Ayo Turun Tangan Lagi

Apa yang terjadi di pilpres kali ini sungguh di luar tradisi. 9 Juli dinanti tetapi kita harus menunggu 22 Juli untuk mendapatkan hasil resmi. Padahal biasanya, di hari mencoblos, di hari itu pula kita mengetahui siapa pemenangnya lewat quick count. 

Namun karena calon yang kalah tidak mau mengakui kekalahannya, kita harus mengalah dan menunggu pengumuman resmi dari KPU. Hal ini tidak begitu saja membuat kita bersantai dan sepenuhnya percaya hasil resmi KPU nanti. Kita justru takut adanya kemungkinan suara kita dimanipulasi di real count nanti. Akhirnnya kita, khususnya anak muda, turun tangan lagi.

Read More

Saya Mohon Jangan Netral atau Golput

Saya banyak mendengar bagaimana perasaan saudara-saudara yang masih ragu untuk memilih salah satu capres, atau bahkan ragu untuk memakai hak suaranya di 9 Juli nanti. Terlalu banyaknya konflik membuat saudara-saudara tentu saja merasa sangat muak, semua capres, semua timses, semua relawan sama saja. Semua ngotot, semua marah-marah, semua menjelek-jelekkan capres lawan. Lalu apakah lebih baik netral?

Read More

Anda Termasuk Ingin Dipimpin Oleh yang Mana?

Banyaknya calon pemilih presiden yang masih ragu memilih biasanya karena tidak tahu betul, kita termasuk ingin dipimpin oleh pemimpin yang mana? Untuk saudara-saudara yang masih ragu, tulisan berikut mencoba membantu kita menjawab pertanyaan tersebut. Namun blog post kali ini spesial karena diisi oleh penulis tamu yaitu ibu saya, Noor Rahmani, dosen di Psikologi UGM.

***

Rakyat Indonesia berada pada masa peralihan.

Sebagian orang Indonesia masih menginginkan pemimpin seperti raja, kuat, berani melawan musuh, jagoan di medan perang, melindungi rakyat dari serangan musuh, bagi-bagi rejeki dan hadiah pada rakyat yang baik, hingga menghukum yang jelek. Dialah yang paling tahu kebutuhan rakyat. Rakyat cukup patuh saja.

Pada akhir pemerintahannya, situasi kacau karena tidak ada lagi figur yang kuat untuk menentukan siapa yang salah, siapa yang benar. Tidak ada lagi yang bagi-bagi hadiah dan tidak ada yang tegas menghukum yang salah. Situasi chaos terjadi power struggle.

Sebagian orang Indonesia telah menyadari pentingnya kepemimpinan modern. Pemimpin yang mampu menciptakan sistem pemerintahan yang mengatur seluruh aspek kehidupan bernegara, sistem yang menegakkan keadilan, menggugah kreativitas, dan motivasi berprestasi rakyatnya. Ia kemudian mengawal berjalannya sistem itu dan mengawasinya.

Pemimpin ini duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan rakyat, bisa dikritik, bisa menerima masukan, bahkan ingin menerima masukan dari rakyat. Negara yang dipimpinnya menjadi negara yang maju, modern, dihormati bangsa-bangsa lain. Pada akhir kepemimpinannya, ia mewariskan sistem yang tinggal dikawal oleh pengganti dan seluruh rakyatnya. Agar sistem bisa terus berjalan, termasuk mekanisme bagi perbaikan sistem oleh rakyat.

Semua negara maju dipimpin oleh model yang ke-2. Pemimpin model raja seperti yang pertama adalah sejarah masa lalu. Anda termasuk ingin dipimpin oleh yang mana?

Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia

Yang Terhormat Mbak Tasniem Fauzia,

yang dulu sangat saya kagumi sebagai kakak kelas di SMP 5 Yogyakarta.

Mungkin Mbak lupa siapa saya. Panggilan saya Mimit. Saat saya kelas 1 dan Mbak Tasniem kelas 3, kita mendapat kursi bersebelahan untuk mengikuti ulangan umum. Saya ingat betul, Mbak selalu meminjam pensil saya, lalu pulpen saya, lalu penghapus saya, kemudian Mbak berbisik, "sorry ya Dek, aku kere..." Saya tertawa senang mendengarnya. Karena saat itu Mbak Tasniem adalah anak dari Ketua MPR, Amien Rais.

Kita sering mengobrol saat ujian. Dari situ Mbak tau saya fans berat grup musik The Moffatts. Kita bercerita mengenai pengalaman kita nonton konser The Moffatts. Saya nonton yang di Jakarta, Mbak yang di Bandung. Beberapa hari kemudian, Mbak jauh-jauh jalan dari kelas Mbak untuk mendatangi kelas saya, lalu memberikan foto-foto The Moffatts yang Mbak jepret di Bandung. Saya senang sekali. Sampai sekarang foto itu saya simpan.

Setelah Mbak sudah SMA dan saya masih SMP, saya sempat bertemu dengan Mbak di sebuah toko buku. Saat itu Mbak memakai celana baggy hijau dan kaos band berwarna hitam. Mbak terlihat tomboy dan sederhana. Dengan senyum Mbak membalas sapaan saya. Saya yakin, di toko buku itu tak ada yang tau bahwa Mbak Tasniem adalah anak seorang Ketua MPR.

Berulang kali saya ceritakan tentang sosok Mbak Tasniem yang saya kenal dan kagumi. Saya ceritakan ke ibu saya, ke teman-teman saya, ke siapapun jika sedang membicarakan anak pejabat. Karena Mbak berbeda dengan anak pejabat lainnya, saya bangga pernah mengenal Mbak Tasniem.  

Namun maaf Mbak, kekaguman saya buyar setelah membaca surat terbuka Mbak untuk Jokowi, 26 Juni 2014 lalu. Karena surat itu tidak seperti surat dari Mbak Tasniem yang saya kenal humble, sederhana, dan jujur. Jika saya berpikiran dangkal, tentu saja saya akan berfikir Mbak menulis itu karena Mbak adalah anak dari Amien Rais, pendukung Prabowo. Namun saya menahan diri untuk tidak berfikir seperti itu dulu.

Read More

Ayah Bimo Petrus: Saya Bangga Punya Anak Seperti Bimo

Setelah menulis artikel Rangkaian Penculikan dan Keterlibatan Prabowo, saya menjadi ingin bertemu dan ngobrol dengan keluarga korban penculikan yang masih belum kembali. Salah satunya saya berencana menemui keluarga Petrus Bimo Anugrah di Malang.

Namun Kamis 26 Juni 2014 lalu, tidak saya duga, saya bisa bertemu ayah Bimo, Pak Oetomo Raharjo di Jakarta. Ia ke Jakarta untuk menghadiri Aksi Kamisan yang ke-357. Dalam aksi tersebut, Pak Tomo diberikan waktu untuk berorasi di depan istana negara. Sambil menunjuk ke istana, Pak Tomo berteriak,

Read More

Rangkaian Penculikan dan Keterlibatan Prabowo

Selama ini, ada 3 poin perdebatan dalam masyarakat mengenai Prabowo Subianto dalam kasus penculikan 1997-1998:

  • Aparat Prabowo menangkap atau menculik?

  • Apakah Prabowo terlibat?

  • Apakah Prabowo sudah mengundurkan diri, diadili, dan dinyatakan tidak bersalah?

Fadli Zon dan Adian Napitupulu pernah berdebat mengenai istilah ‚Äúpenangkapan‚ÄĚ atau ‚Äúpenculikan‚ÄĚ terhadap aktivis. Menurut Fadli, pada saat itu aparat melakukan penangkapan. Sedangkan menurut Adian, penangkapan tanpa surat penangkapan adalah penculikan. Mereka juga memperdebatkan keterlibatan dan status Prabowo atas kasus penculikan 1998.

Di tengah masyarakat, perdebatan ini juga tak kunjung selesai karena terlalu banyak informasi yang membuat masyarakat tidak dapat menilai dengan jelas. Tulisan ini mencoba menggabungkan berbagai temuan dari Ringkasan Eksekutif Hasil Penyelidikan Tim Ad Hoc Komnas HAM, kesaksian keluarga korban, surat kabar, majalah, dan rekaman video. Temuan dibuat menjadi timeline agar runtutan kejadian lebih mudah dipahami dan dinilai untuk kemudian dapat menjawab 3 pertanyaan besar kita.

Read More

Isu Konspirasi AS-China-Jokowi dari @TrioMacan2000

10 Mei 2014 lalu saya bertemu dan makan siang bersama @TrioMacan2000. Dalam kesempatan itu ia menjelaskan kepada saya mengenai latar belakang politik Jokowi sejak 2007 dengan membuatkan bagan di papan tulis. Berikut bagan yang dituliskan oleh @TrioMacan2000 yang diijinkan untuk saya foto.

Kepada saya, @TrioMacan2000 menceritakan bagaimana Jokowi sudah direncanakan untuk menjadi presiden sejak 2007. Tidak tanggung-tanggung, perencanaan Jokowi menjadi presiden ini adalah hasil konspirasi antara James Riady yang memiliki kedekatan dengan militer China dan petinggi AS. Bahkan rencana ini juga merupakan konspirasi dengan Stanley Greenberg. Dimana Stan juga disebut @TrioMacan2000 pernah bekerja sama dengan James di Arkanas sebagai otak kemenangan Clinton sebagai presiden AS. Menurut @TrioMacan2000, kedekatan Jokowi dengan berbagai pihak asing ini bahaya karena pada akhirnya bisa "menjual" bangsa kita.

Read More

Pengalaman Menyaksikan Final Debat Konvensi Demokrat

Hari Minggu, 27 April 2014 lalu, saya mendapat kesempatan untuk hadir menyaksikan Final Debat Konvensi Partai Demokrat di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta. Saya sungguh excited hingga ada yang bertanya kepada saya, "memangnya apa istimewanya?" Oh banyak. Selain saya jadi bangun pagi di Hari Minggu, saya juga jadi bisa menemui berbagai macam hal dalam acara ini yang tidak diliput di tv. Hal baik maupun hal buruk.

Suasana hotel pagi itu penuh sesak seperti suasana konser musik. Tidak anggun, tidak seperti sebuah acara penting. Mungkin karena terlalu banyak supporter. Walau setiap kandidat hanya memiliki 50 kursi untuk supporter, namun banyak tim sukses kandidat yang memasukkan supporter lebih dari 50. Hasilnya banyak supporter yang berdiri dan ramai. Butuh waktu beberapa lama untuk meminta dan bahkan menertibkan para supporter yang berdiri di tengah-tengah untuk mundur dan tidak berisik. Entah kenapa mereka yang tidak memiliki tempat duduk tidak dipersilahkan keluar saja.

Read More

Empat Mata dengan Gita Wirjawan

image (1)

Sejak reformasi 1998, rakyat Indonesia mulai mendapatkan kebebasan memilih dan berpendapat dalam berpolitik. Tahun 2004, 6 tahun setelah reformasi, rakyat akhirnya bisa memilih presidennya secara langsung.

Saya tak mau Indonesia kembali seperti sebelum reformasi 1998. Kembali di jaman dimana kebebasan berpendapat itu sesuatu yang mengerikan dan bahkan tidak mungkin. Saya ingat betul bagaimana reaksi ibu saya saat pemilu tahun 1997. Saat itu saya berumur 9 tahun. Ibu saya keluar dari bilik tempat menyoblos dan ada yang bertanya ibu saya memilih apa. Sambil sedikit terkekeh, ibu berkata, "ya milih apalagi kalo bukan yang itu." Saya bingung dan bertanya kepadanya kenapa harus memilih yang itu? Kata ibu, tidak ada gunanya milih partai lain karena yang menang pasti yang itu juga. Ibu juga mengaku diwanti-wanti oleh seseorang agar memilih partai itu. Ini membuat ibu takut karena sedang sekolah di luar negeri. Saya heran. Ibuku perempuan paling pemberani di dunia ini, kok bisa takut?

Jaman sekarang hal ini sudah tidak ada lagi. Justru kadang tidak disadari masyarakat sebagai suatu kemewahan. Bahwa kita dapat memilih tanpa rasa takut, tanpa pesimis. Tak banyak orang di dunia merasakan kemewahan ini. Karena saya tak mau Indonesia kembali seperti sebelum 1998, maka saya --dan tentu saja seluruh rakyat Indonesia- harus betul-betul mencari informasi, siapa pemimpin yang paling tepat untuk Indonesia? Siapa pemimpin yang tidak akan menyeret kita kembali ke jaman yang mengerikan itu?

Berbagai kesempatan mencari informasi seperti; membaca berita dan sejarah, ngobrol dengan keluarga dan teman, dan lain-lain sering saya lakukan. Namun saya ingin lebih. Lalu sebuah ide muncul di November 2013 lalu. Saya ingin mewawancarai capres dan menulis hasil wawancara saya di blog. Gratis tanpa fee buzzing. Saya melihat Gita Wirjawan yang paling memungkinkan karena beliau dekat dengan beberapa teman saya. Maka saya berkali-kali meminta kesempatan untuk menemui Gita empat mata saja. Akhirnya, awal April lalu kesempatan itu datang. Saya diberi kesempatan bertemu empat mata dengan Gita Wirjawan dan bertanya mengenai apapun. I’m very excited!

Kami sepakat bertemu tanggal 11 April 2014 di suatu tempat di Senayan. Setelah sampai di tempat dan menunggu beberapa menit, akhirnya saya dipersilahkan masuk ke ruangannya. Saat itu beliau mengenakan kemeja batik merah, sport jacket, dan sepatu keds. Kami berjabat tangan dan beliau mempersilahkan saya duduk. Awalnya beliau bingung saya ini siapa. Lalu saya jelaskan saya adalah blogger lulusan ekonomi UGM yang concern pada HAM dan kesejahteraan hewan. Saya pernah menulis tentang beliau dan juga mentions beliau di Twitter mengenai kesejahteraan hewan. Baru setelah itu beliau ingat dan mulai mempersilahkan saya untuk bertanya. Karena waktu yang diberikan sekitar 45 menit, maka saya putuskan untuk bertanya 3 pertanyaan saja.

***

Pertanyaan pertama adalah sesuatu yang sangat penting untuk menilai seorang pemimpin. Di Indonesia, ada dua pandangan terhadap reformasi. Pandangan bahwa reformasi sebagai kemajuan Indonesia atau pandangan bahwa reformasi sebagai kemunduran Indonesia. Bagaimana seseorang memandang reformasi bisa menunjukkan bagaimana orang tersebut menghargai demokrasi. Saya ingin mengetahui bagaimana Gita menghargai demokrasi. Maka dari itu, pertanyaan pertama saya adalah, "Bagaimana Bapak memandang reformasi? Sebuah kemunduran atau kemajuan?"

‚ÄúTentu saja kemunduran,‚ÄĚ jawab Gita dengan mantab. Saya sedikit bingung dan meminta beliau menjelaskan mengapa menurut beliau reformasi adalah sebuah kemunduran. Beliau menjawab, ‚ÄúMaksudnya dalam segi apa? HAM kan? Kalo dari segi HAM tentu itu suatu¬†kemunduran.‚ÄĚ Maka saya jawab, ‚ÄúYa tentu saja. Selain itu, setelah reformasi apakah menurut Bapak, Indonesia menjadi lebih maju atau justru mengalami kemunduran?

Menurut Gita, Indonesia menjadi lebih maju setelah reformasi. Indonesia menjadi negara demokrasi. Walaupun kata beliau, masyarakat Indonesia masih kurang rasional dalam memilih, tepatnya masih memakai emosi saat memilih. ‚ÄúNamun dari hasil pileg kemarin, masyarakat Indonesia sudah cukup rasional,‚ÄĚ tambahnya.

‚ÄúLalu bagaimana caranya agar masyarakat menjadi masyarakat yang rasional dalam memilih? Apakah dengan pendidikan?‚ÄĚ tanya saya. Beliau menggelengkan kepala. Beliau jelaskan, selain pendidikan, media berperan penting dalam menciptakan masyarakat yang rasional dan cerdas dalam berpolitik atau memilih pemimpin. Beliau memberi contoh pada banyaknya tayangan sinetron, infotainment, dan lain-lain telah menguasai masyarakat dan membuat masyarakat kurang bijak dan rasional dalam berpolitik. Tayangan semacam ini lebih sering muncul di televisi karena dikuasai oleh¬†brand.¬†Brand-brand¬†mengusai tayangan televisi dengan hanya memasang iklan di tayangan yang laku ditonton oleh masyarakat Indonesia. Padahal sinetron itulah yang laku di Indonesia.

Atas penjelasan tersebut, saya bertanya, ‚ÄúBagaimana caranya menghentikan tayangan semacam itu menguasai televisi Indonesia?‚ÄĚ Beliau mengatakan bahwa seharusnya ada peraturan porsi penayangan di televisi Indonesia untuk membatasi agar¬†brand¬†tidak menguasai pada tayangan-tayangan tertentu saja.

Beliau menambahkan, ia mempercayai kinerja¬†strong center¬†dalam kepemimpinan Indonesia.¬†Beliau menjelaskan, strong¬†center¬†adalah bagaimana pemerintah pusat dengan tegas mengendalikan kebijakan fiskalnya (kebijakan fiskal adalah usaha pemerintah dalam mengendalikan pendapatan dari pajak dan juga mengendalikan pengeluaran negara). Jika presiden Indonesia mampu mengendalikan kebijakan fiskalnya dengan kuat, maka ia mampu mengendalikan seluruh Indonesia. Sebagai contoh, presiden memberikan dana kepada pemimpin suatu daerah untuk membangun jembatan. Jika dana tersebut tidak digunakan dengan tepat oleh yang bersangkutan sesuai yang direncanakan, maka dana akan ditarik, tidak akan diberi dana lagi, dan malah yang bersangkutan akan dilaporkan ke KPK. ‚ÄúHarus ada yang namanya¬†reward and punishment,‚ÄĚ tambah Gita.¬†Kemudian beliau justru bertanya, "Nah siapa pemimpin yang berani seperti itu?"

Kemudian saya melanjutkan pada pertanyaan kedua, tentang Aksi Kamisan. Saya bertanya apakah beliau mengetahui tentang Aksi Kamisan. Sayangnya beliau belum pernah mendengarnya. Lalu saya ceritakan apa itu Aksi Kamisan dan siapa yang memulainya (bagi pembaca yang belum mengetahui aksi ini, saya pernah menulisnya di sini). Saya ceritakan kepada beliau bahwa Aksi Kamisan dimulai sejak 2007, dengan ratusan surat untuk SBY, tapi hingga sekarang belum juga ditanggapi.

Mendengar cerita tersebut, beliau hanya terdiam dengan memberikan ekspresi sedih. Kemudian saya bertanya, "Jika Bapak jadi presiden, apa yang bisa Bapak lakukan?" Beliau menjawab bahwa minimal ia akan menemui mereka dan dari pertemuan itu akan dilanjutkan dengan rencana apa yang bisa dilakukan pemerintah. Saya penasaran dan bertanya, ‚ÄúMenurut Bapak, kenapa pemimpin sekarang dan sebelumnya tidak mampu menyelesaikan masalah ini?‚ÄĚ Beliau katakan bahwa kita tidak perlu memandang masa lalu. Cukup memandang bagaimana ke depannya.

Karena waktu yang sangat mepet, saya harus dengan cepat melanjutkan ke pertanyaan terakhir saya, yaitu mengenai kesejahteraan hewan di Indonesia. Saya tanyai beliau apakah benar beliau baru saja membeli kucing. Beliau membenarkannya dan justru menambahkan bahwa beliau juga memiliki kelinci. Saya tanyakan sekali lagi, apakah beliau memiliki binatang peliharaan dengan cara membeli? Dan beliau mengiyakan. Dengan kecewa saya katakan kepada beliau bahwa seharusnya beliau tidak membeli karena jumlah kucing dan anjing di Indonesia ini sudah over populasi. Beliau pun kaget dan meminta data populasi kucing. Saya janjikan untuk memberikannya di lain waktu. Maka saya sarankan kepada beliau agar beliau mengadopsi, bukan membeli dari breeder. Saya juga katakan kepada beliau, saya mengharapkan masyarakat bisa diajak untuk lebih memilih mengadopsi, bukan membeli hewan peliharaan.

Lalu Pak Gita menjawab bahwa permasalahan ini juga bisa diselesaikan dengan¬†strong center¬†tadi. Pemimpin dengan kebijakan fiskalnya bisa memberikan dana ke pemerintah kota, meminta pemerintah kota menangkap dan mengurusi kucing liar di kotanya. ‚ÄúMisal jika masih saja ada kucing liar di Senayan, maka dana untuk pemerintah yang bersangkutan diambil, diberi¬†punishment,‚ÄĚ tegasnya.

Lalu saya menanyakan pendapatnya mengenai wacana adanya badan baru untuk melindungi kesejahteraan hewan. Badan ini yang akan melindungi hewan dari penyiksaan atau penyalahgunaan hewan. Beliau tidak setuju. Beliau mengatakan kebanyakan orang disini selalu menyelesaikan masalah dengan badan baru. Padahal menurutnya tidak perlu. Sekali lagi menurutnya dengan adanya¬†strong center, jika ada pemerintah yang tidak melakukan tugasnya, maka diberi¬†punishment.¬†Baginya, begitu saja sudah cukup. Saya pun bingung. Saya tanyakan kepada beliau, ‚Äúbagaimana jika ada kucing yang disiksa? Kemana masyarakat dapat melaporkan?‚ÄĚ Beliau menjawab, seharusnya dilaporkan ke pemerintah kota. Jika mereka tidak menjalankan tugasnya, sekali lagi akan diberi¬†punishment.

Sayang sekali kemudian beliau diingatkan ajudannya untuk sholat Jumat. Obrolan kita berakhir sampai disitu saja. Setelah berfoto bersama dan berjabat tangan, kami pun berpisah. Saya merasa waktu yang diberikan cukup lama dan cukup banyak yang kita obrolkan. Namun banyak pernyataan beliau yang harus saya hormati untuk tidak ditulis disini.

***

Jika menilik kembali jawaban-jawabannya, Gita telah menggambarkan bagaimana ia akan memimpin Indonesia. Beliau berusaha menunjukkan jika menjadi pemimpin ia akan mengendalikan seluruh pemerintahan dengan strong center atau reward and punishment. Seluruh masalah Indonesia dari tayangan media yang tidak mendidik hingga korupsi akan beliau selesaikan dengan sistem strong center. Karena menurutnya, seluruh permasalahan Indonesia dapat terselesaikan jika pemerintah pusatnya, khususnya presidennya, bisa tegas dalam mengendalikan fiskal. Atau dengan kata lain, seluruh permasalahan Indonesia dapat terselesaikan jika presiden bisa tegas mengendalikan pemerintah yang tidak menjalankan tugasnya dengan memberikan punishment. Punishment bisa berupa penghentian dana atau pelaporan penyelewengan ke KPK. Sistem strong center ini menurut saya tepat untuk memimpin pemerintahan Indonesia yang selama ini kacau balau atau bahkan banyak penyelewengan. Menurut saya sistem ini akan mendisiplinkan pemerintah dan juga memberikan efek jera. Namun hal ini hanya tercapai jika sistem ini dipimpin oleh presiden yang benar-benar bersih dan berintegritas. Jika tidak, maka justru sistem ini akan menguntungkan presiden yang korup dan diktator.

Jawaban Gita pada pertanyaan terakhir seputar kesejahteraan hewan tidak memuaskan saya. Saya kurang setuju dengan hanya mengandalkan pemerintah kota dan mengandalkan strong center dari pusat. Kesejahteraan hewan tidak hanya seputar pemerintah mengurusi hewan, namun juga perilaku masyarakat terhadap hewan. Adanya strong center tidak akan membantu melindungi hewan yang disiksa oleh pemiliknya, oleh rumah jagal, atau oleh masyarakat yang memburu binatang yang dilindungi. Contohnya kasus kucing yang ditembaki oleh tersangka Dadang. Sistem strong center tak dapat banyak membantu masalah ini. Masyarakat yang peduli tetap kesulitan mencari cara untuk menghentikan dan menghukum tindakan keji Dadang. Oleh karena itu bagi saya, sistem strong center tidak selalu menjawab semua permasalahan Indonesia. Tetap dibutuhkan badan baru untuk melindungi kesejahteraan hewan Indonesia dari segala siksaan atau penyalahgunaan yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. Baru setelah badan terbentuk namun tidak menjalankan tugasnya dengan semestinya, maka sistem strong center sangat dibutuhkan. Sayang sekali hal ini tidak sempat saya katakan kepada beliau.

Namun di luar setuju atau ketidaksetujuan saya terhadap jawaban Gita, saya sangat senang diberi kesempatan menguasai waktu beliau selama 45 menit. Benar-benar 45 menit ekslusif untuk saya.  Untuk itu saya sangat berterima kasih kepada Pak Gita dan timnya. Semoga capres lain juga berani ditemui oleh saya atau blogger lain untuk ditanyai apa pun agar kami tahu keberanian dan kualitas para calon pemimpin kami.

Pulang dari menemui Pak Gita, saya menyeberangi Senayan di bawah terik matahari yang menyakitkan. Namun hati saya gembira. Saya hidup di negara yang hebat. Tak hanya dibebaskan memilih pemimpin tanpa rasa takut, tetapi juga dibebaskan mengorek kualitas calon pemimpinnya dengan berbagai cara. Bahkan dapat menemui langsung untuk menanyakan apapun. Sebuah kemewahan yang tak dapat dirasakan oleh orang tua saya 17 tahun yang lalu.

Hasil Pileg 2014 dan #SotoyPolitik

Me at SotoyPolitikSetelah pileg kemarin, tentu saja banyak yang kaget. Hasil tidak seperti yang diperkirakan. Semua pada tepok jidat terpana. Ternyata tokoh yang diidolakan tak membuat partainya turut menjadi idola. Tak sedikit yang mengatakan rakyat Indonesia sudah mulai rasional, sudah mulai cerdas, nggak bodo-bodo amat. Di #SotoyPolitik, 17 April 2014 kemarin, berkumpulah anak muda membahas pandangannya mengenai politik Indonesia, khususnya hasil pileg 2014. Kami berkumpul di sebuah kafe di Jakarta sambil kopi darat, makan, minum, dan bercanda. Dengan gaya seperti dalam acara Indonesia Lawyers Club TV One, acara ini mempersilahkan semua tamu untuk berpendapat. Seperti kebanyakan pendapat di luar, dalam acara tersebut juga banyak yang mengungkapkan bahwa rakyat Indonesia sudah nggak bodo-bodo amat. Bahwa rakyat Indonesia sudah mulai cerdas dan bijak. Maka dalam kesempatan di acara itu, saya katakan saya kurang setuju jika dikatakan rakyat Indonesia nggak bodo-bodo amat. Walau bukan juga berarti bodo. Tapi menurut saya rakyat Indonesia masih kurang bijak, masih kurang mengingat sejarah.

Hasil pileg 2014 yang menempatkan Partai Golkar di posisi kedua menunjukkan rakyat melupakan bagaimana dahulu Partai Golkar memperlakukan rakyat Indonesia. Dahulu rakyat harus memilih Partai Golkar karena beberapa alasan menyedihkan. Karena takut memilih partai lain selain Partai Golkar atau karena pesimis, memilih partai lain pun yang menang juga akan tetap Partai Golkar. Bahkan di jaman Orde Baru, jaman Golkar, tak mungkin ada segerombolan anak muda berani berkumpul dan dengan bebas berpendapat mengenai pandangan politiknya seperti di #SotoyPolitik kemarin.

Lalu di jaman bebas berpendapat dan berpolitik seperti sekarang, kenapa masih banyak yang memilih Partai Golkar? Kenapa tidak takut pada resiko kembali ke jaman dibungkam? Apakah karena masih banyak yang mengira harus memilih Partai Golkar? Saya  membaca sebuah status Facebook teman ibu saya, bahwa pembantu rumah tangganya mengatakan ia akan memilih Golkar karena itu yang diutus oleh kepala desanya. Apakah hal ini masih banyak terjadi? Jika ya, rakyat masih belum pintar, masih kurang informasi. Atau apakah karena rakyat banyak yang tidak tau masa lalu Partai Golkar? Pemilih muda yang belum pernah merasakan jaman Golkar, mengira jaman Golkar lebih baik dari sekarang? Atau yang terakhir, apakah karena rakyat sudah melupakan dan bahkan memaafkan perbuatan Partai Golkar? Jika ya, kenapa tidak memaafkan partai baru yang terkenal korup, misal PKS atau Demokrat? Kenapa banyak mantan pemilih PKS dan Demokrat berbalik badan dan cenderung memilih partai lainnya? Apakah karena kesalahan kedua partai itu baru saja terjadi sehingga rakyat belum melupakannya? Semua kemungkinan tersebut sangat menyedihkan.

Berbeda dengan pendapat ibu saya. Menurutnya hasil kemarin justru menunjukkan rakyat Indonesia mengikuti informasi. Seperti tahun 2004 lalu, pileg dimenangkan oleh Demokrat dan PKS setelah banyak informasi baik mengenai mereka. Setelah itu Demokrat dan PKS terbukti melakukan berbagai penyelewengan yang merugikan negara. Rakyat mulai meninggalkan mereka dan cenderung memilih PDIP setelah PDIP banyak melakukan tindakan berani. Menurut ibu saya, perubahan pilihan rakyat Indonesia yang drastis ini menunjukkan sebagian besar dari mereka telah mengikuti informasi dan tidak buta politik. Saya setuju. Namun walaupun begitu, urutan kedua tetap Golkar. Apakah rakyat mengikuti informasi namun secara bersamaan melupakan sejarah?

Saya tidak pernah pesimis dengan Indonesia. Bagi saya, Indonesia selalu melangkah lebih maju dan lebih baik. Selalu. Namun jika mengatakan rakyat sudah rasional dan nggak bodo-bodo amat, kok saya rasa masih jauh dari itu. Sebuah tugas yang cukup besar bagi kita semua untuk saling mengingatkan: jangan sekalipun melupakan sejarah. Mari kita saling menyemangati untuk menggali lebih dalam segala informasi mengenai semua calon pemimpin dan wakil kita. Lalu pilih yang terbaik, yang tidak memiliki masa lalu kelam kepada rakyatnya.

PS: #SotoyPolitik akan diadakan kembali. Jika tertarik ikut, tunggu saja kabar terbarunya di @ProvocActive. (: