Thoughts

If You Hate Them, Don't Act Like Them

Saya pernah punya teman yang selalu mengejek saya jelek dan gendut. Jika ada cowok yang tidak ganteng, dia selalu bertanya dengan serius, "itu pacarmu Mit?" Bahkan dia pernah membandingkan betapa jauhnya fisik saya dibandingkan seorang teman cewek lainnya. Padahal awalnya saya berteman dengannya karena kasihan padanya yang seperti tidak punya teman dan punya masalah keluarga yang berat. Tapi dia justru suka mengejek saya. Saya tidak paham mengapa dia begitu jahat. Tapi saya tidak mau mengeluarkan energi untuk marah padanya. Apapun yang membuat sedih dan marah cukup dijauhi saja. Saya pun menjauhinya tanpa perselisihan. 

Lama tak bertemu dan berkomunikasi, tiba-tiba dia...

Read More

Saya Mohon Jangan Netral atau Golput

Saya banyak mendengar bagaimana perasaan saudara-saudara yang masih ragu untuk memilih salah satu capres, atau bahkan ragu untuk memakai hak suaranya di 9 Juli nanti. Terlalu banyaknya konflik membuat saudara-saudara tentu saja merasa sangat muak, semua capres, semua timses, semua relawan sama saja. Semua ngotot, semua marah-marah, semua menjelek-jelekkan capres lawan. Lalu apakah lebih baik netral?

Read More

Hasil Pileg 2014 dan #SotoyPolitik

Me at SotoyPolitikSetelah pileg kemarin, tentu saja banyak yang kaget. Hasil tidak seperti yang diperkirakan. Semua pada tepok jidat terpana. Ternyata tokoh yang diidolakan tak membuat partainya turut menjadi idola. Tak sedikit yang mengatakan rakyat Indonesia sudah mulai rasional, sudah mulai cerdas, nggak bodo-bodo amat. Di #SotoyPolitik, 17 April 2014 kemarin, berkumpulah anak muda membahas pandangannya mengenai politik Indonesia, khususnya hasil pileg 2014. Kami berkumpul di sebuah kafe di Jakarta sambil kopi darat, makan, minum, dan bercanda. Dengan gaya seperti dalam acara Indonesia Lawyers Club TV One, acara ini mempersilahkan semua tamu untuk berpendapat. Seperti kebanyakan pendapat di luar, dalam acara tersebut juga banyak yang mengungkapkan bahwa rakyat Indonesia sudah nggak bodo-bodo amat. Bahwa rakyat Indonesia sudah mulai cerdas dan bijak. Maka dalam kesempatan di acara itu, saya katakan saya kurang setuju jika dikatakan rakyat Indonesia nggak bodo-bodo amat. Walau bukan juga berarti bodo. Tapi menurut saya rakyat Indonesia masih kurang bijak, masih kurang mengingat sejarah.

Hasil pileg 2014 yang menempatkan Partai Golkar di posisi kedua menunjukkan rakyat melupakan bagaimana dahulu Partai Golkar memperlakukan rakyat Indonesia. Dahulu rakyat harus memilih Partai Golkar karena beberapa alasan menyedihkan. Karena takut memilih partai lain selain Partai Golkar atau karena pesimis, memilih partai lain pun yang menang juga akan tetap Partai Golkar. Bahkan di jaman Orde Baru, jaman Golkar, tak mungkin ada segerombolan anak muda berani berkumpul dan dengan bebas berpendapat mengenai pandangan politiknya seperti di #SotoyPolitik kemarin.

Lalu di jaman bebas berpendapat dan berpolitik seperti sekarang, kenapa masih banyak yang memilih Partai Golkar? Kenapa tidak takut pada resiko kembali ke jaman dibungkam? Apakah karena masih banyak yang mengira harus memilih Partai Golkar? Saya  membaca sebuah status Facebook teman ibu saya, bahwa pembantu rumah tangganya mengatakan ia akan memilih Golkar karena itu yang diutus oleh kepala desanya. Apakah hal ini masih banyak terjadi? Jika ya, rakyat masih belum pintar, masih kurang informasi. Atau apakah karena rakyat banyak yang tidak tau masa lalu Partai Golkar? Pemilih muda yang belum pernah merasakan jaman Golkar, mengira jaman Golkar lebih baik dari sekarang? Atau yang terakhir, apakah karena rakyat sudah melupakan dan bahkan memaafkan perbuatan Partai Golkar? Jika ya, kenapa tidak memaafkan partai baru yang terkenal korup, misal PKS atau Demokrat? Kenapa banyak mantan pemilih PKS dan Demokrat berbalik badan dan cenderung memilih partai lainnya? Apakah karena kesalahan kedua partai itu baru saja terjadi sehingga rakyat belum melupakannya? Semua kemungkinan tersebut sangat menyedihkan.

Berbeda dengan pendapat ibu saya. Menurutnya hasil kemarin justru menunjukkan rakyat Indonesia mengikuti informasi. Seperti tahun 2004 lalu, pileg dimenangkan oleh Demokrat dan PKS setelah banyak informasi baik mengenai mereka. Setelah itu Demokrat dan PKS terbukti melakukan berbagai penyelewengan yang merugikan negara. Rakyat mulai meninggalkan mereka dan cenderung memilih PDIP setelah PDIP banyak melakukan tindakan berani. Menurut ibu saya, perubahan pilihan rakyat Indonesia yang drastis ini menunjukkan sebagian besar dari mereka telah mengikuti informasi dan tidak buta politik. Saya setuju. Namun walaupun begitu, urutan kedua tetap Golkar. Apakah rakyat mengikuti informasi namun secara bersamaan melupakan sejarah?

Saya tidak pernah pesimis dengan Indonesia. Bagi saya, Indonesia selalu melangkah lebih maju dan lebih baik. Selalu. Namun jika mengatakan rakyat sudah rasional dan nggak bodo-bodo amat, kok saya rasa masih jauh dari itu. Sebuah tugas yang cukup besar bagi kita semua untuk saling mengingatkan: jangan sekalipun melupakan sejarah. Mari kita saling menyemangati untuk menggali lebih dalam segala informasi mengenai semua calon pemimpin dan wakil kita. Lalu pilih yang terbaik, yang tidak memiliki masa lalu kelam kepada rakyatnya.

PS: #SotoyPolitik akan diadakan kembali. Jika tertarik ikut, tunggu saja kabar terbarunya di @ProvocActive. (:

Partai dan Caleg Pilihanku di 9 April 2014

Hai teman-teman, maaf sudah menunggu rekomendasi partai dan caleg yang terbaik untuk dipilih. Aku membuat ini karena banyak yang nanya. Jika ada yang tidak setuju silahkan. Jika ada yang salah, tolong dikoreksi. Aku Dapil 5 Depok Sleman btw. Bagi yang nggak sama dapilnya, kita hanya sama dalam memilih partai, DPD, & DPR RI.

Untuk partai, aku pilih PDIP. Walau banyak koruptornya, tapi selama ini banyak berita kinerja PDIP khususnya pada toleransi. Partai lain selain terlalu condong pada 1 agama, juga tidak banyak partai yang kuketahui melakukan aksi tegas untuk memperjuangkan toleransi.

Untuk DPD, saya memilih H. Abdul Muhaimin no urut 3, bukan dari partai apapun. Beliau adalah kyai dari Kotagede yang memiliki pesantren. Beliau selama ini memperjuangkan kedamaian beragama, toleransi beragama. Kata ibu, dia suka hengot sama pemuka agama lain. Menunjukkan beliau orang yang liberal. Calon DPD akan bekerja di MPR.

Untuk caleg DPR RI, DPRD DIY, dan DPRD Kab. Sleman, ini yang tricky. Jika kedepannya kita ingin memilih Jokowi sebagai presiden, maka mau tak mau kita harus mendukung semua caleg dari PDIP. Alasanku memilih caleg-caleg berikut ini tidak sekuat seperti alasanku memilih Abdul Muhaimin (caleg DPD) tadi. Alasannya adalah bersih. Untuk DPR RI aku pilih My Esty Wijayati no urut 3. Untuk DPRD DIY aku pilih Bambang Praswanto HP no urut 1. Untuk DPRD Kab. Sleman aku pilih Sri Riyadiningsih no urut 3. Caleg lain bukan tidak bersih, hanya saja ketiga orang inilah yang menurut pengamatan yang terbersih. Silahkan dikoreksi jika mungkin rekomendasi ini salah.

Memilih caleg hanya dari PDIP ini agar PDIP tidak harus banyak koalisi dengan partai lain. Jika koalisi dengan partai lain, nantinya harus memberi kursi mentri pada partai-partai lain yang tidak terlalu bagus, misal yang terlalu condong pada satu agama seperti PKS. Jika tidak koalisi, nantinya Jokowi bisa pilih mentri yang bagus, mentri dengan kemampuan tepat, mentri yang tidak harus dari orang partai. Saya yakin jika Jokowi dan PDIP tidak koalisi dengan partai lain, mereka akan memilih mentri yang tepat. Tidak terpaksa harus milih mentri dari partai koalisi seperti yang telah dilakukan SBY sekarang.

Memang dilema jika caleg dari PDIP tidak begitu meyakinkan. Tapi gimana lagi, ini agar saat Jokowi memimpin nanti tidak keganggu partai-partai berlatar belakang pelanggar HAM, berlatar belakang fanatik agama, berlatar belakang Orde Baru.

Memilih itu tricky, sulit, penuh perjuangan. ): Tapi jika kita menuntut pemimpin berjuang untuk kita, kitalah yang terlebih dahulu berjuang memilih pemimpin yang tepat. Berjuang memilih yang terbaik walau mungkin semua pilihan buruk.

Selamat memilih teman-teman. Terima kasih sudah bertanya, peduli, meluangkan waktu, dan pikirannya untuk pemilihan hari ini. Mari kita berpesta demokrasi. Suatu kemewahan yang tak banyak orang di dunia ini dapat merasakannya.

Mengkritisi Gita Wirjawan

Calon pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki track record baik, yaitu tidak memiliki masa lalu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Hal paling utama untuk menjadi seorang pemimpin adalah ia harus mencintai makhluk hidup, apapun mereka. Sehingga bagi saya, masa lalu seorang calon pemimpin harus bersih dari segala pelanggaran HAM dan tidak tebang pilih karena perbedaan. Selain itu, seorang pemimpin harus sudah selesai dengan dirinya sendiri yang artinya tidak memiliki keinginan apapun untuk dirinya sendiri. Dia sudah puas dengan pasangan hidupnya, dia sudah merasa sangat kaya dengan hartanya, dia sudah merasakan berbagai keberhasilan sehingga tidak membutuhkan pengakuan, dan yang terpenting seluruh mimpinya sudah tercapai sehingga waktunya mewujudkan mimpi orang lain, kepentingan makhluk lain.

Baru-baru ini muncul capres baru yaitu Gita Wirjawan. Banyak yang tidak mengenalinya dan banyak yang sinis karena tiba-tiba ia sering muncul di iklan. Tugas kita mencari informasi lalu share untuk bekal mengkritisi dan memudahkan menentukan pilihan di 2014 nanti. Apakah Gita memiliki track record yang baik? Saya belum berani menjawab. Mari kita nilai bersama-sama.

Dalam kariernya di pemerintahan, sedikit pujian dan banyak kritikan untuk Gita. Pujian untuknya adalah saat ia menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan berhasil mencetak angka investasi asing tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2012 kuartal I. Ini menarik bagi saya karena investasi asing merupakan topik skripsi saya. Dalam skripsi saya menemukan bahwa pertumbuhan investasi, khususnya Foreign Direct Investment (FDI) dari tahun 2000:I hingga 2010:IV masih rendah. Jika pada tahun 2012 Gita mampu meningkatkan investasi asing, artinya ia mampu menciptakan kebijakan yang menyebabkan pihak asing mempercayakan dananya masuk di Indonesia. Investasi asing sangat dibutuhkan oleh negara berkembang seperti Indonesia. Sebab invetasi asing merupakan modal yang sangat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat berujung pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan rakyat.

Kritikan untuk Gita adalah saat menjabat Mentri Perdagangan. Keputusannya untuk mengimpor dipandang merugikan pedagang lokal. Beberapa merasa para pedagang lokal lagi-lagi dikalahkan oleh pedagang asing. Namun perlu diingat bahwa impor adalah solusi permasalahan pasar domestik.  Dimana permintaan barang lebih besar daripada penawaran, yang membutuhkan tempe lebih banyak dari yang memproduksi tempe. Pedagang lokal tidak mampu memenuhi permintaan pasar domestik, sehingga untuk memenuhinya maka pemerintah harus mengimpor berbagai barang sesuai permintaan tersebut. Ini bukan pemerintah tidak melindungi pedagang lokal, hanya saja pemerintah harus memenuhi permintaan pasar dalam negri. Tidak mampunya pedagang lokal memenuhi permintaan pasar domestik disebabkan oleh kegagalan produsen kita dalam memproduksi hasil bumi. Jadi jika kita ingin melindungi pedagang lokal, maka dimulai dengan melindungi produsen dalam negri.

Sementara kritik tajam untuk Gita juga datang dari berbagai kalangan pecinta lingkungan, termasuk dari sebuah grup band asal Bali yaitu Navicula. Mereka mengkritisi Gita pada saat di #IMAYouth. Mereka merasa Gita hanya mengagungkan tingginya tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) dan tidak menyentuh kondisi manusia dan alam yang terus dieksploitasi. Saya sendiri setuju jika angka PDB penting untuk mengukur kesejahteraan rakyat. Akan tetapi kesejahteraan tidak hanya dipandang dari bagaimana tingginya tingkat pendapatan rakyat namun juga bagaimana rakyat dan alam bebas dari eksploitasi. Seharusnya Gita tidak hanya memikirkan keadaan PDB Indonesia saja tetapi juga keadaan manusia dan lingkungannya. Jika Gita sudah merasa Indonesia berhasil meningkatkan pendapatanya, berarti PR pemerintah berikutnya adalah melawan eksploitasi. PR yang mudah jika bangsa ini dipimpin oleh pemimpin yang pemberani. Saya tidak tahu apakah Gita sosok yang pemberani. Namun jika Gita ingin memimpin bangsa ini, seharusnya ia mampu menunjukkan keberaniannya. Satu hal yang belum ia lakukan selama ini.

Lain halnya dengan kehidupan pribadi Gita yang tidak bisa banyak saya ketahui dan kritisi, selain ia memiliki 1 istri dan 3 anak. Kehidupan masa mudanya memiliki ayah yang bekerja menjadi dokter World Health Organization (WHO) di India dan Bangladesh dan kakek yang mendirikan sebuah sekolah besar di Yogyakarta. Selain itu, ternyata sahabat ibu saya adalah sepupu Gita. Ia mengatakan, Gita terbiasa hidup di luar negri karena ia mengikuti ayahnya yang sering bekerja untuk WHO tersebut. Setelah ayahnya selesai bekerja dan pulang ke Indonesia, Gita memilih untuk melanjutkan kuliah di Amerika Serikat hingga S2 di Kennedy School of Government, Harvard University! Satu-satunya fakultas yang saya pikirkan saat ini untuk melanjutkan S2 saya. Setelah selesai studi, Gita menjadi pemimpin di berbagai perusahaan internasional ternama seperti JP Morgan. Kata sepupunya, dari kesuksesannya Gita menjadi seorang yang kaya raya.

Dua hal yang selalu dipandang sinis oleh rakyat: kedekatan dengan pihak asing dan kekayaan. Lama hidup di luar negri dipandang tidak mencintai Indonesia. Mungkin benar, mungkin tidak. Namun yang pasti ia memiliki pengalaman hidup di negara maju untuk dapat dicontoh dalam memajukan Indonesia. Begitu juga dengan seseorang yang kaya akan melupakan wong cilik. Mungkin benar, mungkin tidak. Namun seseorang yang sudah berkecukupan maka seharusnya sudah puas dengan kekayaannya. Seharusnya kemudian ia memikirkan kesejahteraan orang lain. Jadi kembali ke Gita, bagaimana ia memanfaatkan pengalaman dan kekayaannya?

Well, Gita belum menyentuh batas pelanggaran HAM yang sangat saya benci. Kehidupan pribadinya juga terasa baik-baik saja. Pengalaman hidupnya seharusnya dapat menjadi bekalnya untuk memajukan Indonesia. Usahanya dalam karier pemerintahan masih dirasa kurang. Dari segala keberhasilan kehidupan dan kariernya, seharusnya ia sudah merasa selesai dengan mimpi dan dirinya sendiri. Jika memang demikian, seharusnya berikutnya ia berjuang mewujudkan mimpi orang lain, mimpi bangsanya. Mimpi bangsanya adalah rasa aman dari ketidakadilan. Kami sudah sangat haus pemimpin yang berani melawan ketidakadilan. Jika dalam websitenya Gita merasa berani lebih baik, maka kami tuntut Gita tidak hanya berani lebih baik dari pemimpin sebelumnya tetapi juga berani menegakkan keadilan. Berani melindungi yang benar dan melawan yang salah. Apakah Gita berani? Kita tunggu segala tindakannya hingga pemilihan nanti. 

Terlalu Serius

Tidak jarang saya mendapatkan komentar dari beberapa orang tentang betapa seriusnya saya di Twitter maupun dunia nyata. Saya selalu membahas masalah politik dan sosial. Katanya saya terlalu serius. Kadang saya mendapat nada negatif, atau nomention negatif. Beberapa menolak diajak diskusi serius karena tidak mau pusing. Katanya seharusnya hidup saya itu dinikmati, jangan serius-serius amat. Ironisnya, ada seorang teman yang juga menikmati diskusi serius masalah negara menjadi tidak pede untuk ikut berdiskusi. Katanya karena takut dapat sindiran nyinyir. Duh sayang sekali ya? Ada anak muda yang peduli permasalahan negara kok dijatuhkan mentalnya. ): Nada serupa juga sering saya dengar pada pembahasan film-film yang pakai mikir. Bagi saya, film yang pakai mikir itu asyik. Menantang dan menegangkan. Bahkan film mikir itu sering memberi pelajaran-pelajaran hidup yang berharga. Tapi banyak juga yang berkomentar sinis seperti, "mau nonton film kok pakai mikir!"  Bagi saya, tidak masalah tidak menyukai film seperti selera saya. Itu kan selera masing-masing.

Dari situ saya baru sadar, bahwa berdiskusi itu seperti nonton film. Punya selera masing-masing untuk dapat menikmatinya. Ada yang suka berdiskusi masakan, fashion, game, atau politik. Ada yang suka nonton komedi, drama, horor, atau thriller. Bagi saya, asal bisa memahami dan menikmati apa yang didiskusikan atau ditonton, pasti akan menikmatinya. Asal bisa memahami dan menikmati diskusi politik atau film pakai mikir, pasti akan menikmatinya. Jadi tidak perlu terlalu sinis atau mengejek orang yang terlalu serius, yang suka berdiskusi politik. Tak usah menjatuhkan mental mereka. Apalagi mereka yang punya kepedulian terhadap negara. Kita hanya berbeda selera saja. Tidak masalah kan? (:

Persiapan 2014

Awalnya pilihan pemimpin Indonesia 2014 mendatang mengkhawatirkan. Saya tidak punya pilihan. Bahkan salah satu hasil survey calon presiden (capres) menemukan bahwa suara terbanyak dimenangkan oleh golongan putih (golput) atau tidak memilih siapapun. Ironis ya? Mungkin memang pilihan capres dalam survey tersebut terlalu sedikit dan banyak yang tidak meyakinkan sehingga lebih baik memilih golput. Tapi jika kita golput, tentu tidak menyelesaikan masalah negara dan justru memperkeruh. Karena dengan golput artinya kita menyerahkan masa depan kehidupan kita di Indonesia ini kepada orang lain yang belum tentu lebih bijak daripada kita. Ngeri kan? Walau berat, tapi kita tetap harus memilih yang terbaik walau mungkin semua pilihan terlihat buruk. Ini tak selalu mengenai capres tetapi juga calon legislatif di daerah pemilihan kita. Lalu sebaiknya siapa yang harus dipilih? Teman saya memberi saran yang bijak untuk 2014 nanti: kita harus mencari segala informasi dari seluruh calon pemimpin dan kita  pun akan mampu memilih siapakah yang terbaik.  Setelah melewati masa krisis kepemimpinan, sekarang pun berubah. Semakin mendekati 2014, pilihan pemimpin Indonesia semakin banyak. Tidak hanya banyak, namun juga menjanjikan. Tokoh-tokoh baru yang menyegarkan. Sekarang bukan lagi bingung karena tidak ada pilihan, tapi malah bingung karena terlalu banyak pilihan. Tugas kita memilih yang terbaik pun semakin sulit. Tapi akan semakin ringan jika kita saling berbagi informasi dan pendapat. Bukan sharing secara personal mengenai siapa yang akan kita pilih, tetapi sharing informasi para calon pemimpin kita. Semakin banyak informasi yang kita tulis dan share, semakin nampak baik dan buruknya setiap calon pemimpin. Cara ini membantu kita menentukan masa depan kehidupan di Indonesia ini.

Well, euforia 2014 sudah terasa.  Jadi yuk kita mulai merayakannya! Mulai mencari informasi dan saling membaginya. Ini akan sangat asyik. Lebih asyik daripada tidak peduli dan keseret arus saja. (:

 

Percaya Tempo atau Si Jilbab Hitam?

Kabar mengenai tulisan seorang anonim "Si Jilbab Hitam" yang mencoreng kredibilitas beberapa media besar terutama Tempo membuat masyarakat linglung. Selama ini masyarakat sudah menaruh percaya pada Tempo dan media besar lainnya, namun sekarang mereka pun dikabarkan kotor. Sekotor pejabat korup. Setelah membaca dan mendengar kabar ini, pasti banyak yang bertanya, siapa yang harus dipercaya? Banyak yang menganggap jaman sekarang makin edan karena makin sulit menentukan siapa yang harus dipercaya. Sebenarnya jaman tidak makin edan. Jaman sudah edan sejak dulu. Hanya saja di jaman kita, tak ada yang dilarang untuk berpendapat dan menentukan pilihannya. Itu yang membuat jaman ini seperti lebih rumit. Tetapi kita beruntung hidup di jaman yang segala informasinya bisa kita dapatkan dengan mudah, tanpa takut menyebarkannya atau turut menentukan sikap. Hanya ada satu resiko yang harus kita tanggung pada jaman ini: kita harus jago menyikapinya.

Kita tidak perlu sinis dengan jaman ini, atau bahkan skeptis lalu memilih mundur tidak peduli. Justru banyaknya polemik, berita simpang siur, atau berbagai perseteruan yang kita temui itu memberi kita pelajaran berharga. Bahwa tak ada seorang pun di dunia ini yang benar dan bersih. Tak ada seorang pun. Hanya saja setiap orang memiliki perjalanan hidup yang bisa dinilai dan menjadi pegangan kepercayaan kita. Seperti bagaimanapun politikus ingin menjatuhkan nama Jokowi, tapi ia memiliki lebih banyak masa lalu yang baik. Atau bagaimanapun Aburizal Bakrie ingin mencitrakan dirinya, tapi ia memiliki lebih banyak masa lalu yang buruk. Ini dia yang terpenting, mempercayai suatu pihak tidak hanya yang mereka lakukan pada saat ini saja, tetapi juga masa lalunya, track record-nya.

Awalnya menanggapi berita buruk mengenai kredibilitas Tempo amat sulit. Tentu saja ada kesedihan. Media kesayangan yang selama ini memiliki data mengejutkan mengenai praktik curang para penjahat negara ternyata jahat juga. Media yang selama ini berani menyebarkan kebusukan pemimpin dan politisi ternyata busuk juga. Media yang selama ini mengolok para pencuri uang rakyat di cover majalahnya sekarang menjadi bahan olokan juga. Tapi perlu diingat lagi, Tempo selama ini memiliki data-data mengejutkan yang membuka informasi kepada kita maupun aparat negara. Tempo selama ini berani menyebarkan data tersebut agar para penjahat lebih takut melakukan aksinya. Tempo pun selama ini menciptakan cover yang mengolok penjahat-penjahat itu dan membuat kita semakin berani turut menyudutkan agar diadili. Tempo telah membeberkan informasi dan menghidupkan alam demokrasi maupun keberanian masyarakat. Setelah menilik kembali karya-karya Tempo selama ini, untuk sementara berita kebusukan mereka belum mengalahkan track record baiknya. Apalagi berita busuk tersebut hanya ditulis oleh seorang anonim dari antah berantah.

Pluralisme Menyamaratakan Agama?

Beberapa bulan lalu salah satu pembaca blog ini mengirim email untuk mengajak diskusi mengenai pluralisme. Saya senang sekali membacanya. Ini pendapat sekaligus pertanyaan darinya:

Definisi pluralisme seperti di atas sering ditemui di masyarakat kita. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun mendefinisikannya demikian. Sepertinya pluralisme didefinisikan dengan kekhawatiran sehingga berakhir pada kesimpulan yang kurang tepat.

Sejak jaman dahulu perbedaan selalu menyebabkan banyaknya konflik dan korban. Konflik dan korban inilah yang mendorong nenek moyang menciptakan teori cara hidup dalam perbedaan, yaitu pluralisme. Jika kita merunut kembali dengan jeli, pada awalnya teori pluralisme itu ada karena adanya perbedaan. Teori ini ingin melindungi perbedaan. Kita diajak untuk mengakui bahwa perbedaan adalah sesuatu yang alami dan bukan untuk dibuat menjadi seragam. Kita diajak untuk menghormati pilihan orang lain yang berbeda dengan kita. Jika kita berhasil mengakui dan menghormati perbedaan, maka secara alami kita tidak akan ingin mengubah perbedaan tersebut. Secara alami hidup kita akan damai walau bertemu dengan banyak perbedaan. Itulah maksud baik dari pluralisme. Tak terkecuali pluralisme agama.

Pluralisme agama tidak pernah bermaksud untuk menyamaratakan agama, tetapi menyamaratakan hak setiap individu. Setiap individu memiliki hak yang sama walau berbeda keyakinan. Perlu digaris bawahi, pluralisme agama bukan untuk mengurusi keyakinan tiap individu Keyakinan dan pluralisme agama adalah dua masalah yang berbeda. Keyakinan adalah sesuatu yang ada dalam hati kita, sementara pluralisme agama adalah cara untuk berhubungan baik dengan masyarakat yang penuh perbedaan keyakinan. Memang sudah sepatutnya setiap orang meyakini bahwa agamanya adalah agama yang terbaik dari segala agama. Tak seorang pun boleh mengubah keyakinan tersebut. Tetapi sudah sepatutnya pula setiap orang mengakui bahwa orang lain memiliki hak yang sama walaupun memiliki keyakinan yang berbeda. Tak seorang pun boleh mengubah hak tersebut.

Selama ini yang sering terjadi, kita memperlakukan orang lain berdasar keyakinan mereka. Kita memberi hak orang lain berdasar keyakinan mereka. Contoh yang sering terjadi, seorang pemimpin harus beragama X karena di daerahnya mayoritas beragama X. Atau penganut agama Q tidak diperkenankan beribadah karena di daerah itu mayoritas beragama X. Padahal setiap individu memiliki hak untuk menjadi pemimpin atau beribadah, apapun agamanya. Hal-hal tersebut dapat mengusik perdamaian bermasyarakat. Sekali lagi, disinilah pluralisme muncul mengajak kita untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan kita, tetapi juga tetap menjunjung tinggi bahwa hak setiap individu itu sama. Itu saja, sesederhana itu.

Jadi untuk Anda yang khawatir bahwa pluralisme agama akan menyamaratakan agama, tak perlu khawatir. Bukan agama yang disamaratakan, namun hak setiap individu lah yang harus disamaratakan apapun agamanya. Pluralisme agama ada untuk melindungi keyakinan setiap orang, termasuk keyakinan kita. Pluralisme agama ada agar tidak ada penindasan karena keyakinan yang berbeda.  Dengan mengakui hak setiap orang itu sama, maka kehidupan bermasyarakat yang penuh perbedaan akan damai karena tak seorang pun lebih berkuasa atau tertindas.

Menhut: Segera Bertindak Selamatkan Satwa Kebun Binatang Surabaya

Melani KBS
Melani KBS

Namanya Melani, seekor Harimau Sumatera di Kebun Binatang Surabaya (KBS). 

Ia kurus, hanya seperti tulang berbalut kulit. Pada usianya, seharusnya berat normal Melani adalah 100kg, namun beratnya hanya mencapai 60kg. Satu-satunya yang masih mengesankan adalah sorot matanya yang tajam namun butuh pertolongan. Ia tak berdaya dan memilih selalu berbaring di lantai dan rumput. Hampir semua makanan yang ia telan tak dicerna. Selain memuntahkan makanannya, ia juga menderita diare. Bulan lalu, harimau bernama Razak juga mati karena penyakit paru-paru yang disebabkan kandang kecil dan kotor. Sekarang Melani dikhawatirkan usianya tak lagi panjang dan bahkan akan menghadapi euthanasia. Padahal spesies Harimau Sumatera seperti Melani sudah kurang dari 600 ekor di hutan-hutan Sumatera.

Maret 2012 lalu, satu-satunya jerapah koleksi KBS mati di kandangnya karena perutnya penuh dengan plastik. Selain jerapah, nasib buruk juga dialami satwa lain yang hidup bersama puluhan hewan lain di kandang sempit dan kurang pencahayaan, yang hidup di tengah sampah berserakan, dan bahkan tak bisa berteduh karena kandangnya dijadikan kamar sewaan untuk manusia dan pepohonan dijadikan sarana ritual dukun.

Pada pasal 302 KUHP Tentang Perlindungan Hewan yang telah direvisi, kesejahteraan dan keselamatan satwa harus diperhatikan oleh pemilik satwa dan yang diwajibkan mengurusinya. Pasal tersebut dengan jelas mewajibkan pemilik atau pengurus satwa agar memberi makan dan minum yang layak kepada satwa peliharaannya, tidak dengan sengaja menelantarkan satwa peliharaannya, dan tidak dengan sengaja membuat satwa sakit atau terluka ringan hingga menyebabkan kematian. Dalam kasus KBS, jika pengelola KBS melanggar pasal tersebut, maka dapat dituntut dan diancam hukuman penjara 2 - 7 tahun dan denda 5 - 10 juta Rupiah.

Tim Pengelola Sementara untuk perbaikan KBS memang sudah dibentuk. Namun muncul foto dan video yang menunjukkan Melani dengan kondisi memprihatinkan. Apa lagi yang menjadi masalah dalam pengelolaan KBS? Kenapa masih ada satwa KBS yang sengsara? Kabar mengatakan kesengsaraan satwa KBS adalah akibat dari konflik manajemen di KBS. Namun konflik apapun yang terjadi di KBS, kesejahteraan hidup satwa harus tetap menjadi concern utama pengelolanya. Untuk itu kami memohon kepada Bapak Menhut Zulkifli Hasan dan pihak terkait untuk segera menyelamatkan satwa di KBS dan selanjutnya diperlihara sesuai Pasal 302 KUHP Tentang Perlindungan Binatang.

Mari isi petisi ini untuk mendukung Bapak Menhut dan pihak terkait agar segera bertindak menyelamatkan satwa KBS. Mari bersama-sama melindungi para satwa. Bukan hanya karena mereka akan punah, tetapi karena mereka juga makhluk hidup seperti kita yang bisa merasakan sakit dan sengsara. Let's speak up for those who cannot speak.

Petisi: Menhut @Zul_Hasan: Segera Bertindak Selamatkan Satwa Kebun Binatang Surabaya

Terkait:

Petisi Komnas Hewan

Jerapah Mati, Kebun Binatang Surabaya Salah Urus

Jerapah Kebun Binatang Surabaya Akhirnya Mati

Satu Harimau Kebun Binatang Surabaya Mati

Harimau Kebun Binatang Surabaya Diare

Harimau Kurus Kering di Kebun Binatang Surabaya Disorot Australia

Harimau di Kebun Binatang Surabaya Hadapi Euthanasia

Data Terkini Jumlah Harimau Sumatera

Revisi Pasal 302 KUHP Tentang Perlindungan Hewan

Video of Melani oleh Jonathan Latumahina (@tidvrberjalan)