LGBT Bukan Penyakit

Bagi Anda yang masih saja seenaknya melabeli LGBT sebagai penyakit, tolong sempatkan membaca buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (terbitan Departemen Kesehatan RI dan World Health Organization PBB). Buku bisa dicari di perpustakaan universitas ternama di Indonesia, salah satunya Universitas Gadjah Mada. Bahkan ada beberapa PDF-nya jika dicari di Google. Buku yang ditulis berdasarkan temuan ilmiah (bukan sekedar pendapat tanpa bukti) mengatakan orientasi homoseksual tidak dianggap sebagai gangguan. Selain itu, buku diagnosis ini menyetarakan homoseksualitas dan biseksualitas dengan heteroseksualitas. Jadi jangan asal bicara bahwa homo itu penyakit.

Anda yang kerap melecehkan LGBT karena takut “tertular penyakit” hanya termakan isu orang-orang tak berilmu, tidak berbicara sesuai fakta. Jika Anda tidak terlahir memiliki orientasi seksual LGBT, Anda tidak akan pernah terpengaruh menjadi LGBT. Anda siapa bisa mencap orang lain gila atau berpenyakit butuh diobati jika Anda bukan seorang dokter penyakit jiwa atau psikolog? Jika Anda seorang muslim, ingat, Allah meminta kita untuk membaca. Ingat juga bahwa Allah juga meninggikan derajat orang yang berilmu.

Jika Anda merasa hanya ingin menjalankan moral sesuai agama dan keyakinan, jalankan lah untuk Anda sendiri. Tidak ada yang pernah melarang. Itu hak Anda. Tapi bukan hak Anda untuk melarang-larang hidup individu lain dan melecehkan mereka.

Postingan terkait:
Dian Paramita - Gay
Dian Paramita - A Mother of Gay
Dian Paramita - Masalah Diskriminasi: Anda Massery atau Lorch?
Dian Paramita - Gay, Lesbian, dan Hati Kecil
Dian Paramita - Tak Ada Cinta untuk yang Berjiwa Beku

Tak Ada Cinta untuk yang Berjiwa Beku

Ada banyak jiwa yang kesulitan mencari cinta. Sounds cheesy but it's true. Jutaan manusia di dunia ini banyak yang tersesat dan patah hati. Lagu-lagu yang tercipta di dunia mayoritas tentang cinta. Karena bagaimanapun juga, mencari cinta adalah pekerjaan yang sulit. Tapi orang selalu menganggapnya remeh. Dikira ini masalah sepele. Padahal tidak, bisa jadi ini masalah seumur hidup kita.

Jadi saat ada dua jiwa akhirnya bertemu dan saling membahagiakan, mengapa kau tak mampu ikut berbahagia untuknya? Mengapa kau tak mampu menerimanya hanya karena caranya berhubungan seks? Mengapa kau tidak mampu memahami bahwa seks hanyalah cara, tetapi sejatinya mereka sedang bertukar cinta dan kasih? Ketidakmampuanmu itu boleh saja kau pelihara. Tapi bukan tanggung jawab kami untuk memahami hatimu yang beku.

PS: Congratulations to my best friend, Nocky! Cannot wait for you and Vincent's wedding day!

WhatsApp Image 2018-04-18 at 17.38.13.jpeg

Postingan terkait:
Dian Paramita - Gay
Dian Paramita - A Mother of Gay
Dian Paramita - Masalah Diskriminasi: Anda Massery atau Lorch?
Dian Paramita - Gay, Lesbian, dan Hati Kecil
Dian Paramita - LGBT Bukan Penyakit

Sampai Kapan Menunggu Polisi Angkat Tangan?

30629181_10156099813321826_8655248606346870784_n.jpg

“You exist only in what you do”

Seperti Munir, Novel ada karena apa yang ia lakukan. Bukan apa yang ia kenakan atau miliki. 

Ia ada karena membuat koruptor terhukum dan jatuh miskin. Ia ada karena ia bekerja keras untuk menjaga hak-hak rakyat. Apa yang ia lakukan membuatnya ada. Sampai-sampai para koruptor yang dibuatnya marah itu ingin meniadakannya.

Tapi sekai lagi, “You exist only in what you do.” Betapa pun para penjahat pecundang itu ingin meniadakannya, keberadaan Novel tidak akan dilupakan, tidak akan tiada. Ia akan selalu ada di dunia sampai kapan pun. Jadi untukmu para pecundang, serangan air keras darimu itu sia-sia. Karena seranganmu tidak membuatnya tiada namun justru berlipat ganda.

PS: Tepat setahun lalu, Novel Baswedan disiram air keras usai shalat Subuh di masjid dekat rumahnya. Sampai saat ini ia harus menjalani perawatan dan operasi. Ia pun harus meninggalkan anak-anaknya dan istirahat sementara dari pekerjaannya, dua hal yang selama ini menjadi hidupnya. Selama satu tahun kasus ini tidak kunjung ada keadilan. Ayo kita dukung Jokowi untuk segera melakukan sesuatu yang lebih signifikan, tanpa menunggu kapolri angkat tangan. Karena sampai kapan kita harus menunggunya angkat tangan? 

Hari ini kita akan berkumpul untuk meminta keadilan bagi Novel. Info lengkap mengenai gerakan ini, cek Instagram: @amnestyindonesia, @kontras_update, dan @sahabaticw. #TikTokNovel#sebelahmata #NovelBaswedan

Hello There, I'm Back

Sejak Ahok dipenjara, saat itulah saya malas membaca berita, malas dengan politik, malas memikirkan negara. Padahal sejak kecil diskusi mengenai sosial politik negara adalah hobi yang membakar semangat hidup saya. Namun sejak Ahok dipenjara, saya muak. Saya memilih tidak tau apa-apa.

Saya bukan fans Ahok, karena sepertinya menjadi fans artinya akan buta, mendewakannya seakan dia tak punya salah, mendukungnya tanpa mau mengkritiknya. Saya tidak mau menjadi fansnya, karena saya tahu kekurangan Ahok dan beberapa kebijakkannya tidak saya dukung.

Namun dia orang baik. Dia juga pemimpin yang terbaik yang pernah saya rasakan. Dia terbukti membuat perubahan yang berarti bagi seluruh rakyatnya, mau untuk si kaya maupun untuk wong cilik. Jadi wajar saja jika kita bersedih, mengapa orang seperti dirinya harus dihukum atas ucapannya yang tidak salah? Wajar saja kita belum bisa move-on, karena ada ketidakadilan yang nyata di depan mata, ketidakadilan yang mengorbankan orang baik, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa. Hati nurani serasa diinjak-injak dan rakyat yang selama ini dikenal kuat itu akhirnya menjadi powerless. Saya pun memilih untuk membentengi diri dari pembahasan politik.

Setahun waktu yang lama untuk memahami bagaimana rasanya hidup tanpa peduli politik, hanya memikirkan diri sendiri: bekerja, hang-out, berlibur, belanja, membaca novel, hingga pergi tidur sambil memikirkan banyak hal selain negara. Bapak dan ibu saya sering membahas politik dan saya selalu meminta mereka untuk tidak membahasnya di depan saya. Selama setahun ini saya menikmati kehidupan itu.

Tapi itu bukan saya. Setelah setahun saya paham, saya tidak merasa hidup jika tidak mempedulikan apa yang ada di sekitar saya, apa yang terjadi di negara ini. Rasanya aneh dan kosong. Tahun ini saya ingin peduli lagi, bersuara lagi, menulis lagi, dan berbuat sesuatu lagi. Walaupun itu semua bisa membuat saya tidak bisa tidur saking muaknya dengan kelakuan para politikus, namun itu adalah saya. Dan menjadi diri sendiri adalah hal yang ternyaman dalam hidup ini. So hello there, I'm back.

Yoel.jpeg

PS: Thank you, Yoel. Your comment always gives me spirit to write again.

Bangsa Penemu

Empat tahun lalu, dalam sebuah debat antar cagub dan cawagub Jawa Barat di Metro TV, Teten Masduki (cawagub dari PDIP) bertanya kepada lawannya, Deddy Mizwar (cawagub incumbent) mengenai banyaknya jumlah penduduk di Jawa Barat yang tidak sebanding dengan jumlah rumah sakitnya. Setelah kedip-kedip dan berfikir, Deddy pun menjawab, 

"Saya ini nggak biasa bicara angka sebenarnya, Bang Teten. Saya ini seniman. Jadi otak kanan saya yang banyak bicara. Saya nggak hafal angka…” (Video bisa ditonton disini, menit ke 06.39)

Walaupun sudah empat tahun lalu, debat itu tidak terlupakan. Bagaimana bisa kita memiliki seorang calon pemimpin yang mengatakan dia tidak biasa berbicara dengan angka? Ia mengatakan hal itu seakan angka adalah hal yang sepele. Padahal apa yang bisa ia lakukan untuk memajukan daerah yang dipimpinnya tanpa biasa berbicara dengan angka? Apa dasar-dasar keputusan-keputusannya nanti jika bukan dari angka? Misalnya, bagaimana ia bisa mengurangi kemiskinan jika tidak berbicara jumlah penduduknya yang miskin? Bagaimana ia bisa menentukan kebijakan dana bantuan pendidikan tanpa berbicara jumlah anak sekolah di daerahnya? Dan seperti pertanyaan Teten Masduki, bagaimana dapat menyehatkan jutaan rakyatnya jika tidak berbicara jumlah rumah sakitnya yang hanya sedikit? Calon pemimpin seperti ini seharusnya dipertanyakan kemampuannya oleh rakyat dan tidak untuk dipilih. Namun sebulan setelah acara debat tersebut, pasangan Aher-Deddy memenangkan pilgub Jawa Barat 2013. Jawa Barat memillih dipimpin oleh seseorang yang mengaku tidak biasa berbicara dengan angka.

Malangnya Angka dan Teori

Bertahun-tahun yang lalu, ada sebuah iklan di televisi tentang sampo anti ketombe. Dalam iklan itu ada seorang scientist berbicara mengenai penyebab ketombe. Beberapa detik kemudian seorang laki-laki datang dan menyeletuk, “Ah teori!” Iklan itu sangat terkenal dan hingga sekarang setiap ada orang mencoba menjelaskan sesuatu dengan teori, maka sering dibalas dengan ucapan yang sama: “Ah teori!”

Tak hanya angka yang selalu disepelekan di masyarakat kita, namun juga teori. Seakan angka dan teori adalah sebuah penemuan yang datang dari angan-angan saja. Seakan angka dan teori sebuah penemuan yang jauh dari fakta lapangan. Mereka seperti melupakan bahwa angka dan teori adalah hasil penelitian dari fakta-fakta lapangan. Mereka seperti tidak tahu bahwa para peneliti itu datang ke lapangan, mewawancarai atau mengamati objek penelitian, melakukan survey paling sedikit pada ribuan orang, melakukan tes uji coba, membandingan penemuan atau ilmu sebelumnya, mengeluarkan banyak biaya, dan menghabiskan banyak waktu hingga puluhan tahun. Namun mengapa kita menyepelekannya?

Perguruan tinggi di Indonesia sebenarnya memberlakukan kewajiban yang hebat kepada para mahasiswa S1-nya: membuat skripsi, melakukan penelitian. Dari pengalaman membuat skripsi, kita seharusnya lebih menghargai penelitian, berpengalaman menjadi penemu, terbiasa mengatasi masalah dengan berdasarkan teori dan data, atau terbiasa berargumen berdasarkan sumber yang terpercaya, bukan hoax. Namun sayangnya tidak.

Bangsa Pengekor

Kata ibu saya, bangsa yang unggul adalah bangsa yang masyarakatnya senang menemukan, suka menjadi penemu. Dan di jaman modern ini, penemuan itu dilakukan dengan penelitian. Bangsa yang jarang meneliti adalah bangsa pengekor. Bangsa yang hanya akan menjadi ekor bangsa lain. Menciptakan sesuatu dan mengatasi masalah hanya berdasarkan penemuan bangsa lain, bukan murni atas penemuannya sendiri. Dan Indonesia salah satunya. Bagaimana Indonesia dapat menjadi bangsa penemu dan mengatasi masalah negaranya apabila hanya mengekor penemuan dari bangsa lain? Padahal bangsa lain tidak selalu memiliki latar belakang dan masalah yang sama dengan kita.

Ada seorang dokter yang pernah mengeluh kepada saya karena kesulitan menyebuhkan pasiennya dengan obat-obatan yang ada, karena obat-obatan itu hanya cocok untuk pasien berdarah Caucasian, bukan Asian. Apa yang harus dilakukan si dokter jika belum ada penemuan obat khusus untuk pasien berdarah Asian? Apa boleh buat, ia tetap memberikan pasieannya obat yang tidak cocok. Entah sampai kapan kita harus menunggu para bangsa penemu menciptakan obat untuk kami yang berdarah Asian. Ini baru satu kasus mengenai satu obat. Bagaimana dengan kasus yang lain? Pasti banyak sekali dan kita hanya bisa menunggu?

Belajar dari Bangsa Penemu

Sebulan yang lalu saya dikenalkan teman pada seorang pria dari Australia bernama Anton Lucanus. Ia pernah menjalani pertukaran pelajar bidang biologi di UGM, lalu kursus singkat mengenai molekuler di Amerika Serikat. Setelah itu ia kembali ke Indonesia untuk menjadi peneliti magang di Lembaga Eijkman Jakarta. Ia nantinya menjadi peneliti kanker di Singapura.

Saat menjadi peneliti di Lembaga Eijkman Jakarta, ia menemukan bahwa lembaga ini memiliki banyak sekali data yang sangat penting namun tidak tersedia untuk umum. Termasuk data mengenai jumlah pengidap penyakit radang otak yang disebabkan nyamuk, Japanese Encephalitis, di Jawa Tengah. Hingga hasil pengujian penyakit Zika pertama di Indonesia. “Indonesia juga memiliki 122,000 perpustakaan, 7,000 universitas dan 10,000 jurnal akademik. Semuanya memproduksi ratusan hingga ribuan laporan, data, buku, dan artikel jurnal tiap tahunnya. Namun hanya 30% dari semua itu yang tersedia online,” kata Anton.

Mungkin karena dia terlalu banyak energi, Anton pun menciptakan Neliti, sebuah website mesin pencari hasil penelitian, data primer, dan fakta. Website ini bertujuan untuk mendigitalkan, mengurasi, dan menyebarkan hasil semua publikasi itu agar masyarakat Indonesia (khususnya lembaga penelitian dan universitas) dalam memproduksi penelitiannya. Website yang berawal dari gudang data dalam laboratorinya saja, kemudian menjadi sebuah website yang berkembang untuk umum, dan sekarang bekerja sama dengan 500 institusi lainnya. Neliti juga sudah didukung dan bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Indonesia. Anton ingin Neliti dapat membantu Indonesia dalam membuat kebijakan atau mengatasi masalah ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.

Saat ini terdapat 915 jurnal dalam Neliti. Karena masih banyak sekali jurnal Indonesia yang memiliki kualitas rendah, maka satu persatu jurnal-jurnal itu dipilah oleh Anton dan dia bagi ke dalam tiga kelompok: Jurnal Internasional (Kualitas Terbaik), Jurnal Nasional (Kualitas Baik), dan Jurnal Tidak Terakreditasi (Kualitas Kurang Baik). Ya, satu persatu jurnal yang ada dipilah sesuai akreditasinya oleh Anton sendiri.

Tidak seperti EBSCO, JSTOR, Scopus, dkk, jurnal dan data di dalam Neliti dapat diakses dan di-download siapapun dengan gratis. “This is because we believe that information is a fundamental human right, and with free access to information comes opportunity for all people to innovate regardless of their background. We are free because we want to help Indonesia develop as a nation and mencerdaskan anak bangsa Indonesia,” kata Anton. So sweet.

Sementara itu, sekitar seminggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang pria Belanda bernama Frits Blessing. Selain melakukan bisnis di Maluku Indonesia, Frits juga membuat sebuah kerjasama antar universitas dan perusahaan dari Indonesia maupun Belanda bernama Living Lab Logistics.

Living Lab Logistics menghubungkan para mahasiswa, dosen, peneliti bidang logistic, dengan pemerintah dan perusahaan yang bergerak dalam bidang serupa. Ia menciptakan sebuah komunitas untuk membantu para peneliti untuk bekerja sama secara langsung dengan pemerintah dan perusahaan. Dengan demikian pembangunan sumber daya manusia antar Indonesia dan Belanda semakin pesat karena proses alih pengetahuan berjalan efektif dan mendalam. Nantinya bisa memacu inovasi, penemuan, dan mendukung perkembangan pendidikan di Indonesia. Apalagi selama ini banyak sekali penelitian yang tidak saling terhubung dengan peneliti lainnya, sehingga Living Lab Logistics dapat menjadi wadah agar semua peneliti bidang logistik dapat saling bertemu, belajar, bekerja sama, atau meneruskan apa yang sudah pernah dihasilkan.

Dari Anton maupun Frits kita belajar dua hal penting: apapun kesibukan kita, terus lah menjadi penemu dan menghargai segala proses penemuan di sekitar kita.

Indonesia Bangsa Penemu

Terlalu banyaknya sejarah buruk di Indonesia membuat kita berjalan lambat atau kadang berjalan di tempat. Kita menjadi sulit untuk bergerak, sulit untuk menjadi unggul, sulit untuk menciptakan dan menjadi penemu. Dari dijajah bangsa lain dan penguasa negeri di jaman penjajahan, dibungkam di jaman Orde Baru, hingga dibuat kebingungan di jaman peralihan ke negara demokrasi sejak reformasi 1998 hingga sekarang.

Namun saya tidak ragu, suatu saat nanti Indonesia menjadi bangsa penemu. Mungkin dalam waktu dekat, mungkin saja masih puluhan tahun lagi. Asalkan kita selalu berusaha menjadi penemu, menghargai penemuan dan prosesnya, serta kritis terhadap mereka yang tidak menghargainya. 

Meniru Ahok dalam Memandang Tuhan

Saya pernah bertanya kepada eyang putri saya, “Yang, kalau eyang sedang sholat lalu ada ular di depan eyang, eyang tetap sholat kan?” Saat itu eyang putri saya  sedang sibuk melakukan sesuatu namun kemudian ia terhenti, menoleh ke arah saya dan berkata, “ya lari lah!” Saat itu saya bingung, lho kenapa lari? Bukannya menyembah Tuhan adalah yang utama daripada hidup kita? Namun saya tidak bertanya lagi dan memilih diam saja.

Sekarang mengingat kejadian itu saya jelas heran, bagaimana bisa seorang anak kecil bertanya pertanyaan tentang agama dan Tuhan? Bagaimana bisa saya memiliki logika yang konyol seperti itu? Darimana asalnya?

Semua berawal dari rasa takut. Takut akan neraka dan lebih parah lagi, takut akan Tuhan. Saya ingat, di depan gerbang sekolah saya ada seorang pria penjual komik. Salah satu komik yang ia jual adalah komik-komik tentang agama. Sangat jelas di memori saya, gambar-gambar di komik itu begitu menakutkan. Ada gambar orang yang lidahnya disetrika karena berbohong dan gambar orang yang direbus karena tidak menuruti perintah orang tuanya. Setiap halaman komik itu menunjukkan ilustrasi orang-orang di neraka yang disiksa dengan sadisnya.

Walaupun eyang putri berupaya keras agar saya tidak membaca komik sadis itu, tetapi teman-teman saya terus membahasnya dan sekali-kali menunjukkan komik-komik itu ke saya. Tak hanya buku komik, ketakutan akan Tuhan dan hukuman dari-Nya juga saya pelajari dari guru agama maupun teman-teman sekelas saya dari didikkan orang tua mereka. Ini lah yang dahulu membuat saya sampai bisa berfikir bahwa kita tetap wajib meneruskan sholat walaupun ada ular di depan mata. Seakan Tuhan lebih mengerikan dari ular yang berbisa.

Dari ajaran-ajaran yang menyebarkan rasa takut itu, kami jadi belajar untuk tidak berbuat jahat dan menghindari larangan-Nya agar terhindari dari neraka. Kami belajar menyembah dan menjalankan perintah-Nya agar mendapatkan reward surga. Saya yakin, kita semua pernah bertanya: Jadi kita menjalankan perintah dan menghindari larangan-Nya karena tulus mencintai-Nya atau karena menginginkan surga dan takut neraka?

Kita jadi hanya fokus pada neraka dan surga bukan mengasah nalar berfikir, mengapa berbohong itu tidak baik dan mengapa orang tua patut dipatuhi. Saya paham, mungkin mengajarkan rasa takut adalah metode pelajaran yang termudah untuk mempengaruhi manusia. Apalagi anak kecil. Namun setelah dewasa, kita pasti sudah lebih dari itu. Kita tumbuh menjadi manusia yang memiliki nalar lebih tajam, pengetahuan yang lebih luas, dan kemampuan dalam memahami isi hati. Kita jadi mulai paham bahwa hidup bukan untuk surga atau neraka, tetapi untuk menyebarkan kebaikan kepada seluruh makhluk hidup ciptaan-Nya sampai kapanpun nanti. Kita jadi sadar bahwa segala tindakan memiliki dampak yang baik maupun buruk sehingga kita harus selalu peduli dengan sekitar. Bahwa Tuhan bukan sosok yang patut ditakuti, tetapi sosok yang seharusnya sangat kita cintai dengan setulus-tulusnya. Bahwa Tuhan ada untuk menyemangati kita agar berbuat baik dan menguatkan kita saat menghindari perbuatan buruk. Sehingga saat kita menghindari larangan-Nya, kita takut membuat-Nya kecewa, bukan takut neraka. Dan saat kita menjalankan perintah-Nya, kita ingin membuat-Nya bangga, bukan karena mendambakan reward surga.

Kini saat kita dewasa, pasti Tuhan sudah bukan lagi sebuah sosok yang menakutkan dan perlu memberikan hukuman agar kita mematuhinya. Tetapi menjadi sebuah sosok sahabat terbaik yang selalu ada kapanpun dan dimanapun kita berada. Karena Ia amat sangat menyayangi umat-Nya, maka sebagai umatnya kita juga amat sangat menyayangi-Nya. Sama saat kita meyakini Tuhan lah yang terpenting dalam hidup ini, maka sosok pertama yang ingin kita datangi saat kita sedang bahagia adalah Tuhan. Kita pasti ingin membagi rasa syukur itu dan mengucapkan beribu terima kasih kepada-Nya. Karena kita mempercayai Tuhan lah yang selalu menemani dan membantu kita mewujudkan kebahagiaan itu. Saya yakin, orang yang mampu mencintai Tuhan dengan tulus tanpa membutuhkan reward dan punishment adalah orang yang hebat karena imannya sudah sangat kuat.

Namun ternyata saya salah. Mungkin mencintai-Nya dan mensyukuri nikmati-Nya, adalah hal yang mudah, karena kita sedang bahagia. Namun apakah kita tetap dapat mencintai-Nya saat kenyataan tidak sesuai dengan keinginan? Ini lah yang tidak mudah. Sebagai manusia biasa, kita pasti tidak luput dari rasa kecewa kepada Tuhan. Terutama saat menghadapi musibah berat. Kita pasti pernah berfikir, kenapa Tuhan memberikan musibah seberat ini kepada saya? Kenapa Tuhan tidak mengabulkan permintaan saya yang sangat sederhana?

Tetapi siapa sih tidak stress berat saat kehabisan uang untuk biaya hidup? Siapa yang tidak marah saat dihina? Siapa yang tidak dengki saat difitnah? Bahkan siapa yang tidak menangis saat ditinggal mati oleh orang tersayang? Stress, marah, dengki dan bersedih adalah tanda-tanda bahwa kita masih kesulitan menerima kenyataan dan menghadapi musibah. Tentu saja ini manusiawi, apalagi Tuhan lah yang menciptakan perasaan-perasaan itu kepada kita. Namun jika kita sudah merasa mampu mencintai-Nya dengan tulus, mengapa kita masih tidak mampu menerima kenyataan dari-Nya? Maka pertanyaan kita berikutnya: mampukah kita tetap setia mencintai-Nya bahkan saat sedang tertimpa musibah?

Saya mengenal banyak orang yang mampu mencintai-Nya dengan tulus. Orang-orang yang saya sebut hebat karena tidak perlu surga saat berbuat kebaikkan dan tidak perlu neraka untuk menghindari perbuatan jahat. Mereka sadar bahwa akhirat adalah tujuan tetapi mereka tidak melupakan proses sebagai manusia yang adil dan penyayang di kehidupan ini. Karena mereka percaya Tuhan tidak menciptakan umatnya hanya untuk di akhirat.

Namun hanya sedikit dari mereka yang tetap mencintai-Nya dan tetap menganggap-Nya sahabat saat sedang tertimpa musibah. Orang-orang yang mampu berfikir, apapun musibahnya, saya percaya musibah itu adalah jalan terbaik dari-Nya. Saya hanya perlu berusaha. Dan satu dari sedikit orang itu adalah Ahok.

Saya mengenalnya secara personal sejak setahun yang lalu. Selama saya mengenalnya, ia mengajarkan saya sikap ikhlas saat menghadapi masalah dan percaya bahwa Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang lebih hebat dari pengetahuan kita. Dia mengajari saya bukan dengan menceramahi saya tetapi dengan memberikan contoh sikap saat menghadapi berbagai masalah yang terus berdatangan menghampirinya.

Seperti saat kalah dalam Pilkada DKI 2017 lalu, ia yang sepatutnya paling kecewa justru yang berusaha membuat kami para pendukungnya tenang. “Percaya lah, kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan pula yang ambil. Jangan sedih, Tuhan selalu tahu yang terbaik,” ucapnya dalam konferensi pers. Hari itu, banyak yang hampir lupa bahwa Tuhan sudah memiliki rencananya yang terbaik untuk kita, tetapi Ahok kembali mengingatkan kita.

Atau saat masih menjalani masa kampanye, ia tak pernah patah semangat dan terus berusaha mencapai kemenangan, tetapi tetap ingat bahwa Tuhan lah yang memutuskan. “Kalau tidak jadi gubernur, itu urusan Tuhan. Walau pun kita usaha. Kalau orang Islam man jadda wa jadda. Kita berusaha tapi semuanya urusan Tuhan. Kalau Tuhan ingin saya jadi pejabat, saya akan menjalankannya semaksimal mungkin. Tetapi kalau Tuhan tidak pilih saya pun, saya bersyukur. Saya selalu berdoa seperti itu,” katanya.

Ahok mengajari saya untuk tidak patah semangat dalam berusaha. Jika menginginkan sesuatu, kejar lah. Jika sudah dapat, gunakan atau kerjakan lah dengan sebaik mungkin. Namun saat kenyataan tidak sesuai harapan, tetap lah bersyukur. Karena kembali lagi, itu semua urusannya Tuhan dan Tuhan lah yang Maha Tahu lagi Maha Adil. Dia lah yang paling tahu mana jalan terbaik untuk kita semua.

Atau saat saya sedang sarapan di rumahnya setahun yang lalu, saya menanyakan bagaimana sikapnya jika ia dipenjara. Sambil menyiapkan mie rebusnya di dalam mangkuk, ia hanya menjawab, “Kalau harus dipenjara ya dipenjara aja. Nggak usah dipikirin.” Kemudian ia melahap mie rebus itu. Jangankan dipenjara, jika harus mati pun ia menyerahkannya kepada Tuhan. Saya pernah membuntutinya seharian bekerja di Balaikota dan mewawancarainya untuk artikel dalam blog saya. Pertanyaan tentang kematian dan kemungkinan ada yang ingin membunuhnya adalah  pertanyaan yang selalu ingin saya tanyakan kepadanya. Sambil menandatangani dokuman ia menjawab, “mati kan di tangan Tuhan? Kalau kamu memang harusnya mati muda mau bilang apa? Memangnya kalau kamu takut bisa membuatmu tidak jadi mati? Kalau kekhawatiran bisa membuat saya jadi panjang umur, saya mau khawatir. Tetapi kan enggak? Jadi buat apa takut?"

"Tapi sebenarnya kekhawatiran itu ada kan, Pak?" saya bertanya lagi dengan gusar. Sebenarnya saya hanya berharap dia lebih khawatir agar dia bisa lebih berhati-hati.

"Kalau kekhawatiran itu ada, stress dong? Sakit dong saya?"

"Sedikit pun tidak ada?"

"Kenapa saya bisa hidup enak? Tidur enak? Karena saya pasrah."

"Tapi padahal kemungkinan itu ada kan?"

"Ya kalau memang Tuhan memutuskan saya harus mati, ya saya mati. Ngapain dipikirin?” ucapnya kepada saya.

Mungkin kematian mudah untuk diterima, toh kita tak mampu menghindarinya. Tetapi bagaimana jika harus merasakan kenyataan menyakitkan di dalam hidup? Ahok kembali mengajari saya bagaimana menerima dan menjalaninya dengan pasrah. Saat ia mendapatkan hukuman kurungan 2 tahun misalnya. Ia bahkan harus menerima hukuman berat atas tuduhan yang tidak ia lakukan dan menerima kenyataan bahwa ada orang lain yang melakukan kesalahan yang sama namun dibela. Ia harus terima untuk diborgol seperti penjahat kriminal, dibawa ke penjara detik itu juga, dan mengetahui keluarga maupun pendukungnya menangis tak tahan menghadapi ketidakadilan. Namun dari segala kenyataan yang menyakitkan itu, ia justru yang tampak paling tenang dan tetap memandang Tuhan sebagai sahabatnya.

“Gusti ora sare. Put your hope in the Lord, now and always. Kalau dalam iman saya, saya katakan: the Lord will work out His plans for my life,” tulis Ahok dalam surat terbuka yang ia tujukan kepada seluruh pendukungnya.

Bagaimana bisa seseorang yang kerja kerasnya tidak dihargai, justru selalu diserang dengan kebencian, selalu dihina, difitnah, diperlakukan tidak adil, dan sekarang harus jauh dari keluarga, masih tetap mencintai-Nya, tetap menaruh harapan kepada-Nya, dan percaya bahwa the Lord will work out His plans for his life? Bisa, jika kita meniru Ahok dalam memandang Tuhan.

Ahok tidak memandang Tuhan sedang murka, sedang marah, sedang menghukum, atau sedang memberi cobaan. Ahok memandang Tuhan dengan indah, sebagai Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengetahui, Maha Pemaaf, Maha Pemberi, lagi Maha Adil. Sehingga ia mampu ikhlas dan pasrah karena ia tahu Tuhan akan selalu mengasihinya, Tuhan paling mengetahui apa yang terbaik untuknya, dan Tuhan paling adil dalam memutuskan jalan hidupnya.

Awalnya saya selalu sedih membayangkan Ahok di dalam penjara. Apa yang dia lakukan disana? Apakah dia sengsara? Apakah dia jadi membenci negara ini? Apakah dia jadi membenci hidup ini? Apakah ia akan menyerah? Tetapi saya tidak lagi khawatir. Ahok adalah orang yang beruntung. Ia mampu mencintai-Nya dengan tulus dan mampu menerima kenyataan dari-Nya dengan lapang dada. Dia dapat hidup dengan tenang, tetap memiliki harapan, dan tidak patah semangat berusaha menjalani hidup dengan kebaikkan. Tak semua orang memiliki kemampuan seperti dirinya. Ia bahkan tetap mampu mengambil sisi baik dari musibah ini. “Saya jadi punya waktu untuk olah raga lebih banyak. Biasanya cuma 30 menit, sekarang bisa lebih!” Ia juga mengaku jadi banyak menulis, membaca, dan sedang fokus belajar Al Kitab dengan Bahasa Mandarin. Ia jadi memiliki waktu untuk dirinya sendiri dan dia mampu menikmatinya.

Di ulang tahun Ahok yang ke-51 ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Terima kasih karena telah mengirimkan seorang pemimpin baik untuk negara yang amat sangat saya cintai ini. Walaupun hanya sebentar namun luar biasa manfaatnya. Terima kasih pula telah menunjukkan kita bahwa sebesar apapun musibah itu, semua akan baik-baik saja jika kita ikhlas. Sebuah ilmu yang berat namun saya yakin semua orang mampu mencapainya. Dan terakhir, terima kasih karena telah memperkenalkan saya kepada Ahok, orang yang mampu mengajari saya bagaimana caranya mencintai-Mu dengan tulus dan indah.

Selamat ulang tahun Pak Ahok. Semoga selalu bahagia kapanpun dan dimanapun seumur hidup Bapak. Terima kasih atas segala kebaikan yang telah Bapak berikan dan segala pelajaran hidup yang telah Bapak sebarkan kepada kami. Teman saya pernah menitip salam untuk Bapak, bahwa dalam doanya, nama Bapak InsyaAllah selalu ia sebut setelah nama bapak dan ibunya. Sekarang, begitu juga dalam doa saya.

PS: For his 51st birthday (29th of June 2017), our beloved former governor of Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) get a present from us: a book called "Ahok di Mata Mereka" (Ahok in Their Perspectives).

This book is written by 51 authors coming from public figures, celebrities, book authors, journalists, to activists, who had experiences in meeting or even working with him. They include Syafii Ma'arif, Megawati Soekarnoputri, Mari Elka Pangestu, Najwa Shihab, Dee Lestari, Joko Anwar, Addie MS, etc. And I am so honored to be one of the authors!

To purcahse and more info about the book, please call/sms/WhatsApp: 081211666682.

That Day When I Bullied Someone

When I was still in kindergarten, one of my best friend is the daughter of the school janitor. She and her family lived in the school and the school was close to my house. We were not just school mates but also good neighbors.

One day I was playing with her at my house. I am not sure what happened before but I shouted at her, “you are poor!” My grandma who was there sitting next to me were very shocked. She immediately took me and my friend to my friend’s house and met her family. Grandma asked for apology to them and explained how worried she was if I ever said things like that to them when she's is not around me. She also explained that this is not how she raised me and that is why she asked me to apologies to them one by one. Then we walked home.

On our way home, she held my hand and slowly told me that she wants me to be a person who treat people with respect, care, and kindness no matter what their background are. Oh Grandma, I will never forget that. It is a powerful lesson for me as a young kid and gave a huge impact in my adult life.

I just want to let the world knows that I have a wonderful grandmother and I love her so much.

Dampak Jangka Panjang Kilang Minyak Baru di Indonesia

Saya selalu maklum dan berusaha sabar jika melihat perkembangan Indonesia. Negara ini sudah lama dijajah, baik bangsa luar (penjajah) maupun bangsa sendiri (Soeharto and friends), sehingga saat pada akhirnya kita benar-benar merdeka di tahun 1998, kita tidak bisa langsung dapat berjalan dengan tegap. Kita seperti bayi yang sedang belajar merangkak. Walaupun belum bisa berjalan dengan gagah seperti bangsa lain, paling tidak sedikit demi sedikit kita terus berusaha lebih baik.

Seperti dalam masalah kebutuhan minyak negara. Dalam postingan saya yang sebelumnya, PT Pertamina sebenarnya memiliki 7 kilang minyak namun karena alasan ekonomis, satu kilang tidak dioperasikan lagi. Karena hanya memiliki 6 kilang minyak, maka tentu saja minyak yang dihasilkan tidak memenuhi kebutuhan minyak untuk bangsa yang boros ini. Mau tak mau pemerintah harus memilih import dan dicap antek asing.

Sebagai pemerintah, mereka tidak boleh ngambek jika diomelin dan dikatain antek asing melulu. Mereka harus tetap berputar otak agar dapat menyediakan minyak untuk kebutuhan bangsa tetapi juga melepaskan ketergantungan dari negara lain. Disini pemerintah melakukan beberapa hal, salah satunya pembangunan kilang minyak baru yaitu New Grass Root Refinery (NGRR) di Tuban. Jika pembangunan ini sukses, maka diperkirakan kapasitas produksi kilang minyak yang dioperasikan Pertamina menjadi dua kali piat dan kualitasnya pun akan jauh lebih baik. Bahkan ada kemungkinan Indonesia dapat menjadi bangsa pengekspor minyaknya. 

Tak hanya bermanfaat bagi produksi minyak, namun pembangunan kilang minyak di Tuban juga diharapkan bermanfaat bagi pembangunan manusia disana. Adanya kilang minyak baru diperkirakan akan menyerap sekitar 50 ribu tenaga kerja, khususnya di Tuban. Kilang minyak juga akan membuka peluang UMKM dan beasiswa maupun pelatihan untuk pelajar disana.

Sama seperti bayi yang sedang merangkak, kita adalah bangsa yang sedang tertatih-tatih berjalan menuju kemajuan dan kemandirian. Karena memerlukan waktu dan kerja keras, maka kita harus bersabar dan berfikir optimis. Tidak adil jika kita memaksa bangsa ini harus segera maju dan langsung hebat hanya dalam waktu 19 tahun setelah reformasi. Tambah tidak adil lagi jika kita ngomel saat minyak habis, ngomel saat minyak mahal, ngomel saat import, tetapi memakai minyak dengan boros dan bahkan menggunakan minyak subsidi pemerintah. Maka kita harus mengapresiasi rencana pemerintah dengan Pertamina ini. Cukup dengan turut melakukan perubahan konsumsi dengan tidak boros dan memiliki pemahaman bahwa segala sesuatu membutuhkan waktu dan proses yang lama.

Tetapi negara tetap butuh rakyatnya untuk kritis mengawasi pemerintah atas segala keputusannya. Kita memang harus selalu berfikir positif dengan rencana-rencana pemerintah namun juga waspada. Segala rencana dan niat baik pasti ada kelebihan maupun kekurangannya. Yang kita ketahui saat ini hanya kelebihannya, antara lain bertambahnya kapasitas produksi minyak yang dapat memenuhi kebutuhan minyak bangsa, bertambahnya kualitas minyak, adanya kemungkinan ekspor minyak, penyerapan puluhan ribu tengara kerja di Tuban, terbukanya peluang UMKM, dan pemberian beasiswa maupun pelatihan untuk pelajar di sana.

Namun kira-kira, apa ya kelemahan dari pembangunan kilang minyak di Tuban ini? Yuk diskusi di kolom komentar. :)

Mengawasi Pemerintah dalam Swasembada Minyak

Sama seperti Ahok yang sekarang dicurigai akan menguasai Indonesia bersama orang-orang Cina, Jokowi juga pernah dicurigai akan mengutamakan pihak asing di atas kepentingan bangsa. Keduanya dicurigai saat mereka sedang dalam masa kampanye pemilihan Gubernur DKI dan presiden. Apakah betul demikian? Bisa jadi. Namun dalam tulisan saya 3 tahun yang lalu, saya pernah mengatakan, jika kita merasa Jokowi tidak bisa membela kepentingan bangsa di atas kepentingan asing, maka kita akan dapat dengan lantang tanpa rasa takut untuk mengkritisinya. Dan hal tersebut telah kita lakukan dalam 3 tahun terakhir setelah kemenangan Jokowi di pilpres 2014: kita terus mengkritisinya.

Mengkritisi harus dilakukan oleh warga sebuah bangsa untuk terus menjaga kinerja pemerintahnya. Namun untuk dapat mengkritisi pemerintah, kita harus memulainya dari memberi kepercayaan, memiliki kemampuan memahami masalah, rajin mengamati kinerja pemerintah, dan mendukung atau menolaknya. Dengan demikian, kita dapat berlaku adil. Kita jadi tahu mana keputusan pemerintah yang harus kita apresiasi dan dukung, dan mana keputusan pemerintah yang harus kita tolak dan pertanyakan.

Sensi tapi Butuh

Keputusan pemerintah yang berhubungan dengan pihak asing adalah keputusan yang sangat sensitif bagi bangsa ini. Terlalu lamanya kita dijajah pihak asing membuat kita selalu ketakutan dan penuh curiga. Bagi saya, ini adalah sikap yang baik untuk bangsa agar kita tidak mudah dijajah kembali. Namun kecurigaan dan sikap negatif tanpa memiliki kemauan dan kemampuan memahami masalah dapat berujung negatif untuk diri sendiri.

Seperti contohnya keputusan pemerintah mengimpor bahan bakar minyak dari Singapura dan Malaysia. Bahkan kita sudah sangat amat tergantung dengan mereka. Dalam satu tahun, kita membutuhkan kurang lebih 72 juta liter BBM, padahal Pertamina hanya mampu memberikan kontribusi sebesar 39 juta liter BBM. Tak ada jalan lain, kita harus mengimpor bahan bakar. Kalau tidak impor, bagaimana kita bisa hidup? Di sisi lain banyak yang berkoar anti asing, di sisi lain butuh impor dari mereka. Gimana dong?

Sensi tapi Butuh dan Boros lalu Marah-marah :|

Kita sensi dengan keputusan pemerintah yang terus mengimpor. Padahal keputusan itu yang paling masuk akal untuk memenuhi kebutuhan kita. Tak hanya butuh, tapi kita juga boros menggunakannya. Tak mau menggunakan kendaraan umum, memilih bepergian dengan kendaraan pribadi. Bahkan satu keluarga memiliki kendaraan masing-masing. Kita ini sensi tapi butuh dan boros. Kemudian saat subsidi BBM dikurangi, kita pun marah-marah protes ke pemerintah. 

Masyarakat marah dan protes kepada keputusan pemerintah itu harus, namun harus diimbangi dengan kemampuan memahami masalahnya. Jika hanya marah tapi di sisi lain tak memahami masalah dan justru turut menciptakan masalah, ini bukan sikap yang adil. Bukan pula sikap yang dibutuhkan untuk memperbaiki bangsa.

Solusi dari Pemerintah

Jokowi ingin melepaskan Indonesia dari ketergantungan BBM dengan pihak asing, atau dengan seksinya mereka sebut swasembada bahan bakar minyak untuk mewujudkan nawacita. Memang hal ini terdengar baik untuk bangsa dan kita harus percaya niat baik mereka. Namun walaupun kita percaya, kita tetap harus memahami dan mengamatinya.

Indonesia memiliki PT Pertamina dalam mengoperasikan kilang minyak di Indonesia. Sebenarnya mereka memiliki 7 kilang minyak namun karena alasan ekonomis, satu kilang tidak dioperasikan lagi. Sehingga saat ini hanya memiliki 6 kilang minyak. Kapasitas produksi keenam kilang minyak itu 1.05 juta barel per hari. Namun pada pelaksanaannya, dari keenamnya hanya dapat menghasilkan 800-950 ribu barel per hari.

Tentu saja angka tersebut tidak cukup bagi bangsa yang boros BBM ini. Sehingga kita butuh mengimpor dari negara asing. Ini menyebabkan rasio ketergantungan kita akan import dari tahun ke tahun meningkat antara 33-44% dan menguras devisa negara. Mau nggak mau kita butuh pihak asing. :|

Kemudian pemerintah mengeluarkan solusi melalui Pertamina dengan melakukan 2 hal. Pertama proyek pengembangan kilang minyak yang sudah ada dan kedua proyek pembangunan kilang minyak baru yaitu New Grass Root Refinery (NGRR) di Tuban dan Bontang. Kedua proyek akan membutuhkan dana sekitar 500 triliun rupiah dan selesai dalam waktu 7 tahun (yaitu di tahun 2023). Jika pembangunan ini sukses, maka diperkirakan kapasitas produksi kilang minyak yang dioperasikan Pertamina menjadi 2.2 juta barel per hari, dari yang tadinya hanya 1.05 juta barel per hari.

Mengkritisi Solusi Pemerintah

Solusi pemerintah ini terdengar hebat dan menjanjikan, namun kita harus terus mengamatinya dan mengkritisinya. Pertama, dana yang dikeluarkan. Apapun pengeluaran pemerintah, walaupun hanya untuk membeli secarik kertas, harus selalu kita awasi. Karena itu uang milik kita semua, maka menjadi hak kita untuk ikut campur. Apalagi jika ini adalah mega proyek senilai 500 triliun rupiah dan dilaksanakan oleh banyak pihak. Kita harus menagih transparansinya dan membandingan wujudnya dengan dana yang telah kita keluarkan.

Kedua, adanya pihak lain selain Pertamina dalam melaksanakan mega proyek ini. Dalam berita di Detik ini, disebutkan bahwa Pertamina juga bekerja sama dengan perusahaan minyak dan gas yang sudah memiliki reputasi internasional. Tapi siapa? Kita tahu banyak perusahaan asing maupun dalam negeri yang memiliki reputasi baik dalam berbisnis, namun sebenarnya memiliki reputasi buruk dalam bekerja sama. Jadi masyarakat harus tahu dengan siapa saja pemerintah dan Pertamina bekerja sama.

Percaya Pemerintah Indonesia dan Pertamina

Saya percaya dan ingin masyarakat menaruh kepercayaan tinggi kepada pemerintah Indonesia maupun Pertamina, bahwa mereka akan melakukan pembangunan mega proyek ini dengan bersih dan niat baik untuk bangsa. Agar kebutuhan masyarakat jadi tercukupi, dengan biaya yang lebih ekonomis, dan tak lagi tergantung pihak asing.

Semoga kepercayaan dan upaya kami dalam mengamati kinerja pemerintah menjadi bahan bakar untuk mereka dalam menjalankan tugasnya yang mulia.

Mas Pandji, Ini Tidak Gampang

Notifikasi Path saya hari ini menyajikan Blast from the past alias foto-foto yang saya post pada masa lalu. Salah satu foto membuat saya kangen berat: berdiri di sebelah Mas Pandji Pragiwaksono, berdua tersenyum lebar, memiliki pandangan dan posisi politik yang sama. Di postingan itu dengan bangganya saya menulis,

Semua orang dicium tangannya kalo salaman sama Mas Pandji. Bikin geli. Dulu habis makan bareng kru Provocative Proactive, kita dianterin pulang ke rumah masing-masing. Dia juga selalu mengingatkan anak muda untuk nggak lupa sejarah, nggak buta politik. Kalo ngomong jelas, logis, pede, lucu, to the point, dan yang terpenting cerdas. It's my pleasure to know him. One of the best Indonesians!

Benar-benar tepat 3 tahun yang lalu saya post foto itu. Namun saya tidak menyangka 3 tahun kemudian saya menulis artikel yang berseberangan dengan Mas Pandji ini. Tentu saja saya tidak menginginkan semua orang memiliki pandangan politik yang sama dengan saya. Bangsa ini tidak akan maju jika hanya memiliki satu suara saja. Namun saat seseorang memiliki pandangan politik yang bertolak belakang dari pandangannya sebelumnya, ini yang sangat menggelisahkan saya.

Dahulu bersama-sama kami berada di posisi melawan Prabowo dan kelompok radikal seperti FPI agar tidak menguasai negri ini. Namun hari ini Mas Pandji berada di deretan mereka. Ini sama mengejutkannya jika misalkan Jonru tiba-tiba berada deretan kelompok nasionalis. Sama-sama akan mengecewakan teman-temannya. Sekali lagi, mengecewakan bukan karena berbeda, tetapi karena begitu bertolak belakang dari sebelumnya.

Banyak orang yang mengatakan Mas Pandji melakukan ini semua untuk uang. Saya tidak pernah bisa mempercayainya. Saya tidak percaya Mas Pandji semurahan itu. Namun saya masih tidak paham dan masih ingin berusaha paham: kenapa Mas Pandji berada di sana bersama Prabowo dan FPI?

Bukan kah mereka adalah kelompok yang tidak dapat ditolerir lagi? Saya tahu orang yang salah tidak selalu harus dimusuhi. Tapi juga bukan berarti merangkulnya, membuat mereka semakin besar kepala dan berjaya. Apakah bijak jika kita merangkul kelompok intoleran tanpa bersikap tegas kepada mereka? Apakah bijak berada di satu kubu dengan mereka dan memberikan jalan kepada mereka untuk menguasai negri ini?

Sulit untuk mempercayai Anies merangkul Prabowo dan FPI untuk mempersatukan bangsa, karena itu semua ia lakukan sebelum menjadi pemimpin. Bahkan sekali lagi, tanpa membuat pernyataan tegas bahwa ia tidak menolerir perbuatan mereka. Anies pun tidak terlihat merangkul kelompok lainnya, terutama minoritas. Maka salah kah saya jika berfikir sikap Anies merangkul mereka bukan untuk mempersatukan tetapi hanya untuk mendapatkan dukungan? Salah kah saya kecewa dengan sikap seorang Mas Pandji yang menolerir ini semua?

Apalagi saat saya membaca artikel Mas Pandji yang ini. Saya sangat resah. Dimana Mas Pandji yang saya kenal logis, lucu, to the point, dan cerdas? Dimana Mas Pandji yang selalu mengingatkan anak muda untuk nggak lupa sejarah, nggak buta politik? Kami semua disini sangat sedih, Mas. Kami semua kangen kamu. Tapi saya akan lebih sedih lagi kalau tidak memiliki kesempatan menjawab artikelmu. Semoga kita tidak bermusuhan setelah ini. Karena saya yakin dirimu bukan orang yang akan memusuhiku walau kita berseberangan.

Mari Bicara Anti Korupsi

Saya kaget membaca tulisan Mas Pandji itu. Terutama di bagian siapa saja yang mendukung Anies Baswedan dalam Pilkada DKI 2017 ini. Padahal saya yakin Mas Pandji tahu betul dengan istilah logical fallacy. Logical fallacy adalah sesat logika atau kecacatan dalam bernalar.

Mas Pandji mengatakan ada 4 orang mantan pimpinan KPK yang mendukung Anies dan tak ada satu pun yang mendukung Ahok. Lalu Mas Pandji memberikan kami pertanyaan “kritis yang sederhana”: Kalau memang Pak Basuki bersih dari korupsi, kenapa tidak ada satu pun mantan pimpinan KPK yang secara terbuka mendukung beliau?

Mas Pandji pasti pernah mendengar istilah logical fallacy tipe argumentum ad populum, yaitu sebuah sesat logika yang berfikir bahwa sebuah pendapat atau tindakan akan benar jika banyak yang menyakininya atau mendukungnya. Ya tentu saja sesat karena ini membuat orang yang sebenarnya tak bersalah menjadi diputuskan bersalah hanya karena kebanyakan orang menyebutnya salah. Atau membuat orang yang bersalah menjadi benar hanya karena kebanyakan orang mendukungnya.

Padahal ini bukan sebuah sidang dengan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Ini hanya sebuah pendapat atau tindakan yang dinilai sekelompok orang saja. Salah atau tidaknya seharusnya tidak bisa kita nilai hanya berdasarkan banyak-banyakan. Salah atau tidaknya hanya bisa kita nilai berdasarkan bukti dan saksi yang telah disumpah. Apa jadinya jika sesat logika seperti itu terus dipelihara? Orang seperti saya akan dibunuh jika berada di tengah para umat ekstrimis. Mereka merasa darah saya halal dan mereka merasa tindakan mereka benar karena banyak yang setuju saya dibunuh. Seram kan?

Jadi seharusnya kita bertanya: apakah jika Anies didukung 4 orang mantan pimpinan KPK membuatnya bersih? Apakah jika tidak ada yang mendukung Ahok membuatnya kotor? Tentu saja jawaban untuk keduanya adalah tidak. Bersih atau tidaknya seseorang tidak bisa dinilai dari banyaknya orang menghakiminya.

Mari Bicara Keteladanan

Saya lebih menghormati mereka yang berbicara kasar tapi untuk membela kebenaran daripada mereka yang berbicara santun tapi untuk merangkul yang salah. Lebih baik memaki-maki penjahat daripada berbicara halus tetapi mendukung kelompok intoleran. Ini yang terjadi pada Ahok dan Anies.

Ahok memang berkata kasar dan terkadang saya sendiri pun tidak tega melihat saat ia mendaprat seseorang habis-habisan. Tapi mari kita melihat sesuatu lebih dalam lagi, kepada siapa ia marah-marah? Tak satu pun saya pernah melihat ia marah-marah kepada mereka yang benar. Ia selalu marah-marah kepada mereka yang terbukti bersalah, apalagi mereka yang bersalah dalam bekerja melayani rakyat.

Mas Pandji bertanya, apakah kita boleh maki-maki orang hanya karena kita benar? Untuk menjawab itu, kita harus tahu apa dulu masalahnya? Jika hanya karena seseorang melakukan sesuatu kesalahan yang tidak disengaja, tentu tidak baik jika kita memakinya. Tetapi jika seseorang melakukan kesalahan dengan sengaja apalagi merugikan banyak orang, tentu saja orang itu layak untuk kita maki. Itu lah yang dilakukan Ahok. Ia tidak asal memaki semua orang karena dirinya merasa benar. Ia hanya memaki orang yang terbukti bersalah merugikan rakyat.

Apakah Ahok teladan yang baik? Tentu saja. Bangsa ini sudah lama dilanda rasa takut untuk bersuara, apalagi untuk melawan yang salah. Adanya tokoh-tokoh pemberani membuat kita bersemangat untuk tidak tinggal diam jika melihat ketidakadilan. Begitu senangya kita melihat Jokowi, Risma, Ganjar, maupun Ahok memarahi dan menindak para oknum yang jahat. Begitu bahagianya kita saat ada polisi yang dengan tegas tanpa rasa takut melawan kelompok radikal. Kita membutuhkan tokoh-tokoh yang dapat menunjukkan bahwa keberanian adalah bensin membela kebenaran. Tanpa keberanian kita tidak bisa melawan ketidakadilan. Mereka adalah tokoh-tokoh yang membuat kita malu jika memilih tinggal diam karena takut melawan yang salah. Itulah yang disebut teladan.

Sementara Anies, ia memang sangat santun dalam berbicara. Tapi apakah isinya baik? Dahulu ia selalu membuat saya terharu dan bersemangat dari ucapannya. Saya ingat saat ia berpidato di UGM mengenai Indonesia Mengajar tahun 2013. Saat itu ia membuat saya bersemangat untuk berkontribusi lebih banyak lagi untuk negri ini. Saya juga ingat saat ia membela Jokowi di Mata Najwa tahun 2014. Saat itu Anies membuat saya semakin percaya diri melawan ketidakadilan Orde Baru karena dengan beraninya ia menyatakan sikap melawan Prabowo. Padahal saat itu tak satu pun tokoh besar berani melakukannya. Keduanya sangat inspiratif, karena cara berbicara maupun isinya baik untuk bangsa ini.

Hari ini Anies masih santun dalam berbicara. Ketawanya pun sangat halus dan sopan. Tapi bukan kah menilai seseorang tidak hanya dari penampilan namun juga isinya? Jadi bagaimana isi Anies? Mengecewakan. Lagi-lagi bak Jonru tiba-tiba jadi nasionalis, Anies tiba-tiba berpendapat yang bertolak belakang dengan pendapatnya dahulu. Tak hanya itu, ucapannya pun tak sesantun cara berbicaranya. Seperti saat ia bertamu di markas FPI Petamburan.

Seperti yang selalu Mas Pandji katakan, Anies adalah figur pemersatu bangsa. Tapi sekali lagi saya tanya, apakah merangkul kelompok intoleran tanpa bersikap tegas terhadap mereka adalah sikap mempersatukan? Jika ingin mempersatukan, dimana sikap Anies terhadap kelompok minoritas seperti umat nasrani atau keturunan Chinese?

Figur pemersatu juga seharusnya berkata yang adil kepada rakyatnya. Saya akan setuju Anies disebut figur pemersatu jika apa yang ia ucapkan dalam pertemuannya dengan FPI berbunyi,

Wahai Habib Rizieq dan kawan-kawan, Anda semua adalah saudaraku. Tapi Anda harus tahu bahwa umat agama lain juga saudaraku. Kalian memiliki hak yang sama dengan mereka dalam beribadah dan berpolitik. Maka hormatilah mereka dan saya juga akan memastikan mereka menghormatimu. Wahai Habib Rizieq, pastikan umatmu berlaku adil di negri ini. Saya akan berada di barisan terdepan jika Anda diperlakukan tidak adil. Namun saya lah yang akan pertama menindak Anda jika Anda bertindak melawan hukum.

Namun sayangnya tidak. Di depan FPI, Anies tidak mengajak FPI untuk berlaku adil dan menjaga persatuan. Justru pujian-pujian terhadap keturunan Arab lah yang ia katakan. Bukan kah itu akan membuat kelompok radikal seperti FPI semakin merasa benar untuk berlaku tidak adil terhadap ras dan agama lain? Tak hanya itu, isi pidato Anies mengenai sejarah keturunan Arab di Indonesia pun banyak yang luput tidak sesuai kenyataan sejarah. Seperti yang ditulis Mas Zen RS disini. Ya, hari itu ia menyebarkan sejarah yang salah dan membuat kaum radikal di Indonesia semakin besar kepala. Maka layak kah jika Anies disebut teladan yang baik? Layak kah disebut figur pemersatu?

Tadinya saya memang lebih menghormati mereka yang berbicara kasar tapi untuk membela kebenaran daripada mereka yang berbicara santun tapi untuk merangkul yang salah. Namun Ahok pernah berkata, “keduanya tidak ada yang lebih baik.” Jadi ia akan berusaha berubah agar lebih baik lagi. Sehingga nantinya ia tak hanya membela kebenaran namun juga santun dalam berucap.

Mari Bicara Kebijakan Reklamasi

Dalam tulisan Mas Pandji, ada link yang menulis mengenai Kronologi Reklamasi Teluk Jakarta. Dalam kronologi tersebut disebutkan bagaimana berbagai peraturan bermunculan sampai akhirnya diteruskan oleh Ahok. Mas Pandji tau bagaimana selama ini saya selalu berusaha melawan penyiksaan terhadap binatang dan perusakan lingkungan. Namun bagaimana posisi saya menanggapi reklamasi yang akan merusak lingkungan hidup daerah Jakarta Utara tersebut?

Pertama, reklamasi jelas merusak lingkungan, tapi apa yang bisa kita lakukan melawan keputusan presiden? Satu yang perlu selalu kita ingat: bukan Ahok yang memulai rencana ini, tetapi Soeharto dalam Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 1995. Sejak 1995 hingga sekarang rencana reklamasi ini terus bergulir. Ada nama SBY, Sutiyoso dan Fauzi Bowo ikut terlibat dalam perjalanan izin reklamasi, sampai akhirnya berada di tangan Ahok.

Mas Pandji berargumen seakan semua pengembang itu ada setelah Ahok menjabat. Padahal pengembang itu ada sejak zaman gubernur sebelumnya. Mas Pandji menyebutkan, pulau A,B, C, D, dan E adalah milik PT. Kapuk Naga Indah, satu grup dengan Agung Sedayu. Ya memang benar. Tapi sekali lagi mereka ada bukan sejak Ahok. Dalam link yang Mas Pandji share, nama PT Kapuk Naga Indah dalam reklamasi sudah ada sejak Fauzi Bowo menjabat tahun 2010. Jadi mari bersikap adil dengan tidak menujuk Ahok sebagai biang keladi yang berpihak kepada pengembang.

Selain itu, disebutkan bahwa reklamasi memang menjadi wewenang Gubernur DKI. Tapi sampai dimanakah wewenangnya? Apakah Gubernur DKI berwewenang untuk menghentikannya secara permanen? Apakah seorang gubernur dapat melawan surat keputusan presiden? Reklamasi memang menjadi wewenang Gubernur DKI namun bukan kah hanya sampai pada urusan perizinan, bukan penghentian proyek?

Seperti kata Mas Pandji, baca baik-baik di tanggal 12 Desember 2013 sampai 23 Dessember 2014. Saya setuju, mari kita baca dengan baik-baik. Karena jika tidak, kita akan dengan mudah menyangka Jokowi tidak memperpanjang izin reklamasi dan menghentikannya, sementara Ahok memperpanjang izin reklamasi dan memulai bencana. Padahal dalam artikel itu, ada suatu link berita menyebutkan alasan Jokowi tidak memperpanjang reklamasi.

Kompas: Dia (Jokowi) ingin melakukan kajian mendalam terlebih dahulu soal megaproyek itu. Sebab, di atas pulau buatan itu, rencananya akan ada 500.000 tenaga kerja, 1 miliar meter kubik air bersih, serta sejumlah infrastruktur seperti bandar udara dan pelabuhan yang baru. Artinya, ia ingin proyek berpihak kepada rakyat, bukan developer. "Karena Pemprov DKI juga mau investasi di sana, sebagian itu akan jadi milik kita sehingga sedang kita kaji dulu semua," ujarnya (Jokowi).

Jokowi menyebutkan bahwa Pemprov DKI akan berinvestasi disana dan sebagian akan jadi milik kita. Akan? Berarti bagi Jokowi, reklamasi memang akan tetap terlaksana? Bahkan Jokowi menyebutkan rencananaya akan ada ribuan tenaga kerja dan infrastruktur. Rencananya? Ya memang reklamasi ini sudah direncanakan akan terus berlanjut. Tetapi perlu dikaji ulang sehingga untuk sementara izinnya tidak diperpanjang. Jika sudah dikaji, maka reklamasi berlanjut. Asalkan satu: hasil kajian berpihak kepada rakyat, bukan developer.

Nah sekarang, kepada siapakah Pemprov DKI berpihak? Kepada siapakah Ahok berpihak? Dalam artikel kronologi tersebut juga menyertakan link keputusan Ahok dalam reklamasi tahun 2014. Kita semua dapat membaca, dalam keputusan itu Gubernur DKI meminta kewajiban dan kontribusi pengembang sebagai berikut:

Kewajiban

  1. Menyediakan prasarana, sarana dan utilitas dasar yang dibutuhkan dalam pengembangan kawasan Pantura antara lain jaringan jalan baik dalam maupun antar pulau, angkutan umum massal, jaringan utilitas, infrastruktur pengendali banjir, Ruang Terbuka Biru, Ruang Terbuka Hijau, dan sempadan pantai, serta sarana pengelolaan limbah cair dan padat
  2. Pengerukan sedimentasi sungai sekitar pulau reklamasi.

Kontribusi

  1. Memberikan kontribusi berupa pengerukan sedimentasi sungai di daratan
  2. Memberikan kontribusi lahan seluas 5% (lima persen) dari total luas lahan areal reklamasi nett yang tidak termasuk peruntukan fasos/fasum untuk diserahkan kepada Pemerintah Provinsi OKI Jakarta.

Dan ada tambahan kontribusi untuk revitalisasi Kawasan Utara Jakarta berupa penyediaan rumah susun, penataan kawasan, peningkatan dan pembangunan jalan, pembangunan infrastruktur banjir termasuk pompa dan rumah pompa, waduk, saluran dan pembangunan tanggul Program NCICD Tahap A, yang besarannya sesuai nilai yang akan ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.

Jika sudah membaca keputusan izin reklamasi oleh Ahok di atas, sekali lagi saya tanyakan, kepada siapakah ia berpihak? Pengembang atau DKI Jakarta? Karena tak dapat menghentikan reklamasi, maka Jokowi dan Ahok berinisiatif untuk membuat reklamasi itu berpihak kepada negara, kepada rakyat. Dengan membebankan pengembang dengan berbagai kewajiban dan kontribusi yang bermanfaat untuk DKI Jakarta.

Namun jika memang Anies dan Mas Pandji tidak setuju dengan reklamasi, seharusnya apa yang dilakukan seorang gubernur DKI terhadap keputusan presiden itu? Bagaimana cara menghentikannya? Pertanyaan ini sudah pernah ditanyakan Ahok dalam debat terakhir, namun sayang, Anies tak menjawabnya.

Mari Bicara Penggusuran

Mas Pandji menyebutkan mengenai sidang penggusuran Bukit Duri yang dimenangkan warganya. Lagi-lagi argumen Mas Pandji menyiratkan Ahok bersalah. Dalam hal ini bersalah dalam mengambil lahan tanah milik warga Bukit Duri. Padahal ada dua hal yang harus diluruskan. Pertama, penggusuran atau normalisasi Kali Ciliwung di daerah Bukit Duri adalah proyek Pemerintah Pusat. Bukan proyek Pemprov DKI, bukan proyek Ahok. Posisi Pemprov DKI disini hanya sebagai pelaksana.

Kedua, sidang yang Mas Pandji sebutkan adalah sidang PTUN, yaitu Pengadilan Tata Usaha Negara. Tak banyak yang tahu bahwa PTUN itu berbeda dengan Pengadilan Negri. Sesuai dengan namanya, sidang PTUN berarti sidang terkait prosedur atau administrasi. Dalam pelaksanaan penggusuran warga di Bukit Duri, Satpol PP melakukan kekeliruan yang kemudian dituntut warga dan dikabulkan PTUN. Jika warga Bukit Duri memenangkan sidang PTUN, maka mereka menang dalam hal prosedur penggusuran, bukan dalam hal hak tanah. Maka dari itu Pemprov DKI masih melanjutkan penggusurannya. Bahkan putusan PTUN itu pun belum berkekuatan hukum tetap sehingga Pemprov DKI belum tentu bersalah.

Saya jadi penasaran, kenapa penggusuran selalu dianggap tidak adil? Jika prosedurnya merugikan dan terjadi kekerasan, saya setuju itu tidak adil. Tetapi jika memang warga menempati tanah ilegal, bukan kah tidak adil jika membiarkannya?

Beberapa bulan lalu saya berkesempatan ke daerah bekas pasar ikan, depan Museum Bahari. Daerah di depan museum itu sudah rata dengan tanah. Tidak seperti sebelumnya yang penuh bangunan kumuh. Sekarang hanya penuh sisa-sisa sampah berserakan. Saat itu lah saya baru tahu bahwa para mantan penghuni rumah kumuh disana sebenarnya membangun rumahnya bukan di atas tanah melainkan di atas sampah. Daratan tempat mereka tinggal sebenarnya sebuah sungai yang luas. Namun zaman dahulu para warga menguruknya dengan sampah lalu menempatinya untuk tempat tinggal dan pasar. Jadi mereka tidak hanya tinggal di tanah ilegal, tapi bahkan literally mereka tidak tinggal di atas tanah. Lalu kenapa bertahun-tahun pemerintah membiarkannya? Bahkan memberikan mereka surat tanah legal, aliran listrik, dan ledeng? Bukan kah ini menyalahi aturan dan patut untuk diadili?

Saya justru melihat keputusan pemerintah memberikan rusun kepada mereka yang dahulu menempati tanah ilegal adalah keputusan yang tidak adil. Bayangkan dahulu kala ada 2 orang yang tidak memiliki uang untuk membeli tanah. Satu orang (si A) memilih membangun bangunan liar di tanah ilegal, namun satu lagi (si B) memilih untuk idealis dengan pulang ke daerah asalnya untuk menaati peraturan. Setelah bertahun-tahun, si A justru dipindahkan ke rusun yang layak dan mendapatkan sewa murah, sementara si B gigit jari iri dan berfikir, "kenapa dahulu aku tidak menyalahi aturan saja dan bisa mendapatkan rusun sewa murah?" Ini seperti memberikan reward kepada mereka yang salah dan membuat mereka yang menaati peraturan menyesali keputusan baiknya. Namun saya paham, pemerintah tak mungkin menggusur warganya tanpa memberikan alternatif tempat tinggal sehingga pemberian rusun pun harus dilakukan.

Dengan melihat masalah ini dengan lebih luas, menurut Mas Pandji, apa yang seharusnya dilakukan seorang gubernur melihat banyak warganya tinggal di atas tanah ilegal? Program apa yang akan dilakukan Anies untuk memperbaiki tata kota, menanggulangi banjir, dan meningkatkan hajat hidup warganya secara bersamaan?

Mari Bicara Program Anies

Mas Pandji menjelaskan dengan detail dan mudah dipahami mengenai program kerja Anies dalam bidang tempat tinggal, pendidikan, dan wirausaha. Sayangnya itu semua tidak dijelaskan dengan detail dan mudah dipahami oleh Anies sendiri. Berkali-kali kami bertanya, ya Bapak akan melakukan perubahan tapi bagaimana caranya, Pak? Tapi saya tak pernah mendapatkan jawabannya. Seperti kami tak mendapatkan jawaban mengenai apa yang akan Anies lakukan terkait reklamasi dan penggusuran.

Selain itu, butuh kehati-hatian dalam memahami program kerja Anies. DP 0 Rupiah untuk kredit murah bagi warga Jakarta misalnya. Pertama, mungkin banyak yang mengira kata “rumah” berarti rumah satu atap. Namun dalam program ini, yang dimaksud “rumah” adalah “rumah susun” sederhana subsidi pemerintah dengan harga sekitar Rp350 juta. Kedua, warga diharuskan menabung 2,3 juta per bulan selama 6 bulan terlebih dahulu agar bisa ikut dalam program ini. Kemudian warga harus mencicil Rp2,3 juta per bulannya selama 20 tahun. Sewa Rusunawa yang hanya Rp300 ribu per bulan saja banyak warga yang menunggak. Bagaimana jika harus membayar cicilan sebesar Rp2,3 juta per bulan selama 20 tahun? Ketiga, jika di tengah jalan warga tak mampu membayar cicilan, apa yang akan dilakukan Anies? Masak iya menggusurnya? Keempat, warga harus bisa memiliki uang sebesar Rp13,8 juta dalam 6 bulan untuk kemudian mulai mencicil rumah susun tersebut selama 20 tahun. Lalu apa bedanya Rp13,8 juta itu dengan DP?

Mas Pandji juga mengatakan “Anies yang paling tau tentang pendidikan”. Tapi kata siapa? Karena jika memang ia paling tau, kenapa justru dia diberhentikan dari kursi Menteri Pendidikan? Apakah karena politik sehingga orang bersih tidak bisa bertahan di kursi jabatan? Lalu kenapa Ibu Susi dan Ibu Sri yang terkenal bersih dan pekerja keras masih ada di kursi menteri? Kenapa Anies dan Sudirman Said diberhentikan?

Lagi-lagi Mas Pandji juga membuat argumen dengan memberikan informasi yang salah dan menuntun para pembacanya untuk menghakimi bahwa Ahok melakukan kesalahan. Seperti saat Mas Pandji memberikan link ini: keluhan Pak Basuki mengenai KJP yang sering disalah gunakan. Dalam artikel itu Ahok mengeluhkan soal banyaknya dana pendidikan yang disalahgunakan warga untuk kepentingan di luar pendidikan, seperti karaoke. Namun artikel tersebut adalah artikel tahun 2015. Sudah dua tahun yang lalu. Bagaimana Pemprov DKI di bawah kekuasaan Ahok menyiasatinya tahun ini? KJP tidak boleh lagi ada yang tunai. Semua harus non-tunai sehingga warga tak memiliki kesempatan untuk menyalahgunakannya. Jadi apa yang diresahkan Mas Pandji sebenarnya sudah dibereskan Ahok.

Sementara apa solusi Anies dalam masalah penyalahgunaan dana pendidikan ini? Anies akan membagi periode turun uangnya setiap tahun ajaran baru. Sehingga uangnya turun tepat ketika kebutuhan akan pendidikan sedang mendesak. Tapi pertanyaannya, bagaimana jika ada kebutuhan lain yang lebih mendesak dari pendidikan, seperti misalnya makan? Bagaimana pula jika orang tua siswa tidak peduli dengan pendidikan anaknya dan lebih memilih memakai uangnya untuk kebutuhan lain? Dengan solusi dari Anies ini, penyalahgunaan dana pendidikan tetap akan terjadi karena warga tetap memiliki kuasa atas uang tunainya.

Lain lagi dengan program Anies soal wirausaha, OKE OCE. Ada beberapa masalah. Seperti Anies menjanjikan bantuan berupa modal untuk warganya yang ingin berwirausaha. Masalahnya, siapa yang akan mendapatkan modal dan bagaimana mekanisme seleksinya? Anies juga menjanjikan bimbingan wirausaha. Tetapi siapa yang akan memberikan bimbingan? Terakhir, Anies menjanjikan bantuan pemasaran. Tetapi bagaimana bentuknya? Apa bedanya jika kita menjual dagangan di platform jualan online seperti Jualo.com, Tokopedia, Bukalapak, dan Lazada?

Saya khawatir pemilih Anies hanya terpesona dengan janji-janji program yang begitu fantastis namun pada kenyataannya tidak lebih baik dari program Pemprov DKI saat ini. Mas Pandji, kita bukan sedang adu gengsi dan menang-menangan siapa yang benar kan? Kita sedang berdiskusi siapa kah calon pemimpin yang betul-betul dapat membangun warganya kan? Jika memang demikian, apakah bijak menjanjikan program kerja yang sebenarnya tidak lebih baik dari yang sekarang?

Mari Tidak Hanya Bicara

Saya tidak pernah setuju bahwa seseorang yang berbicara juga harus mampu bekerja. Seakan semua orang harus berperan sebagai pelaksana. Padahal setiap orang memiliki kemampuan dan peran masing-masing. Ada yang sangat cerdas, memiliki banyak gagasan, mampu membuat rencana yang hebat, tapi tidak memiliki kemampuan dalam melaksanakannya. Atau bahkan mereka hanya mampu beridato inspiratif, membuat orang lain semangat bekerja, seperti Mario Teguh. Apakah dia salah? Tidak. Karena peran dia adalah menciptakan gagasan, inovasi, rencana, atau sekedar menciptakan rasa nyaman. Di sisi lain, ada orang tak memiliki ide, tak mampu membuat rencana, ucapannya tidak menyenangkan, tapi ia mampu menjadi pelaksana yang cekatan dan tersruktur. Apakah dia salah? Tidak juga. Karena peran dia adalah pelaksana.

Menurut saya Anies adalah tipe pertama. Ucapannya menyejukkan dan membuat pendengarnya bersemangat. Tetapi ia tidak terbukti mampu melaksanakan tugas. Justru hasil kerjanya patut dipertanyakan karena telah diberhentikan dari kursi menteri. Bahkan anak buahnya pun mengeluhkan kinerjanya.

Bagaimana dengan Ahok? Ahok adalah tipe pertama. Ia mampu menciptakan gagasan-gagasan baru yang bermanfaat bagi rakyat. Seperti bagaimana caranya menanggulangi banjir hingga bagaimana caranya membangun infrastruktur tanpa mengurangi dana pemerintah agar dana pemerintah terfokus dalam subsidi untuk warganya. Tapi Ahok juga masuk pada tipe kedua. Ia mampu melaksanakan gagasan dan rencana yang dibuatnya. Beberapa sudah dapat dinikmati dan beberapa masih dikerjakan. Dari titik banjir sudah berkurang hingga infrastruktur seperti trotoar pun bisa ia bangun dengan dana dari swasta.

Tak hanya memiliki gagasan dan mampu melaksanakannya, Ahok juga mampu mendengarkan. Setiap harinya ia membuka pintu untuk semua orang yang ingin mengeluhkan masalahnya kepadanya. Bahkan karena kasihan, Ahok menyediakan kursi-kursi di balkon Balaikota agar warga dapat duduk sambil menunggunya datang. Saya pernah bertanya kepada Ahok saat berkesempatan membuntutinya seharian, kenapa pada zamannya Balaikota dibuka untuk umum? Ia menjawab,

Saya kira saya kan pegawai, ini rumah rakyat. Kita pegawai ya harus kasih lah. Kayak ini, surat semua yang masuk, saya mau baca semua. Saya harus ngerti. Mau surat tembusan saya juga mau tau. Duduk disini membaca ini semua laporan, jadi mengerti.

Jadi Mas Pandji, pemimpin bekerja tidak hanya lewat bicara, namun juga lewat kemampuannya mendengarkan, memahami masalah, menciptakan program kerja dan melaksanakannya. Apakah Anies mampu melakukannya? Apa bukti ia mampu melakukannya?

Mas Pandji Tak Perlu Khawatir

Pernah kah Mas Pandji mendengar ucapan Ahok ini?

Kalo saya tidak terpilih lagi, jangan khawatir. Jabatan saya berakhir Oktober 2017 kok. Jadi sisa satu tahun ini percayakan pada saya saja. Saya kerjanya cepet kok. Nggak ada saya pun nggak usah khawatir. Saya sudah bikin peraturan, siapa pun yang jadi gubernur, asalkan jujur dan kerja nyata tidak nyolong, pasti lancar. Maka jika ada yang lebih nyata dari saya, lebih rajin, lebih hebat, pilih dia saja.

Itu adalah ucapan Ahok di depan warga DKI tahun 2016 lalu sebelum ia cuti bekerja. Jika memang Mas Pandji tidak berkenan Ahok meneruskan pekerjaannya, maka tak perlu khawatir. Ia sudah pasrah dan menyerahkan semua itu kepada Mas Pandji dan warga Jakarta lainnya. Ia pun berjanji akan menggunakan sisa masa kerjanya dengan sebaik mungkin dan bekerja dengan secepat mungkin. Ia juga memastikan telah membuat peraturan agar siapapun gubernur yang warga Jakarta percayakan setelahnya akan bekerja dengan lancar. Asalkan gubernur setelahnya bekerja nyata dan tidak nyolong.

Sekali lagi Mas Pandji tak perlu khawatir. Silakan pilih pemimpin yang pandai berbicara atau pemimpin yang menjanjikan relokasi yang tidak melanggar HAM. Silakan. Namun dengan satu syarat sederhana: jika memang pilihan Mas Pandji lebih baik dari Ahok dalam merawat Jakarta dan manusianya. Kalau dari merunut pendapatnya, mengingat tindakannya, melihat rekam jejaknya dalam bekerja, dan memahami programnya, apakah Anies lebih baik dari Ahok?

Mas Pandji, Ini Tidak Gampang

Menulis artikel ini tidak sederhana, Mas. Banyak data dan informasi yang harus saya cek ulang. Mungkin saya juga luput. Mohon dikoreksi ya, Mas.

Menulis artikel ini sulit, Mas. Saya takut. Takut jika saya salah berucap sehingga menyakiti hatimu dan takut kita akan bermusuhan. Tapi saya lebih takut lagi jika para pembacamu mengamini semua argumenmu dengan mentah-mentah tanpa tau apa saja yang luput dan memahami masalah dengan lebih detail. Maka saya putuskan untuk menulsi artikel ini dan menyebarkannya.

Menulis artikel ini tidak gampang, Mas. Apalagi kali ini aku harus berseberangan dengan orang yang sangat aku sayangi.