herman: http://noorrahmani.com Semoga bisa menjadi media untuk menyebarkan kasih sayang dan ide gila!